NONTON PIALA DUNIA YUKKK

Senin, Juni 14

Pecandu bola macam saya ini telah menyiapkan stamina lebih guna memelototi tayangan sepakbola dari sore hingga dini hari selama sebulan penuh. Jadwal penyisihan masing-masing grup memang ditayangkan secara marathon mulai sore hingga dini hari… dan setiap hari. Hingga hari ke-3 penyelenggaraan piala dunia tidak ada kejutan berarti. Dari beberapa pertandingan, bola Jabulani menjadi masalah yang cukup mendapatkan banyak keluhan. Mulai dari si jenius Messi hingga para penjaga gawang. Terakhir, bola Jabulani membuat Inggris harus merelakan berbagi angka dengan saudara mudanya Amerika.

Terkait dengan kenyamanan melihat tayangan sepakbola di televisi, saya harus berterima kasih sama PLN bahwa hingga hari ke-3, listrik di wilayahku tinggal belum ada pemadaman bergilir. Di media massa pun, saya belum membaca kasus-kasus unjuk rasa maupun aksi anarkis yang ditujukan kepada PLN. Maklum, sebelum piala dunia, banyak kasus-kasus anarkis terjadi di berbagai wilayah di Indonesia yang disebabkan oleh pemadaman bergilir. Untuk sementara PLN sangat mengerti akan kebutuhan masyarakat pecandu bola. Solusi jangka pendek nampaknya sudah dilakukan oleh PLN dengan menyewa atau membeli genset untuk daerah-daerah krisis listrik. Dan semoga tidak lupa dengan program jangka panjang yakni program 10.000 MW. Biasalah, bangsa Indonesia mudah terlena dengan solusi jangka pendek.

Memang krisis listrik sudah terjadi mulai dari awal 2008. Seperti data dari Dewan Energi Nasional (DEN) yang menyatakan ada sembilan daerah krisis listrik akut. Diantaranya adalah Kalimantan. Saya gak habis pikir, Kalimantan yang kaya minyak dan batubara kok krisis listrik? PLN sebagai perusahaan monopoli berencana membeli listrik dari Malaysia (Serawak) untuk mengatasi krisis listrik diperbatasan. Rencananya sih pembangunan saluran transmisi bertegangan 275 kilo volt dari Sarawak ke Kalimantan Barat melalui Kabupaten Bengkayang telah memasuki kajian non teknis. Tahap pertama energi listrik yang dibeli rencananya 100 mega watt (MW). Glekkk. Bagaimana nasib bangsa kita jika masalah strategis harus import dari luar negeri kecuali kalau kita tidak bisa memproduksi sendiri. Indonesia sepertinya telah menjadi pasar dari produk luar negeri. Keren khan???

Di tengah hiruk pikuk piala dunia, bola panas telah ditendang oleh Dirut PLN dengan mewacanakan program listrik gratis bagi masyarakat miskin. Dasar usulan program listrik gratis adalah dengan memberikan seluruh subsidi kepada golongan masyarakat miskin (pengguna 450 MW) dan pembayaran normal atau sebesar biaya produksi listrik (Rp 1.000 per kwh) oleh golongan lain, maka PT PLN akan kehilangan dana sebesar Rp 1,5 triliun tetapi dapat penerimaan sekitar Rp 30 triliun.

Wacana itu telah ditanggapi beragam dari kalangan pemerhati masalah listrik. Pro Kontra – pun muncul. Seperti kata Roy Salam (Peneliti Hukum dan Politik Anggaran Indonesia Budget Center – IBC) yang mengatakan kalau PLN sebaiknya membangun perluasan fasilitas listrik ketimbang menggratiskan listrik untuk warga miskin sebab masih banyak daerah terpencil yang belum teraliri listrik. Perluasan fasilitas listrik dinilai lebih bermanfaat dari dapat kebijakan menggratiskan. Sedangkan Tulus Abadi (YLKI) mengatakan bahwa menggratiskan listrik bukan solusi untuk mengatasi permasalahan dan jika memang ingin mengeluarkan kebijakan pro rakyat, listrik gratis lebih baik diperuntukan bagi sektor yang langsung berhubungan dengan masyarakat, misalnya gratis pasokan listrik untuk transportasi dan pendidikan. Tanggapan yang sama juga dilontarkan oleh Ahmad Muzani (Sekjen Partai Gerindra) yang mengatakan bahwa usulan tersebut mengada-ada dalam situasi sekarang. Pemerintah jangan memberikan angin surga kepada rakyat. PLN sebaiknya memprioritaskan penyaluran dan pengembangan jaringan listrik ke daerah-daerah pelosok yang masih belum tersentuh selama ini.

Namun, nampaknya ada juga yang setuju. PKS misalnya. Zulkieflimansyah (Ketua DPP PKS) mengatakan bahwa usulan itu sangat tepat dan layak diikuti oleh BUMN lainnya, termasuk pertamina. Sudah saatnya pemerintah tidak membebani rakyat kecil, dan di sisi lain tidak mensubsidi golongan yang lebih mampu. Langkah tersebut bisa mengurangi kesenjangan seperti yang diharapkan Presiden SBY karena itu, BUMN lainnya harus membuat terobosan yang sama, agar konsep kesejahteraan bisa dinikmati secara nyata.

Tapi menurut saya sih mending subsidi listrik diberikan kepada industri. Logikanya sih bila listrik industri diturunkan akan membuat harga jual hasil produksi ikut turun juga. Jika harga listrik konsumen rumah tangga turun tidak memberikan nilai tambah apapun kecuali rakyat happy.

Lalu???
Ah, mending nonton piala dunia sambil menunggu kepastian tarif dasar listrik jadi naik atau tidak pada 1 Juli 2010. Jika jadi naik, mari kita ambil sisi positifnya dengan membeli barang-barang yang memang kita butuhkan.

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP