BOLA LIAR ............

Minggu, Juni 1


Setelah Liga Champion yang dimenangi oleh Manchester United usai digelar, kini pegila bola mulai mengarahkan kegilaannya pada Piala Eropa. Banyak ulasan dan prakiraan jelang perhelatan sepakbola paling akbar di benua biru itu. Bila pengamat sedikit netral dengan ulasannya tentang negara mana yang akan maju ke babak selanjutnya bahkan mengira-ira siapa yang pantas menuju puncak. Tidak demikian dengan para pecandu bola yang menjagokan kesebelasannya. Ada yang bela habis-habisan kesebelasan Belanda, ada Jerman, Italia dan lain-lain. Pokoknya…yang dijagokan bakal jadi juara, ga peduli kata orang.



Kalau saya sih hanya sebagai penggembira saja karena kesebelasan Inggris yang saya “gadang-gadang” ternyata keok. Terpaksa saya harus mengalihkannya ke Belanda.., selain ada kedekatan historis, juga itung-itung balas budi karena Belanda telah mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang mudah mencari kambing hitam. Bangsa yang mudah menjatuhkan satu sama lain. Tidak mau bersatu menjadi satu kesatuan.
Katanya negara kesatuan, kok gak bersatu melawan kebodohan dan kemiskinan. Payah....!!!!


Bila di benua biru sedang memfokuskan pada bola sepak, di negara kita banyak orang sedang memainkan bola liar. Kenaikan BBM yang dilakukan oleh pemerintah bak bola liar yang seolah dilemparkan di tengah-tengah masyarakat yang terengah-engah mensiasati hidup serba sulit. Pengamat ekonomi dan politik mempertanyakan dampak negatif akibat kenaikkan tanpa mau tau dampak positifnya.

Kini, banyak yang sedang memainkan bola liar itu. Dari kalangan mahasiswa, LSM, tokoh politik hingga para pengamat. Pun tidak tanggung-tangung, mantan presiden Indonesia yang menjadi warga negara kehormatan Jerman juga turut memainkan bola liar. Bahkan dengan gaya berapi-api, Habibi mengajak rakyat untuk tidak memilih orang yang dianggapnya telah ingkar janji. Persis sama dengan tayangan iklan Wiranto, dengan format berita berjudul "Wiranto Masih Berharap SBY Penuhi Janji soal BBM".

Kampanye Hitam Atau Bukan???

Kontan saja, tayangan iklan itu memancing reaksi dari kubu Susilo karena secara lisan belum pernah berjanji tidak akan menaikkan BBM. Bantahan muncul dari Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa yang menyatakan iklan Wiranto sangat tendensius dan menyesatkan. Sementara itu, jubir presiden, Andi M menyatakan bahwa bantahan perlu dikeluarkan karena jika dibiarkan akan berlarut menjadi iklan baru "SBY Tidak Menepati Janji".

Saya setuju dengan argumen nya pakar komunikasi politik Effendi Ghazali yang menyatakan bahwa dalam komunikasi politik modern sebaiknya iklan semacam itu dibalas dengan iklan juga, jangan lantas marah-marah. Nah..., Andi Mallarangeng..., saya usul. Anda sebagai JUBIR presiden misalnya membuat iklan yang menyindir Wiranto dengan sebutan JABIR. JAGA BICARA, jika tidak ada fakta. Ha ha ha ha

0 komentar:

Posting Komentar

Tempat Caci Maki.....

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP