Membuat Foto

Jumat, Mei 14

Akhir-akhir ini saya melanjutkan hobi saya yang sudah lama tertunda, hobi motret sembarang kejadian. Awalnya saya menggunakan kamera jadul Nikon F80 dengan lensa 28-80mm. Sebuah hobi yang mahal karena harus membeli film dan kemudian mencetaknya. Syukur-syukur kalau hasilnya bagus, bisa dipamerkan sesama rekan penghobi, namun jika hasilnya nge-blur, nge-shake… ataw terlalu terang maupun terlalu gelap… itulah adalah aib yang harus ditanggung.

Setalah era kamera digital, hobi itu kembali tersalurkan. Saya membeli kamera Nikon D90 dengan lensa kit 18-105mm-nya. Kenapa saya harus memilih Nikon? Karena kamera adalah Nikon, bukan yang lain. Banyak juga merek lain seperti Canon yang banyak penggunanya. Namun kembali ke awal tadi, kamera adalah Nikon dan Nikon adalah kamera. Tidak perlu diperdebatkan kenapa harus memilih merek tertentu.

Dengan kamera Nikon D90 saya bisa mengasah kembali sentuhan-sentuhan menekan shutter agar kamera tidak goyang (shake), mempelajari lagi tentang speed, ISO, dan lain-lain. Sungguh menyenangkan. Nikon D90 angat memuaskan. Entah nanti kalau sudah mahir, rasa tidak puas sebagai manusia tentu akan muncul dan akan up grade kamera ke level professional macam D700 ataupun sekalian ke D3S.

Saat inipun saya sudah melengkapi kamera dengan lensa tambahan yakni Nikkor AFS 70-200mm 2.8 dan AF 50mm 1.4D, serta beberapa filter dari Hoya yakni filter UV, ND dan CPL. Sebuah hobi yang cukup mahal memang. Kenapa saya harus melengkapinya dengan lensa tambahan dan filter, itu karena kebutuhan dan kecelakaan. Dibilang kebutuhan karena saya menyukai foto candid yang memerlukan lensa zoom dengan bukaan besar (f2.8). Sedangkan disebut kecelakaan karena pada saat saya ikut acara hunting bersama, muncul rasa iri melihat teman2 sesama penghobi motret membaca peralatan seabreg. Terpaksa merogoh kocek dalam-dalam membeli 70-200mm 2.8 VR dan 50mm 1.4D itu. Makanya saya paling males mengikuti acara hunting bersama karena terkesan pamer peralatan dan obyek fotopun nyaris sama, walaupun sisi positifnya ada. Yakni saling bertukar pengalaman dan berbagi ilmu fotografi.

Perkembangan era digital memang sangat luar biasa. Hasil foto yang awalnya biasa aja kini bisa dimanipulasi dengan berbagai software, dan yang paling banyak digunakan untuk olah digital adalah Photoshop. Munculnya software olahdigital menjadi pro dan kontra namun hal itu kita kembalikan kepada fotografer itu sendiri. Saya sih suka yang natural saja, photoshop hanya saya gunakan bila memang dibutuhkan.

Hasil diskusi dengan para fotografer hebat saat acara workshop atau pameran foto telah membuat saya harus lebih giat lagi menambah jam terbang. Hanya dengan membidik dan membidik obyek foto maka seseorang akan menemukan gaya sendiri dan menjadi mahir. Menemukan gaya sendiri memang susah sama halnya membuat foto. Ya… membuat foto sangat susah. Bagi saya yang fotografer jalanan, masalah moment adalah masalah utama. Bagaimana foto dibuat lalu bisa bercerita dan kalau lebih bagus mengandung pesan-pesan moral didalamnya. Istilahnya foto yang berkonsep, kecuali pas lagi jalan ketemu moment menarik …..

Yukkk…. Ikutan belajar motret….


  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP