BLT ….OH…. BLT

Selasa, Mei 27

Berhari-hari kita disajikan berbagai kejadian seputar aksi penolakan kenaikan BBM. Mulai dari kalangan mahasiswa, LSM, tokoh politk, anggota dewan hingga para buruh. Kata mereka yang menolak kenaikan BBM, kenaikan itu sama saja menambah beban masyarakat karena kenaikan BBM akan diikuti pula komoditas lainnya.

Pemerintah tidak bergeming dengan aksi penolakan. Show Must Go On. Dan akhirnya....pukul 00.00 wita, tanggal 24 Mei 2008, dimulailah harga BBM baru yang naik hingga 28%. Serentak pula para sopir angkutan umum berteriak agar segera dilakukan penyesuaian tarif angkutan.

Saya tidak ambil pusing dengan kenaikan BBM. Justru saya berterima kasih sama pemerintah karena pada akhirnya saya harus............NGIRIIIIT. Di segala lini kehidupan. Meminimaliskan perilaku hidup yang selama ini sudah sedemikian ngirit untuk lebih ngirit, ngirit dan ngirit.

Hal ini berimbas pada kehidupan pekerjaan. Instruksi pimpinan katanya sih untuk penghematan di segala lini pekerjaan. Pengiritan menggunakan listrik, fasilitas internet, telepon hingga air pun dihemat. Yang tadinya dalam satu hari tim OB menyajikan kopi plus cemilan dalam 4 sesi, yakni pagi-siang-sore-malam, kini hanya pagi dan sore. Selebihnya usaha sendiri. Wah.....

Dampak lain dari instruksi itu..., ga bisa berlama-lama dikantor. Selama ini saya bisa full time (walau ga’ ada uang lembur) di kantor. Selain memang suka bekerja.., di kantor banyak fasilitasnya. Mulai dari ruangan yang adem, minuman adem dan panas hingga fasilitasi internet yang tanpa batas. Wah........

Sungguh Terlalu....

Dalam proses pengiritan yang mulai terbiasa itu..., saya kembali heran..., ternyata ada pimpinan daerah yang menolak program pemerintah untuk menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin. Katanya..., BLT tidak mendidik. Kenapa tidak dimanfaatkan sebagai penunjang pembangunan di daerah. Misalnya proyek padat karya sehingga terdapat 2 manfaat. Infra struktur tercapai, para pekerja mendapat upah.

Pendapat itu ada benarnya. Tapi menurutku salah, salah dan salah.

Bayangkan jika dana BLT itu dimanfaatkan sebagai proyek padat karya, lalu para orang tua lanjut usia yang telah lewat masa produktifnya harus bekerja untuk mendapatkan uang. Lalu para janda tua sebatang kara dan tertatih-tatih apakah juga harus bekerja???? Ah....sungguh terlalu pimpinan daerah itu. Sungguh terlalu.

Ada juga kepala desa yang menginginkan BLT dikelola oleh desa sebagai usaha simpan pinjam. Walah...., saya gak habis pikir dengan pola pikir kepala desa itu. Asumsi saya, BLT adalah uang tunai yang diberikan langsung kepada rakyat miskin tanpa embel2 untuk dikembalikan. Kalau kepala desa berpikiran semacam itu.., meminjamkan kepada rakyat miskin, berarti pola pikirnya adalah rentenir...Sungguh terlalu.

0 komentar:

Posting Komentar

Tempat Caci Maki.....

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP