SELAMAT ULANG TAHUN, PAK POLISI

Rabu, Juli 2

Kemarin, pak polisi kita merayakan hari jadinya yang lebih dikenal dengan HUT Bhayangkara ke-60. Banyak cerita haru biru nyaris kelam malah dalam perjalanan panjang pak polisi kita itu. Yang tadinya menjadi anak bawang di era orde baru, dipandang sebelah mata oleh kakak-kakaknya kini pak polisi kita menjelma menjadi kekuatan yang makin besar dan besar.

Segudang prestasi telah diraih oleh pak polisi. Mulai dari terungkapnya para pelaku peledakkan bom di Jakarta, Bali, Poso dan sejumlah tempat lain. Yang fenomenal adalah ditembaknya DR. Ashary di Malang. Belum lagi pengungangkapan jaringan peredaran narkoba baik di Tangerang, Batam dan Surabaya. Dan itu semua adalah buah karya pemisahan pak polisi dari pak tentara.

Namun, segudang prestasi itu belum cukup membuat masyarakat percaya dengan kinerja pak polisi. Kenapa?? Banyak alasannya. Antara lain seperti kasus Munir yang hingga saat ini masih tertatih-tatih. Banyak kalangan menilai kasus ini sarat politiasi. Tekanan asing atas kasus ini sangat besar, contohnya adalah masih di blacklist-nya maskapai kita melintasi daratan eropa. Walah...., saya jadi berpikir, kalau memang mau memperjuangkan HAM kenapa harus menjual harga diri bangsa, berkoar-koar di luar sana , mengundang intervensi asing hingga harga diri bangsa menjadi tak berarti. Lainnya, adalah kasus penyerangan Kampus UNAS. Akhir dari tragedi ini berujung pada tewasnya mahasiswa UNAS karena aksi brutal pak polisi.

Dan...............

Ditengah kondisi keuangan negara yang masih morat-marit terkena imbas global warming, global warning, global money, global oil, global culture dan global-global lainnya kini muncul pernyataan gombal............

Pernyataan gombal itu datang dari big bos-nya pak polisi. Katannya pak polisi dengan pangkat terendah minimal bergaji 8,5 juta rupiah. Walah......, katanya lagi gaji itu hasil penelitian dari UI. Dalam kajian ilmiahnya, pak polisi dalam bertugas mempunyai resiko yang tinggi sehingga harus bergaji besar. Hmmmmm. Buset dah.

Alasannya sih supaya pak polisi tidak ngobyek diluaran sana, karena gaji yang minimalis. Padahal ada kasus menarik bahwa gaji besar tidak menihilkan peluang berperilaku korup. Contohnya adalah hasil sweeping KPK ke jajaran Bea Cukai. Kurang apa pemerintah memberikan intensif kepada pegwai Bea Cukai, toh tetap saja korup.

Saya pernah denger crita dari pak polisi. Katanya dalam menangani 1 kasus, pak polisi hanya dianggarkan 2,5 juta rupiah. Minimnya anggaran penanganan kasus membuat pak polisi ngobyekin kasus. Artinya, kalau ada kasus yang melibatkan pengusaha dari etnis tertentu.., pasti diobyekin buat nutupin kasus ”garing” lainnya. Itu mah namanya cari kesempatan. Belum lagi budaya setor keatasan, katanya polsek setor ke polres, trus polres setor ke polda dan polda setor ke???????.

Ada anekdot tentang pak polisi. Kalau pak polisi mempunyai HP terkini dan mobil mulus jangan tanyakan beli dimana? Tapi tanyakan dapat dari mana? Ha ha ha. Pernyataan itu pernah diucapkan langsung oleh pak polisi yang saya kenal akrab.

Au ah lap.....

5 komentar:

madong Kamis, 03 Juli, 2008  

Polisi juga manusia mas, yang tak luput dari salah dan dosa,.

Smoga mereka yg pernah lupa, bertobat sebelum meninggal,.

Hiks hiks,..

Kristina Dian Safitry Jumat, 04 Juli, 2008  

met ulang tahon...tapi sekarng dah lewat lho...hi..hi..

edisamsuri Jumat, 04 Juli, 2008  

Semoga Polisi kita lebih diterima oleh masyarakat yang lumayan ngga suka dan nggak percaya ......amin

~Agi~ Senin, 07 Juli, 2008  

hahaha....posting gnian jg....
tau neh polisi skarang kaya2....
perutnya aja buncit2....
hehehe...piss...^_^'

BlogAdi Selasa, 08 Juli, 2008  

Tanyakan dapat dari mana?
Emang belum tau tah dapet dari mana, cari tau jawabannya disini.

Posting Komentar

Tempat Caci Maki.....

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP