PARTAI KOK SONTOLOYO

Jumat, Juni 27


Ini komentar paling baru dari Kepala BIN yang geram sama tindakan salah satu menteri yang berkhianat. Menteri yang berasal dari salah satu parpol itu diceritakan oleh Syamsir Siregar mendukung pemerintah untuk menaikan BBM saat rapat kabinet. Namun perkembangan di kemudian hari menteri itu mengatakan penolakkannya atas kenaikan harga BBM. Di depan anggota DPR-RI pula. Ah...emang sontoloyo.

Katannya sih menteri itu adalah Anton Apriantono yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Padahal PKS adalah partai yang mendukung pencalonan SBY-JK menjadi pemimpin negara kita walaupun dukungan itu dinyatakan pada putaran kedua. Artinya..., PKS memang mendukung tapi mendukung ditikungan terakhir saat peluang SBY-JK sudah menang di depan mata.

PKS bukan kali ini saja berseberangan dengan pemeintah yang didukungnya. Berbagai kebijakan pemerintah hasil dari rapat kabinet ditentang anggota dewan dari PKS. Ini yang menjadi kegeraman Yusril Isra Mahendra (kala itu masih menjabat sebagai Mensesneg) dan Andi M (jubir kepresidenan). Memang, bung Yusril patut geram karena yang mencalonkan SBY-JK sejak awal adalah Partai Demokrat dan PBB (dipimpin oleh Bung Yusril).

Memang PKS piawai memainkan peran dimata masyarakat, selalu mencitrakan menjadi partai yang humanis dengan jargon-jargon yang populis seperti anti korupsi dan anti kemaksiatan. Dan itu memang menarik simpati banyak kalangan, bukan saja dari basis massa yang beragama Islam tetapi juga dari kalangan yang beragama lain. Sistem kaderisasi PKS memang luar biasa, mulai dari pengajian ibu-ibu hingga program posyandu. Bahkan kata posyandu ditambah menjadi posyandu sejahtera. Bukan main. Asal kata ”sejahtera” jangan diganti denga istilah dari Opung Syamsir.., ntar jadi SONTOLOYO. Wakakakakak...............

Dari sekian prestasi PKS yang bagus-bagus itu ternyata ada yang paling bagus lho. Para pemimpin PKS ternyata sebagian besar ber-poligami. Masa???? Coba tanyakan sama presiden PKS, Tifanul Sembiring. Berapa istrinya... dua atau tiga? Tanyakan juga sama pemimpin PKS yang lain.....Ga papa lah..., khan dibolehkan beristri lebih dari 1. Lebih dari 2. Lebih dari 3. Tapi 4 cukuplah. He he he he.

Bukan karena berpologami dalam arti sebenarnya lalu merembet kepada tingkah laku politiknya. Berpoligamilah dengan baik dan benar. Tidak setia sama satu istri tetapi setia sama istri yang lain ya bisa diterima. Tapi mbok ya jangan berpoligami politik-lah. Itu namanya perselingkuhan berpolitik. Walah.............

Kalau memang tidak setuju dengan pemerintah, mending keluar dari kabinet dan mendeklarasikan menjadi partai oposisi. Tapi sepertinya tanggung..., bentar lagi pemilu 2009. Mending bersikap mendua sambil cari dana pemilu, siapa tau bisa mencalonkan kadernya sendiri, yang bersih dan setia (sama istri pertamanya.., ha ha ha ha).

Selanjutnya.."PARTAI KOK SONTOLOYO"

BANGGAI KEPULAUAN (2)

Kamis, Juni 26


Setelah permasalahan Poso sedikit demi sedikit terselesaikan seiring penangkapan dan pembinaan para tersangka yang berperilaku teroris, kini di sudut Propinsi Sulawesi Tengah tepatnya di Kab. Banggai Kepulauan mengalami eskalasi politik yang berujung pada upaya cerai paksa wilayah Kec. Banggai dan sekitarnya terkait putusan MK yang menolak gugatan judical review pasal 10 UU No.51 tahun 1999 dan memilih bergabung ke Maluku Utara.

Tak ayal.., putusan MK tersebut membuat massa yang tergabung dalam Forum Mondopulian Banggai Bersatu (FMBB) marah. Wujud kemarahan dinyatakan dengan aksi penyitaan aset pemda Bangkep agar tidak dipindahkan ke Salakan, penghapusan papan nama Bangkep, serta pencopotan plat nomor DN (plat nomor wilayah Polda Sulteng). Serangkaian aksi itu diakhiri dengan penyerahan KTP Sulteng dan pengusiran sejumlah anggota DPRD Banggai Kepulauan yang berada di Banggai.

Berbagai aksi tersebut merupakan buntut dari perebutan ibukota Bangkep antara Banggai dengan Salakan. Sesuai pasal 10 UU No.51 tahun 1999 menyatakan bahwa Banggai ditetapkan sebagai ibukota sementara sedangkan pada pasal 11 dalam UU yang sama menyatakan Salakan sebagai ibukota. Adanya pasal 10 dan 11 tersebut menimbulkan multi interpretasi bagi masing-masing pihak. Pihak Banggai menganggap bahwa banggai sebagai ibukota. Begitu juga sebaliknya.

Menengok jauh kebelakang sebelum penetapan pasal 10 dan 11 dalam UU No.51 tahun 1999, ada seletingan di kalangan aktivis LSM dan elit politik lokal bahwa pihak Banggai sangat pelit menggelontorkan rupiah kepada anggota DPR-RI guna penepatan ibukota Bangkep, sehingga munculah pasal itu. Katanya..., pasal 11 adalah pasal siluman yang berasal dari uang siluman.

Fakta atau hanya cerita, tetap saja menjadi harus menjadi pedoman hukum. Dan itu sudah ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi, lembaga hukum paling tinggi di negara kita. Bila FMBB kecewa dan marah serta menolak putusan MK, lalu mau dibawa kemana negara kita.

Padahal FMBB merupakan kumpulan orang yang berasal dari PRD dan Partai Hanura. Mereka tentunya “melek hukum”, hingga tidak mungkin rasanya mereka menjadi pelopor kegiatan rusuh di Banggai. Tapi faktanya demikian. Dalam berbagai kesempatan, para petinggi FMBB menyuarakan bila Banggai tidak menjadi ibukota maka mereka akan memisahkan diri dari Sulteng dan akan memerdekakan diri dengan membentuk Republik Sosialis Banggai. Bukan main mereka. Hari gini mau makar???

Setelah aspirasi untuk makar tidak mendapat sambutan luas (mungkin tahu kalau resiko makar adalah ditumpas habis ...he he he) mereka mengalihkannya dengan bergabung dengan Maluku Utara. FMBB segera membentuk Panitia Kerja untuk percepatan bergabungnya Banggai dengan Maluku Utara sekaligus mewakili masyarakat Banggai untuk menghadap ke Kesultanan Ternate.

Seandainya....Maluku Utara bersedia menampung Kec. Banggai dan sekitarnya menjadi bagian dari mereka dan hanya menjadikan sebagai wilayah kecamatan baru.., apakah FMBB (Banggai) mau?? Kalau menjadi kab baru..apakah Malulu Utara mau membiayai kabupaten baru itu. Mau bergabung tapi minta daerah menjadi otonom..walah.... Itulah manusia Indonesia.

Menjadikan Banggai sebagai kabupaten baru sebenarnya sudah direkomendasikan oleh pemda Sulteng dan hal itu sesuai dengan kesepakatan 5 Maret 2007 yang antara lain menyatakan percepatan pemekaran Banggai Laut sebagai upaya penyelesaian konflik perebutan ibukota Banggai Kepulauan.

Hayo..., pilih mana? Bercerai dari Sulteng tapi tetap menjadi kecamatan atau tetap menjadi bagian dari Sulteng namun menjadi daerah otonom baru.

Au ha lap.



Selanjutnya.."BANGGAI KEPULAUAN (2)"

WAJAH KITA ...........

Selasa, Juni 17

Ini berita paling menarik. Pihak imigrasi Jakarta Barat “berhasil” menahan warga Taiwan yang menyalahi peraturan keimigrasian. Katanya lagi, selidik punya selidik, ada indikasi warga Taiwan itu seoramg intel yang berhasil menyusup. Wah..., kalau memang benar Hsieh Chuan Yuan itu intel dari Taiwan gaswat juga ya.


Jadi mikir neeeeh, Hsieh Chuan Yuan itu sudah berapa lama di Indonesia, kenapa bisa punya paspor Indonesia dan paspor Batam. Trus informasi apa saja yang berhasil dia dapatkan. Lalu apakah dia bekerja sendirian atau dalam unit kecil tapi efektif untuk mematai kehidupan negara kita. Lalu apakah dia seorang agen lapangan ataukah sebagai operatornya. Apakah dia juga berhasil membentuk jaringan informasi dari orang-orang Indonesia sendiri, bahasa kasarnya sih kaki tangan.


Dari beberapa penggal pertanyaan diatas, bila kita rangkai dalam jalinan cerita..., betapa rentannya bangsa kita disusupi agen asing. Jika menilik Hsieh Chuan Yuan itu warga Taiwan, tentunya yang dicari bukan masalah intelijen tempur karena memang kita tidak bermusuhan dengan Taiwan. Dunia sudah mengetahui bahwa kemampuan tempur kita saat ini kecil dan memilukan. Banyangkan saja, jika insiden Ambalat menjadi konflik terbuka dalam artian perang antara Indonesia dengan Malaysia, kita pasti akan kalah. Kenapa? Secara kualitas, persenjataan kita kalah jauh. Secara kuantitas..apalagi. Jika perang terbuka dijadikan semcam lomba menembakkan amunisi secara terus-menerus, Indonesia hanya mampu 16 jam saja, sementara Malaysia mampu menembakkanya selama 60 hari. Walah............ Itu baru dengan Malaysia lho.


Kembali kemasalah Hsieh Chuan Yuan, bila dia benar seorang intel, pasti informasi non-tempur yang dicari. Bisa masalah sosial, budaya, ideologi atau ekonomi. Menguasai negara lain dengan kekuatan tempur itu adalah tindakan ekstrim. Jika memang secara ekonomi dlsb tidak bisa maka militer menjadi alternatif terakhir walaupunujung-ujungnya ekonomi juga. Lihat saja Irak, begitu Sekutu menguasai secara militer, investor minyak berlomba menyedot minyak dari perut Irak. Kepentingan ekonomi juga khan.


Memang, dalam sejarah dunia, bangsa yang besar akan menjadi lebih besar bila mempunyai musuh bersama bagi segenap rakyatnya. Bila Amerika dan belahan dunia barat lainnya menganggap terorisme dan mandegnya pertumbuhan ekonomi menjadi musuh bersama maka solusinyanya ya menaklukkan musuh itu.


Kalau negara kita? Katanya sih musuh kita adalah kebodohan dan kemiskinan. Nyatanya angka kemiskinan malah semakin bertambah. Kebodohan semakin nampak. Banyangkan, berapa puluh ribu siswa SMA kita yang tidak lulus UN. Itu namanya bodoh. Entah argumen apa yang mau dikemukakan, yang namanya tidak lulus ya bodoh. Padahal UN alah program nasional...jadi??????


Masalah menangkal infiltrant yang berencana masuk ke wilayah kita sangat susat. Bayangkan saja berapa panjang pantai kita, belum lagi infiltrant dari perbatasan darat. Contoh kecil adalah di Kepulauan Riau. Berata ratus pelabuhan rakyta yang harus diawasi aparat kita, belum lagi jika aparat kita melakukan proses pembiaran karena alasan ekonomi. Walah....


Malayasia yang selalu mengedepankan spirit ASEAN dan negara serumpun bila berbenturan dengan Indonesia paling getol melakukan penyusupan dan pembentukan kaki tangan di perbasatasan. Maklum sajalah, dalam dunia militer orang-orang di perbatasan sangat baik untuk dijadikan mata telinga. Ga perlu tehnologi satelit guna mendeteksi pergerakan lawan, cukup dengan telepon satelit..., beres.


Yang paling gress adalah proses pembiaran pihak Deplu terhadap pembanguan helipad yang jaraknya Cuma 7 meter dari perbatasan. Dan parahnya lagi..., helipad itu katanya digunakan untuk survey bersama. Aneh ya..., masa Dephankam ga tau sih.... Gila bener, trus kalau rapat kabinet para mentri ngapain aja???? Mikirin masa depan bangsa ga sih? Atau cuma mikirin masa kini. Jangan-jangan orang Deplu yang bertugas di LN telah diperilhara dan digalang untuk menjadi kaki tangannya bila sudah menjadi pejabat Deplu. Eh...., Menlu kita pernah tugas di Kuala Lumpur nggak ya????


Saya jadi teringat pernyataan mantan ketua KPK, untuk memperbaiki kondisi bangsa harus secara ekstrim dan dipegang oleh pemimpin yang tegas dan mungkin saja diktator, karena di negara Indonesia sudah bad people with bad system. Walah.............. walah.............

Selanjutnya.."WAJAH KITA ..........."

BANGGAI KEPULAUAN (1)

Kamis, Juni 12

Belum lama ini, Jaka Barnes (reporter Indowarta Biro Banggai) mengundang saya untuk datang ke Banggai Kepulaun, sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah dengan panorama luar biasa indah. Mendengar kata Banggai Kepualauan…,kita serasa diingatkan kembali atas perebutan ibukota kabupaten. Namun lepas dari permalahan politik itu, saya ingin berbagi pengalaman selama saya berada di Banggai Kepulauan.

Perjalanannku 3 hari ini hanya melulu untuk berkunjung ke posnya Jaka Barnes. Saya tidak membawa laptop, meliburkan diri menuangkan uneg-uneh yang kadang malah bikin eneg. Saya hanya membawa kamera digital, itupun kamera poket…, tapi lebih dari lumayanlah. Toh kalaupun ada sesuatu yang perlu segera dituangkan dalam berita... saya bisa pinjam sama Jaka Barnes.....beres.


Menjelang pendaratan kapal.....,walah,,,,,kapal yang kami tumpangi sudah dihadang oleh puluhan perahu sampan. Bukan karena hendak di demo atau adanya pemblokiran pelabuhan. Tapi karena mereka adalah pengemis bersampan. He he he he.


Mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek semuanya bersampan sambil membuka tangan meminta lemparan uang. Mereka mengharapkan belas kasihan para penumpang. Hmmmm..........jadi inget program BLT nih.....






























Selanjutnya.."BANGGAI KEPULAUAN (1)"

TOLERANSI…..

Rabu, Juni 11

Saat ini istilah TOLERANSI menjadi sangat bermakna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia yang didiami oleh lebih 200 juta jiwa dari berbagai suku, etnis, agama, budaya, dan golongan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang diuji kesabarannya guna menghadapi permasalahan yang sepertinya tidak pernah ber-ujung penyelesaian.

Setelah SKB Tiga Menteri terkait Ahmadiyah terbit, semua diajak TOLERANSI. Pihak FPI dan yang lainnya diminta untuk TOLERANSI dengan tidak melakukan kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah. Mereka yang menuntut pembubaran Ahmadiyah nampaknya kurang puas dengan kebijakan pemerintah yang hanya menerbitkan SKB. Tuntutannya sih pembubaran Ahmadiyah dan itu harga mati. Mereka sedikit bersabar sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ahmadiyah terkait SKB itu karena menganggap bahwa SKB adalah embrio terbitnya Keppres pembubaran Ahmadiyah. Yah..., penistaan terhadap agama memang tidak bisa di TOLERIR..., hanya caranya jangan disikapi dengan kekerasan. Lebih elegan kalau menggunakan jalur hukum. Jadikan hukum sebagai panglima. Bukan mentang-mentang jago hukum lalu beralih menjadi panglima. Walah......

TOLERANSI juga harus datang dari penganut Ahmadiyah. Jika memang menganggap sabagai penganut Islam tetapi percaya adanya nabi lain selain Muhammad SAW..., jelas itu membuat geram umat Islam. TOLERAN-nya dengan melakukan redam diri, menghindari provokasi guna menghindari perpecahan bangsa.., karena mungkin saja mereka yang bersimpati terhadap Ahmadiyah karena teraniaya menjadi sasaran berikutnya.

Pihak yang bersimpati yang tergabung dalam AKKBB juga harus TOLERANSI terhadap mereka yang menghendaki bubarnya Ahmadiyah. Walau dengan jelas disuratkan dalam UUD’45 bahwa negara menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ga perlu mengail di air yang sudah keruh...., takutnya nanti malah air keruh semakin ter-obok-obok, tumpah berantakan. Memang sih..., kita hidup dalam komunitas antar bangsa. Persinggungan kepentingan menjadi arena diplomasi guna menguasi bangsa lain. Entah kepentingan ekonomi, keamanan, politik dan ideologis. Semua itu harus ada TOLERANSI-nya. Jika memang tidak sesuai dengan karakter bangsa dan budaya bangsa, kita semua perlu segera menolaknya. Ga bisa di-TOLERIR lagi.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seharusnya dapat memberikan citra Islam yang sejati. Bukan meng-import budaya negara lain yang mayoritas penduduknya juga muslim. Ga perlu tunduk sama OPEC karena kita sudah net imported, ga perlu tunduk sama OKI karena kita negara Pancasila, ga perlu nurut sama Liga Arab karena kita bukan bangsa Arab. Islam kita adalah Islamnya Indonesia. Dan itu TOLERANSI kita terhadap dunia. Jangan-jangan setelah Ahmadiya tuntas..., giliran aliran SYAH yang jadi bidikan. Walah..., jangan mau menerima order dari asing deh. Ntar ormasnya bisa dibubarin lho.

Sekarang ini..., teman saya memberikan TOLERANSI besar terhadap hobi murah meriah. Yakni menonton siarang langsung sepakbola piala Eropa. Teman dengan sangat TOLERAN, memberikan kesempatan kepada saya untuk berteriak kegirangan saat Van Nisteelroy membelokkan arah bola dan GOLLLLL. Bahkan gol ke-2 dan ke-3 belanda yang akhirnya melumat italia juga saya teriakkan. GOLLLLL. Ale ale ale......setelah 30 tahun, Belanda tidak men-TOLERIR lagi penghinaan atas kekalahan demi kekalahan yang diderita dari Italia.


Selanjutnya.."TOLERANSI….."

SKB TIGA MENTERI .......

Senin, Juni 9

Entah karena desakan massa yang menuntut pembubaran atau karena pemerintah telah meyakini bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat , akhirnya terbit juga Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait keberadaan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI). SKB tersebut dikeluarkan berdasarkan keputusan Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. Namun ternyata isinya bukanlah membubarkan, melainkan hanya memberikan peringatan dan perintah kepada Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya. Baik dalam bentuk menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum dan melakukan penafsiran tentang suatu agama.


SKB menyebutkan 6 butir keputusan. Antara lain, "Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia, atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu, yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam.


Selain itu, penganut, anggota dan/atau anggota pengurus JAI juga diingatkan, sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam. Penyimpangan tersebut berupa penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW. Bagi penganut Ahmadiyah yang tidak mengindahkan dua butir peringatan di atas dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.


Dan yang harus digaris bawahi adalah memberikan peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketentraman kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota dan/atau anggota pengurus JAI.


Jelas bahwa pemerintah telah berlaku arif dan bijaksana terkait dengan Ahmadiyah. Pembekuan kegiatan itu harus dan perlu guna meredam gejolak yang semakin meluas seiring dengan penangkapan anggota FPI. Bak api dalam sekam, para penuntut pembubaran Ahmadiyah seolah memperoleh ruang baru atas kasus Monas untuk melakukan penekanan terhadap penguasa untuk segera menerbitkan SKB. Tekanan secara diplomatik juga dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi yang meminta agar pemerintah melarang pengikut Ahmadiyah melaksanakan ibadah haji.

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan peringatan bagi siapa saja yang menganggap bahwa SKB itu merupakan justiifikasi untuk melakukan pembubaran secara paksa dan keras terhadap aliran Ahmadiyah.



Selanjutnya.."SKB TIGA MENTERI ......."

PAHLAWAN DAN PECUNDANG

Saat sekarang ini…, saya menghindarkan diri untuk melihat TV pada pagi hingga malam hari. Kenapa???, karena tayangan yang itu-itu saja. Mulai dari varety show, sinetron hingga berita. Semuanya serba sama. Tidak ada yang berbeda. Semuanya berlomba mencari rating dengan materi yang nyaris sama. Bedanya adalah stasion tv mana yang lebih dulu menyiarkan. Hmmmmm.


Yang paling saya hindari dari tayangan selama satu minggu terakhir adalah berita. Kenapa????, ya karena beritanya membuat saya tak habis pikir. Semua menayangkan aksi balas membalas, keras dibalas keras. Apel ormas dibalas dengan apel ormas. Bukan day per day lagi melainkan hour to hour. Seolah negara ini akan menghadapi kerusuhan sosial. Memang sih..., masyarakat harus diberi wawasan terkini seputar permasalahan nasional yang dihadapi bangsa ini. Cuma..., kemasan yang dibuat oleh stasion sedikit banyak telah membingungkan masyarakat.


Tapi ..., dengan tayangan berita itu minimal saya menjadi tahu siapa FPI itu. Saya juga menjadi tahu siapa saja yang mendukung FPI, walau itu juga masih kulitnya doang. Nggak ada tayangan berita mengulas secara mendalam siapa dibalik FPI, yang menggerakkan FPI, yang mendanai FPI. Selain bergerak dalam bidang dakwah anti kemaksiatan, apakah juga FPI mempunyai bidang usaha lain.


Pernah saya cari di google dengan mengisikan kata FPI. Walahhhh, informasi yang saya peroleh adalah aksi kekerasan dan kekerasan. Kalaupun bukan aksi kekerasan berupa informasi tentang dakwah yang intinya memperbolehkan tindakan anarki terhadap ”obyek” jika pemerintah lamban menyikapi tuntutan mereka.


Banyak kalangan yang menganggap penanganan terhadap FPI adalah diskriminasi dengan tidak melakukan hal yang sama dengan AKKBB. Padahalnya yang disikapi oleh pemerintah adalah aksi kekerasannya, terlepas ada provoktaronya. Jika memang tuduhan ada provokator, seorang tokoh LSM mengatakan salahnya sendiri mau terprovokasi hingga melakukan aksi kekerasan. Anehnya lagi, kekerasan itu dipimpin oleh salah satu pejuang hukum yang kini ”ngacrit” entah kemana?, main petak umpet.


Ada yang bilang bahwa Munarman ”dihabisi” untuk memutuskan jaringan informasi. Karena semua mungkin tahu kalau untuk ”mengorek” sang habib sangat susah bahkan nyaris mustahil. Beda kalau Munarman ikut diciduk, mungkin sedikit lebih mudah mendapatkan keterangan. Entah siapa yang berada di belakang Munarman. Kita juga tidak tahu.., kenapa yang bersangkutan dipecat dari YLBHI dan bergabung ke FPI. Padahal ”domain” YLBHI adalah hukum untuk semua yang teraniaya secara sosial, ekonomi, politik, hukum dan keamanan. Kenapa dalam sekejap bisa melupakan domain itu. Saya jadi ingat permainan waktu masih kecil dulu. Permainan jalangkung ......”Datang tak diundang...., pulang tak diantar”. Jadi komen dikit neh. Sang habib bisa saja jadi pahlawan. Kalau yang itu .......??? Tak lebih jadi pecundang.

Selanjutnya.."PAHLAWAN DAN PECUNDANG"

LOGO BARU

Senin, Juni 2

Setelah mencoba dengan berbagai tampilan logo, saya baru sreg yang sekarang ini. Logo itu bergambar Mulut Menggigit Peluru. Saya rasa, logo itu pas dengan kondisi bangsa kita dimana para pemimpinnya saling “lempar kata melalui mulut bak menembakkan peluru”. Padahal kata temen kongkow saya di Palu yang ahli tentang peluru, mengatakan kalau peluru tidak pernah pilih sasaran makanya ada istilah kena peluru nyasar. Dah apesnya…, peluru mulut para pemimpin kita nyasar mengenai rakyatnya sendiri. Walah…….

Selanjutnya.."LOGO BARU"

1 JUNI 2008

Hari minggu, 1 Juni 2008, saya sengaja tidak kemana-kemana. Melulu buat nongkrongin TV. Selain karena penyakit malas sedang melanda. Dengan tidak kemana-kemana, saya bisa lebih memanjakan diri, berleha-leha. Maklumlah, di kota Palu untuk urusan bersantai cuma ada 2 pilihan, ke pantai atau minum kopi bareng-bareng di kedai kopi, membicarakan isu politik lokal. Mungkin suatu saat saya akan menuliskan budaya minum kopi di Palu. Kembali ke masalah memalaskan diri, bukan berarti ikut anjuran pemerintah agar rakyat menjadi malas karena sudah diberi makan seperti tudingan Mbak Mega. He he he

Terkait dengan masalah TV. Saya paling usil dalam urusan remote TV. Nggak pernah berlama-lama di satu salauran. Pindah sana pindah sini. Pernah saya mengejar tanyangan infotainment tentang Sandra Dewi. Mulai dari RCTI hingga TV One semuannya memberitakan, dengan materi yang itu-itu aja.

Nah.., pas hari minggu 1 Juni 2008 kemarin, saya terkaget-kaget. Semua TV swasta nasional menayangkan adegan smackdown ala FPI terhadap Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), cuma yang kemarin itu lebih komplit. Komplitnya dengan menggunakan tongkat, kayu plus pengeras suara. Jika smackdown hanya adegan bo’ongan, yang dilakukan oleh massa yang ber-atribut FPI benar-benar ”LIVE” dan tanpa skenario. Bukan main serunya.

Serunya adalah…, saya bisa menyaksikan tayangan smackdown itu dari berbagai stasiun swasta dengan berbagai sudut pengambilan gambar. Lebih makin seru lagi karena 1 orang dari AKUKBB di-smackdown puluhan orang dari …… Jika itu adalah benar-benar skenario maka tayangannya tidak akan lolos sensor dan akan mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia karena menayangkan adegan kekerasan. Lha kalau yang melakukan kekerasan, siapa yang negur? Emang selama ini ada yang negur mereka?...,

JANJI AKAN

Saya jadi senyum simpul saat membaca di media on line kesayangan saya, kompas.com dan korantempo.com dimana Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira menegaskan bahwa Polri akan menindak tegas siapa pun yang melakukan kekerasan. Lha.., aparat kok hanya berjanji “akan” menindak tegas. Sudah saatnya polisi menjadikan TV sebagai alat bukti, jangan tunggu laporan dari yang merasa dirugikan. Dibayar buat mengamankan kok malah berjanji “akan”.

Imbas dari tayangan itu ditanggapi beragam oleh sejumlah pihak dan umumnya mengutuk aksi kekarasan yang dilakukan, seperti datang dari Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Malik Haramain yang mengatakan jika pemerintah tidak bertindak tegas dengan memproses hukum para pelaku kekerasan, Ansor bersama elemen lain seperti Garda Bangsa akan membubarkan FPI. Gawat nehhh.

JIKA TIDAK SIAP PERANG, JANGAN MENANTANG

Sementara itu, Komandan Komando Laskar Islam, Munarman nampaknya mengamini saja penyerangan dengan kekerasan terhadap massa Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dilakukan sejumlah ormas Islam karena AKKBB dianggap mendukung Ahmadiyah. Katanya, "Kenapa mereka mengadakan aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB juga memasang iklan di koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang," .

Alasannya lagi, Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) telah memutuskan Ahmadiyah sebagai organisasi yang sesat dan menyesatkan maka organisasi itu layak disebut organisasi kriminal. Padalah SKB menteri terkait Ahmadiyah belum juga dikeluarkan oleh pemerintah. Saya jadi mikir nehhh. Belum ada SKB saja sudah menyerang massa yang dianggap membela Ahmadiyah. Bagaimana nanti bila SKB itu betul dikeluarkan, maka bisa saja SKB merupakan justifikasi untuk melakukan pembantaian sesama manusia oleh sesama. Itu sama saja negara melakukan peluang terjadinya pembantaian. Bener ga argumen saya..?

Harapan saya sih…, Ahmadiyah bubar dengan alami saja. Bina pengikut mereka, ajak dan rangkul ke dalam akidah yang benar dengan rasa sayang sesama Umat Islam. Kebebasan beragam dan berkeyakinan toh tidak harus merusak akidah. Semoga......

Selanjutnya.."1 JUNI 2008"

BOLA LIAR ............

Minggu, Juni 1


Setelah Liga Champion yang dimenangi oleh Manchester United usai digelar, kini pegila bola mulai mengarahkan kegilaannya pada Piala Eropa. Banyak ulasan dan prakiraan jelang perhelatan sepakbola paling akbar di benua biru itu. Bila pengamat sedikit netral dengan ulasannya tentang negara mana yang akan maju ke babak selanjutnya bahkan mengira-ira siapa yang pantas menuju puncak. Tidak demikian dengan para pecandu bola yang menjagokan kesebelasannya. Ada yang bela habis-habisan kesebelasan Belanda, ada Jerman, Italia dan lain-lain. Pokoknya…yang dijagokan bakal jadi juara, ga peduli kata orang.



Kalau saya sih hanya sebagai penggembira saja karena kesebelasan Inggris yang saya “gadang-gadang” ternyata keok. Terpaksa saya harus mengalihkannya ke Belanda.., selain ada kedekatan historis, juga itung-itung balas budi karena Belanda telah mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang mudah mencari kambing hitam. Bangsa yang mudah menjatuhkan satu sama lain. Tidak mau bersatu menjadi satu kesatuan.
Katanya negara kesatuan, kok gak bersatu melawan kebodohan dan kemiskinan. Payah....!!!!


Bila di benua biru sedang memfokuskan pada bola sepak, di negara kita banyak orang sedang memainkan bola liar. Kenaikan BBM yang dilakukan oleh pemerintah bak bola liar yang seolah dilemparkan di tengah-tengah masyarakat yang terengah-engah mensiasati hidup serba sulit. Pengamat ekonomi dan politik mempertanyakan dampak negatif akibat kenaikkan tanpa mau tau dampak positifnya.

Kini, banyak yang sedang memainkan bola liar itu. Dari kalangan mahasiswa, LSM, tokoh politik hingga para pengamat. Pun tidak tanggung-tangung, mantan presiden Indonesia yang menjadi warga negara kehormatan Jerman juga turut memainkan bola liar. Bahkan dengan gaya berapi-api, Habibi mengajak rakyat untuk tidak memilih orang yang dianggapnya telah ingkar janji. Persis sama dengan tayangan iklan Wiranto, dengan format berita berjudul "Wiranto Masih Berharap SBY Penuhi Janji soal BBM".

Kampanye Hitam Atau Bukan???

Kontan saja, tayangan iklan itu memancing reaksi dari kubu Susilo karena secara lisan belum pernah berjanji tidak akan menaikkan BBM. Bantahan muncul dari Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa yang menyatakan iklan Wiranto sangat tendensius dan menyesatkan. Sementara itu, jubir presiden, Andi M menyatakan bahwa bantahan perlu dikeluarkan karena jika dibiarkan akan berlarut menjadi iklan baru "SBY Tidak Menepati Janji".

Saya setuju dengan argumen nya pakar komunikasi politik Effendi Ghazali yang menyatakan bahwa dalam komunikasi politik modern sebaiknya iklan semacam itu dibalas dengan iklan juga, jangan lantas marah-marah. Nah..., Andi Mallarangeng..., saya usul. Anda sebagai JUBIR presiden misalnya membuat iklan yang menyindir Wiranto dengan sebutan JABIR. JAGA BICARA, jika tidak ada fakta. Ha ha ha ha

Selanjutnya.."BOLA LIAR ............"
Image hosted by servimg.com

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP