JUARA ADALAH JUARA

Senin, Mei 12



Akhirnya, Manchester United kembali merengkuh jawara Liga Primer Inggris yang ke-17 kalinya,selisih 1 dengan Liverpool. Namun Mu lebih hebat, karena telah merengkuh 10 kali juara Liga Primer di era sepakbola modern.

Dibalik kegembiraanku, masih terasa sedih, ….. tidak bisa menyaksikan langsung melalui televisi yang gratisan karena hak siar Liga Inggris mejadi hak mutlak Astro. Sementara itu, Lativi yang kini berubah menjadi TV-One hanya menyiarkan kesebelasan ”ecek-ecek” dan itupun lebih banyak siaran tunda. Hm.., ironis memang, hampir separuh lelaki di Indonesia (walau belum pernah di survei, karena lembaga survei kita hanya melakukan survei terkait politik..., rating pemimpin kita dll etc..etc). adalah penggemar bola dan sebagian besar hanya menonton tv secara gratisan. Artinya..., untuk menyalurkan hobi menonton saja harus bayar..., itulah sisi kelam era globalisasi (atau bisa juga dianggap sebagai era kapitalis). Sementara jawara kapitalis sekarang ini sedang meradang karena krisis ekonomi yang disebabkan oleh kredit macet sektor perumahan. Hmmmm,...

Konsistensi dan Kejujuran

Untuk menjadi juara yang benar-benar juara, selayaknya kita mengacungkan 2 jempol kepada Manchester United. Kenapa? Banyak faktor kenapa MU begitu perkasa dan di –idol- khan oleh jutaan fans di seluruh dunia.

Pertama, adalah konsistensinya menggarap pemain muda bertalenta untuk diolah dan digarap menjadi pemain-pemain yang berkarakter juara. Sebut saja Ronaldo, Rooney yang saat ini telah menjadi ”Super Soulmate” ataupun jika melongok ke belakang, kita bisa berdecak kagum pada bintang MU yang saat ini mulai uzur namun tetap hebat seperti Paul Scholes, Ryan Giggs, atau Gary Neville. Kompilasi yang diramu oleh Sir Aleks, menjadikan MU sebuah kekuatan dashyat dan menggetarkan lawan. Dari sini kita bisa belajar dari Sir Aleks bahwa menjadi juara harus melalui perjuangan dan bukan secara instant dengan cara membeli pemain yahud tapi tidak mempunyai karakter. Sehebat apapun pelatih itu.

Kedua, adalah kejujuran. Yah..., memainkan sepak bola diranah Inggris berbeda dengan negara lain. Khususnya Indonesia. Para pengurus FA telah menjadikan sepakbola sebuah industri yang dilandasi dengan kejujuran karena dengan kejujuran maka penonton berlomba-lomba memadati stadion. Sementara di Indonesia, para pengurusnya sibuk sowan kepada ketua yang ogah mengundurkan diri dari jabatannya walaupun FIFA dan AFC sudah mendesaknya. Ck ck ck...

Sekali lagi, selamat kepada MU.

0 komentar:

Posting Komentar

Tempat Caci Maki.....

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP