ASBAK HITAMKU

Senin, Mei 10

Terbata-bata aku membaca kalimat demi kalimat yang mengalir begitu indah. Tak terasa belasan batang rokok menumpuki mulut asbak mungilku. Yah… asbak mungil itu yang selama ini menemaniku dalam keseharian, yang selalu setia tanpa bicara bahkan tanpa pamrih apa-apa. Asbakku itu sudah berusia 10 tahun, terbuat dari kayu hitam, kayu khas dari Poso, Sulawesi Tengah. Terkadang, aku mematikan rokok dengan menekan-nekan ujung bara api tatkala muncul kecemasan di dada atau aku menemunkan ide cemerlang yang segera dituangkan dalam bentuk tulisan. Ah… sungguh senang bila memiliki teman tanpa banyak bicara namun setia walau selalu ditekan-tekan, dikotori pula.
Yah… kesetiaan merupakan mahal harganya. Sebagai contoh ekstrim, kesetiaan terhadap koalisi menjadi acuan untuk merombak kabinet SBY-Boediono. Isunya, PKS dan PPP menjadi sasaran untuk dihapuskan dalam daftar koalisi pasca dilepasnya Sri Mulyani dari Menkeu. Kedua partai ini dianggap duri dalam daging, menohok kawan seiring, mengunting dalam lipatan dan makan tulang teman. Sungguh terlalu.

Hanya saja, kenapa Ical yang menjadi pemimpin koalisi dan sepertinya berperan sebagai Perdana Menteri dengan mengesampingkan Boediono. Seperti pernyataan Priyo Budi Santoso yang mengatakan bahwa bulan madu sedang bersemi, seolah memberikan gambaran utuh bahwa SMI memang didepak dari jabatan Menkeu karena menjadi momok bagi kelompok usaha Bakrie. Priyo juga menegaskan bahwa bisa saja dosa politik SMI diputihkan sekaligus mempeti es khan kasus Century. Enak aja lu….

Ah… mending merokok lagi dan bercengkerama dengan asbak yang selalu setia menemaniku hampir 10 tahun lamanya…. Asbak kayu hitamku dan bibir hitamku semoga tidak sama dengan perilaku politisi hitam.

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP