Di Sudut Danau Lindu

Jumat, Mei 21

Kala itu saya mendapat undangan dari sahabat wartawan MAL untuk mengunjungi Danau Lindu yang terletak di Kec. Kulawi, Kab. Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah. Mungkin ada yang asing dengan daerah Sigi Biromaru karena daerah ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Donggala. Letak ibukota Sigi Biromaru hingga kini belum berhasil ditetapkan dan masih menjadi silang pendapat antara elit local. Ada yang menginkan terletak di Biromaru namun ada yang menginginkan terletak di Bora. Begitulah Sulawesi Tengah, melulu hanya meributkan letak ibukota tak berkesudahan. Seperti kasus ibukota kab. Morowali dan banggai Kepulauan yang diselesaikan dengan berdarah-darah.

Petualangan Domestik

Jika anda senang dengan petualangan domestik, inilah tempat. Danau Lindu merupakan danau berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Sebuah kawasan yang lebih sering disebut Dataran Lindu dikelilingi pegunungan sehingga sangat sulit untuk dijangkau oleh kendaraan bermotor. Namun keindahan panorama pegunungan dan pemandangan danau menjadikan danau ini memiliki daya tarik tersendiri.

Perjalanan menunju danau Lindu sangat menguras konsentrasi. Bagaimana tidak, setengah perjalanan melintas Taman Nasional Lore Lindu ini menanjak, setengahnya lagi menurun, karena memang berada di ketinggian 200 meter sampai 2.610 m di atas permukaan laut. Sebagian masuk Kabupaten Sigi Biromaru dan sebagian lagi Kabupaten Poso. Jarak antara Desa Sidaunta dengan Danau Lindu sekitar 14 Km yang dapat ditempuh selama 1 jam dengan ojek sepeda motor. Asikk bukan. Sebuah petualangan domestik yang memicu adrenalin.

Melihat keindahan danau…

Saat itu, senja telah mendatangi kawasan Danau Lindu. Aku terpana akan keindahan alam, suara burung yang bersahut serta terpaan angin danau yang menggigilkan tulang. Sambil menatap arah danau, saya bersandar pada kursi panjang terbuat dari kayu eboni. Tanaman khas dari Sulawesi Tengah. Tak lupa sambil menempalkan sebatang rokok di sudut bibir diselingin seruputan kopi hitam.

Tak lama berselang, datang pemuda berkulit sedikit legam menuju ke arahku. Dia menanyakan asal saya darimana. Ku jawab dari Jawa. Hmmm… sebuah awal pembicaraan yang mengandung sara batinku. Lalu perbincangan mulai mengalir, pemuda yang mengaku bernama Stef itu menceritakan tentang kawasan Danau Lindu yang kini menjadi bagian dari Sigi Biromaru dan menjadi kawasan konservasi. Dia juga bercerita tentang hadirnya peneliti dari manca negara yang sok dan angkuh. Ketika saya mencari tahu kenapa dia bisa berkata begitu, dia menjawab bahwa kadang masyarakat sekitar sering diusir dari kawasan penelitian mereka karena dapat mengganggu habita yang sedang diteliti. Aneh memang. Ini menjadi pertanyaan berikutnya jika saya bertemu dengan aparat yang berwenang. Kenapa masyarakat sekitar tidak boleh mendekat. Bukan sok nasionalisme, tetapi sudah banyak kasus aneka hayati kita dibawa ke luar negeri untuk dijadikan obat yang mahal dengan hak patent yang bukan pada kita. Huhhh. Saya jadi teringat kasus penelitian virus flu burung di Sukabumi dibawa ke luar negeri oleh pejabat Depkes yang kini telah menjadi orang nomor satu di Depkes. Hmmm.

Gubrakkkk…..


Selanjutnya.."Di Sudut Danau Lindu"

Tentang BLOG ini

Kamis, Mei 20

Setelah lama absen ngeblog ria, kini saya mulai rajin memposting segala sesuatu baik yang sedikit serius maupun yang biasa saja dan cenderung menjadi cerita sampah. Tidak masalah jika apa yang saya tuangkan didalam blog saya ini tidak menjadi apa-apa. Namanya juga blog saya, isi blog ya terserah saya. Yang penting tidak mengandung sara.

Selama ini saya menjadikan blog saya ini sebagai ajang balas dendam terhadap situasi sekitar untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Seperti istilah citizen journalism, yang arti bebasnya adalah dimana masyarakat dengan berbagai latar belakang pekerjaan memberikan pelaporan pandangan mata melalui tulisan yang kemudian disalurkan melalui berbagai media, salah satunya adalah blog. Itulah awalnya blog News Kidding On The Blog saya bikin. Melaporkan atau menceritakan kembali kejadian di sekitar kita, dengan gaya penulisan saya tentunya.

Kini, saya yang kembali menyalurkan hobby fotografi menjadikan blog saya ini sebagai galeri foto kejadian disekitar. Saya meminjam istilah citizen photography, sebuah kegiatan yang melaporkannya dalam bentuk foto. Berkembangnya teknologi digital di dunia fotografi memudahkan seseorang menggunakan kamera baik kamera saku biasa, kamera prosume maupun kamera DSLR. Dengan kemudahan tersebut, ada istilah “siapapun bisa memotret”.

Jadilah blog ini bercirikan citizen journalism dan citizen photography. Semoga berkenan.

Selanjutnya.."Tentang BLOG ini"

Demopun wajib berhelm SNI ……

Rabu, Mei 19



Selanjutnya.."Demopun wajib berhelm SNI ……"

Membuat Foto

Jumat, Mei 14

Akhir-akhir ini saya melanjutkan hobi saya yang sudah lama tertunda, hobi motret sembarang kejadian. Awalnya saya menggunakan kamera jadul Nikon F80 dengan lensa 28-80mm. Sebuah hobi yang mahal karena harus membeli film dan kemudian mencetaknya. Syukur-syukur kalau hasilnya bagus, bisa dipamerkan sesama rekan penghobi, namun jika hasilnya nge-blur, nge-shake… ataw terlalu terang maupun terlalu gelap… itulah adalah aib yang harus ditanggung.

Setalah era kamera digital, hobi itu kembali tersalurkan. Saya membeli kamera Nikon D90 dengan lensa kit 18-105mm-nya. Kenapa saya harus memilih Nikon? Karena kamera adalah Nikon, bukan yang lain. Banyak juga merek lain seperti Canon yang banyak penggunanya. Namun kembali ke awal tadi, kamera adalah Nikon dan Nikon adalah kamera. Tidak perlu diperdebatkan kenapa harus memilih merek tertentu.

Dengan kamera Nikon D90 saya bisa mengasah kembali sentuhan-sentuhan menekan shutter agar kamera tidak goyang (shake), mempelajari lagi tentang speed, ISO, dan lain-lain. Sungguh menyenangkan. Nikon D90 angat memuaskan. Entah nanti kalau sudah mahir, rasa tidak puas sebagai manusia tentu akan muncul dan akan up grade kamera ke level professional macam D700 ataupun sekalian ke D3S.

Saat inipun saya sudah melengkapi kamera dengan lensa tambahan yakni Nikkor AFS 70-200mm 2.8 dan AF 50mm 1.4D, serta beberapa filter dari Hoya yakni filter UV, ND dan CPL. Sebuah hobi yang cukup mahal memang. Kenapa saya harus melengkapinya dengan lensa tambahan dan filter, itu karena kebutuhan dan kecelakaan. Dibilang kebutuhan karena saya menyukai foto candid yang memerlukan lensa zoom dengan bukaan besar (f2.8). Sedangkan disebut kecelakaan karena pada saat saya ikut acara hunting bersama, muncul rasa iri melihat teman2 sesama penghobi motret membaca peralatan seabreg. Terpaksa merogoh kocek dalam-dalam membeli 70-200mm 2.8 VR dan 50mm 1.4D itu. Makanya saya paling males mengikuti acara hunting bersama karena terkesan pamer peralatan dan obyek fotopun nyaris sama, walaupun sisi positifnya ada. Yakni saling bertukar pengalaman dan berbagi ilmu fotografi.

Perkembangan era digital memang sangat luar biasa. Hasil foto yang awalnya biasa aja kini bisa dimanipulasi dengan berbagai software, dan yang paling banyak digunakan untuk olah digital adalah Photoshop. Munculnya software olahdigital menjadi pro dan kontra namun hal itu kita kembalikan kepada fotografer itu sendiri. Saya sih suka yang natural saja, photoshop hanya saya gunakan bila memang dibutuhkan.

Hasil diskusi dengan para fotografer hebat saat acara workshop atau pameran foto telah membuat saya harus lebih giat lagi menambah jam terbang. Hanya dengan membidik dan membidik obyek foto maka seseorang akan menemukan gaya sendiri dan menjadi mahir. Menemukan gaya sendiri memang susah sama halnya membuat foto. Ya… membuat foto sangat susah. Bagi saya yang fotografer jalanan, masalah moment adalah masalah utama. Bagaimana foto dibuat lalu bisa bercerita dan kalau lebih bagus mengandung pesan-pesan moral didalamnya. Istilahnya foto yang berkonsep, kecuali pas lagi jalan ketemu moment menarik …..

Yukkk…. Ikutan belajar motret….


Selanjutnya.."Membuat Foto"

SUSNO “SERPICO” DUAJI

Rabu, Mei 12


Drama pembeberan borok di tubuh kepolisian oleh anggotanya sendiri tidak hanya terjadi di Indonesia. Jauh sebelum reformasi, di negaranya Obama, Frank Vincent Serpico secara marathon mengumpulkan bukti korupsi di NYPD namun selalu tak berdaya menjerat pejabat polisi korup ke meja hijau. Geregetan dengan upaya yang selalu mentok lewat jalur hukum, maka Serpico mengirimkan hasil investigasinya ke New York Times dan pewarta kriminal David Burnham menuliskannya di suatu artikel di koran itu pada 25 April 1970. Dampaknya sungguh luar biasa.

Cerita usang itu nampaknya kembali terulang dengan waktu dan tempat yang berbeda. Jika Serpico hanya anggota polisi NYPD rendahan, Susno Duaji adalah perwira tinggi bintang tiga, mantan kabareskrim pula. Pola yang dimainkan oleh Susno Duaji (SD) mirip-mirip seperti yang dimainkan Serpico dengan melibatkan jaringan pers dan kalangan pers sendiri menikmatinya karena kasus SD yang membongkar mafia hukum di internal Kepolisian sangat ditunggu-tunggu masyarakat.

Belum hilang ingatan saat istilah “Cicak vs Buaya” dimana pihak kepolisian melalui SD secara jumawa mengobok-obok KPK dan berencana menyeret kemeja hijau dengan tuduhan bahwa pimpinan KPK diduga menerima suap atau menjadi mafia kasus. Entah ada kaitannya dengan salah satu anggota KPK yang akrab dengan para aktivis dari LSM dan LBH, dengan serta merta KPK dibela tanpa pandang bulu bahkan pers-pun menjadi latah dengan berita-berita miring menyudutkan si buaya.

Kini, pers-pun tak henti memberitakan SD dengan sudut pandang yang beragam. Namun semuanya bermuara pada titik yang sama. Berantas korupsi sampai habis. Penahanan SD bisa menjadi titik nadir bagi pejuang anti korupsi namun bisa menjadi pintu masuk (katanya Kapolri sih) untuk menguak kasus lain yang lebih besar.

Peran pers sangat diharapkan untuk terus mengkritisi beragam kebijakan dan kelakukan elit politik, pejabat negara dan pelaku hukum. Namun masalahnya, pers itu juga bagian dari posisi tawar menawar karena pers saat ini kebanyakan dimiliki oleh pengusaha sekaligus elti politik.

Selanjutnya.."SUSNO “SERPICO” DUAJI"

Rombak !!!!

Selasa, Mei 11


Akhirnya saya bisa merombak total tampilan blog ini. Selain karena ingin mencari suasana baru juga karena lagi latah seperti pak SBY yang sedang ingin merombak kabinet pasca mundurnya SMI dari Menkeu. Ukuran template saya perkecil karena yang besar sangat merepotkan seperti koalisi SBY-Boed yang besar itu. Entah ada atau tidak ada aspek psikologisnya dengan kalahnya PD di Pansus Century, saya mengganti warna dominan biru menjadi dominan putih. Selain karena putih dianggap warna netral juga supaya keliatan bersih. Anggap saja saya non-partisanlah.

Di beberapa bagian saya tetap menampilkan widget, seperti Shout Mix yang saya anggap perlu karena itu untuk saling menyapa dengan cepat tanpa harus membaca dan memberikan komentar pada salah satu postingan walau harapannya sih agar para blogger sudi untuk membaca dan memberikan komentar. He he he…Selain Shout Mix, juga ada tampilan recent post, link banner, link para sahabat dan tentunya follower. Kira-kira beginilah tampilan blog saya. Bisa dibilang merubah bahkan bisa saja disebut merombak total.

Perubahan dan perombakan ini saya lakukan dengan cepat tanpa ragu-ragu karena saya bukan tipe ragu-ragu seperti pemimpin kita itu. Kalau memang ingin mensejahterakan rakyat kenapa ragu-ragu dalam mengambil keputusan?? Bahkan mengorbankan SMI yang jelas-jelas putri terbaik bangsa dan bekerja sesuai aturan main. Yang secara tegas menolak berkompromi soal Lapindo dan Pajak.

Selamat Jalan, SMI. Saya menunggumu untuk 2014-2019.

Selanjutnya.."Rombak !!!!"

ASBAK HITAMKU

Senin, Mei 10

Terbata-bata aku membaca kalimat demi kalimat yang mengalir begitu indah. Tak terasa belasan batang rokok menumpuki mulut asbak mungilku. Yah… asbak mungil itu yang selama ini menemaniku dalam keseharian, yang selalu setia tanpa bicara bahkan tanpa pamrih apa-apa. Asbakku itu sudah berusia 10 tahun, terbuat dari kayu hitam, kayu khas dari Poso, Sulawesi Tengah. Terkadang, aku mematikan rokok dengan menekan-nekan ujung bara api tatkala muncul kecemasan di dada atau aku menemunkan ide cemerlang yang segera dituangkan dalam bentuk tulisan. Ah… sungguh senang bila memiliki teman tanpa banyak bicara namun setia walau selalu ditekan-tekan, dikotori pula.
Yah… kesetiaan merupakan mahal harganya. Sebagai contoh ekstrim, kesetiaan terhadap koalisi menjadi acuan untuk merombak kabinet SBY-Boediono. Isunya, PKS dan PPP menjadi sasaran untuk dihapuskan dalam daftar koalisi pasca dilepasnya Sri Mulyani dari Menkeu. Kedua partai ini dianggap duri dalam daging, menohok kawan seiring, mengunting dalam lipatan dan makan tulang teman. Sungguh terlalu.

Hanya saja, kenapa Ical yang menjadi pemimpin koalisi dan sepertinya berperan sebagai Perdana Menteri dengan mengesampingkan Boediono. Seperti pernyataan Priyo Budi Santoso yang mengatakan bahwa bulan madu sedang bersemi, seolah memberikan gambaran utuh bahwa SMI memang didepak dari jabatan Menkeu karena menjadi momok bagi kelompok usaha Bakrie. Priyo juga menegaskan bahwa bisa saja dosa politik SMI diputihkan sekaligus mempeti es khan kasus Century. Enak aja lu….

Ah… mending merokok lagi dan bercengkerama dengan asbak yang selalu setia menemaniku hampir 10 tahun lamanya…. Asbak kayu hitamku dan bibir hitamku semoga tidak sama dengan perilaku politisi hitam.

Selanjutnya.."ASBAK HITAMKU"

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP