WAJAH KITA ...........

Selasa, Juni 17

Ini berita paling menarik. Pihak imigrasi Jakarta Barat “berhasil” menahan warga Taiwan yang menyalahi peraturan keimigrasian. Katanya lagi, selidik punya selidik, ada indikasi warga Taiwan itu seoramg intel yang berhasil menyusup. Wah..., kalau memang benar Hsieh Chuan Yuan itu intel dari Taiwan gaswat juga ya.


Jadi mikir neeeeh, Hsieh Chuan Yuan itu sudah berapa lama di Indonesia, kenapa bisa punya paspor Indonesia dan paspor Batam. Trus informasi apa saja yang berhasil dia dapatkan. Lalu apakah dia bekerja sendirian atau dalam unit kecil tapi efektif untuk mematai kehidupan negara kita. Lalu apakah dia seorang agen lapangan ataukah sebagai operatornya. Apakah dia juga berhasil membentuk jaringan informasi dari orang-orang Indonesia sendiri, bahasa kasarnya sih kaki tangan.


Dari beberapa penggal pertanyaan diatas, bila kita rangkai dalam jalinan cerita..., betapa rentannya bangsa kita disusupi agen asing. Jika menilik Hsieh Chuan Yuan itu warga Taiwan, tentunya yang dicari bukan masalah intelijen tempur karena memang kita tidak bermusuhan dengan Taiwan. Dunia sudah mengetahui bahwa kemampuan tempur kita saat ini kecil dan memilukan. Banyangkan saja, jika insiden Ambalat menjadi konflik terbuka dalam artian perang antara Indonesia dengan Malaysia, kita pasti akan kalah. Kenapa? Secara kualitas, persenjataan kita kalah jauh. Secara kuantitas..apalagi. Jika perang terbuka dijadikan semcam lomba menembakkan amunisi secara terus-menerus, Indonesia hanya mampu 16 jam saja, sementara Malaysia mampu menembakkanya selama 60 hari. Walah............ Itu baru dengan Malaysia lho.


Kembali kemasalah Hsieh Chuan Yuan, bila dia benar seorang intel, pasti informasi non-tempur yang dicari. Bisa masalah sosial, budaya, ideologi atau ekonomi. Menguasai negara lain dengan kekuatan tempur itu adalah tindakan ekstrim. Jika memang secara ekonomi dlsb tidak bisa maka militer menjadi alternatif terakhir walaupunujung-ujungnya ekonomi juga. Lihat saja Irak, begitu Sekutu menguasai secara militer, investor minyak berlomba menyedot minyak dari perut Irak. Kepentingan ekonomi juga khan.


Memang, dalam sejarah dunia, bangsa yang besar akan menjadi lebih besar bila mempunyai musuh bersama bagi segenap rakyatnya. Bila Amerika dan belahan dunia barat lainnya menganggap terorisme dan mandegnya pertumbuhan ekonomi menjadi musuh bersama maka solusinyanya ya menaklukkan musuh itu.


Kalau negara kita? Katanya sih musuh kita adalah kebodohan dan kemiskinan. Nyatanya angka kemiskinan malah semakin bertambah. Kebodohan semakin nampak. Banyangkan, berapa puluh ribu siswa SMA kita yang tidak lulus UN. Itu namanya bodoh. Entah argumen apa yang mau dikemukakan, yang namanya tidak lulus ya bodoh. Padahal UN alah program nasional...jadi??????


Masalah menangkal infiltrant yang berencana masuk ke wilayah kita sangat susat. Bayangkan saja berapa panjang pantai kita, belum lagi infiltrant dari perbatasan darat. Contoh kecil adalah di Kepulauan Riau. Berata ratus pelabuhan rakyta yang harus diawasi aparat kita, belum lagi jika aparat kita melakukan proses pembiaran karena alasan ekonomi. Walah....


Malayasia yang selalu mengedepankan spirit ASEAN dan negara serumpun bila berbenturan dengan Indonesia paling getol melakukan penyusupan dan pembentukan kaki tangan di perbasatasan. Maklum sajalah, dalam dunia militer orang-orang di perbatasan sangat baik untuk dijadikan mata telinga. Ga perlu tehnologi satelit guna mendeteksi pergerakan lawan, cukup dengan telepon satelit..., beres.


Yang paling gress adalah proses pembiaran pihak Deplu terhadap pembanguan helipad yang jaraknya Cuma 7 meter dari perbatasan. Dan parahnya lagi..., helipad itu katanya digunakan untuk survey bersama. Aneh ya..., masa Dephankam ga tau sih.... Gila bener, trus kalau rapat kabinet para mentri ngapain aja???? Mikirin masa depan bangsa ga sih? Atau cuma mikirin masa kini. Jangan-jangan orang Deplu yang bertugas di LN telah diperilhara dan digalang untuk menjadi kaki tangannya bila sudah menjadi pejabat Deplu. Eh...., Menlu kita pernah tugas di Kuala Lumpur nggak ya????


Saya jadi teringat pernyataan mantan ketua KPK, untuk memperbaiki kondisi bangsa harus secara ekstrim dan dipegang oleh pemimpin yang tegas dan mungkin saja diktator, karena di negara Indonesia sudah bad people with bad system. Walah.............. walah.............

0 komentar:

Posting Komentar

Tempat Caci Maki.....

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP