Tampilkan postingan dengan label Humor Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Politik. Tampilkan semua postingan

Kopi Goyang 90 Kali

Rabu, Oktober 6

Sore ini Jakarta dipayungi hujan dengan suara geledek bersahutan diselingi kilatan cahaya petir. Enggan rasanya meninggalkan kursi melihat cuaca yang ektrim ini. Entah sudah senja ke berapa kali, Jakarta diguyur hujan. Pengamat cuaca telah memprediksikan bahwa cuaca ekstrim ini merupakan bagian dari anomaly cuaca sepanjang tahun 2010 mungkin saja sudah dimulai sejak 2009. Ada penulis yang mengatakan bahwa anomali cuaca ini berkorelasi dengan terpilihnya SBY kedua kalinya. Ah ada ada saja. Kalau memang tidak suka dengan SBY ya jangan mengkaitkan cuaca ekstrim dengan beliau. Tidak elok rasanya.

Sambil membaca media online, saya sesekali menikmati kopi hitam kesukaanku. Kopi hitam ini diseduh oleh OB yang sudah tahu gimana caranya menyeduh kopi. Syaratnya adalah menyeduh kopi dengan air mendidih, lalu 2 sendok kopi dan 3 sendok gula, diaduk searah jarum jam sebanyak 90 kali. Pasti ada yang bertanya… kenapa harus 90 kali. Ya harus sebanyak itu biar biang kafeinnya keluar dan membuih. Rahasia ini saya peroleh setelah mengamati racikan kopi Gresik yang pooolllll enake. Dalam pengamatan saya.., goyangan senduk mengaduk kopi sebanyak 90 kali. Dan ini saya hitung di setiap tamu yang meminta kopi. …, Pantesan aja ibu2 itu lengannya montok.. karena harus mengaduk kopi sebanyak 90 kali pergolas. Hitung sendiri bila ada 100 tamu dalam sehari, berapa kali dia mengaduk. Hoh ho ho…

Kembali ke masalah cuaca ektrim. Pemerintah dalam sidang kabinetnta telah mewaspadi potensi ancaman cuaca ektrim terhadap ketersediaan pangan. Walaupun stok beras masih dirasa cukup, namun beberapa bulan kedepan masyarakat akan meningkat kebutuhan makannya. Ada beberapa peristiwa besar semisal Lebaran Haji, Natal dan Tahun Baru. Semoga cuaca ektrim ini tidak berkepanjangan dan mengakibatkan gagal panen yang ujung-ujungnya meroketnya harga pangan. Yang untung pasti importer sembako. Dasar …..

Hmmm.., berita hari ini masih diwarnai tanggapan atas ditundanya kunjungan RI1 ke negeri Belanda. Banyak pengamat yang menyangkan sikap SBY itu. Lebih parah lagi ada yang mengatakan bahwa SBY penakut dan panik. Menurut saya sih nggak juga. Daripada dipermalukan lebih baik menunda saja. Harga diri bangsa lebih berarti kata SBY. Cuma saja… kenapa dengan Malaysia tidak berani bahkan terkesan menjual harga diri. Gubrakkk… Ngopi lagi ah….

Soal kopi mengopi, saya pernah minum kopi di sebuah warung kopi di daerah Krawang. Tapi kenapa rasa kopinya datar-datar saja, padahal takaran kopi dan gula sama persis. Setelah diamati.., ternyata yang goyang bukan sendoknya tetapi pantatnya goyang sebanyak 90 kali. Halahhh……

Selanjutnya.."Kopi Goyang 90 Kali"

RUMOR ................

Kamis, September 23

Dalam kurun waktu seminggu terakhir, kita dihadapkan kepada rumor menarik seputar terorisme, kapolri baru, dan DSLR pengganti Nikon D90 yang legendaris. Kita mulai dari rumor terorisme.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Abu Bakar Baasyir (ABB) telah menjadi momok bagi aparat penegak hukum khususnya Den 88 Antiteror. Bagaimana tidak, ABB telah dibidik bertahun-tahun dan baru kali ini dapat disentuh dengan aksi terorisme. Beberapa tahun lalu, ABB meringkuk dipenjara karena tuduhan memalsukan dokumen dan bukan karena pasal terorisme. Belum tuntas pujian dialamatkan kepada Polri terkait membongkar jaringan terorisme Aceh dengan menyeret ABB, pujian kembali datang dengan tertangkapnya pelaku perampokan Bank Niaga-CIMB. Namun, disaat bunga pujian belum merekah, tanpa diduga Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumut diserang oleh 10 orang bersenjata secara membabi buta dan menewaskan 3 personil polri. Hmmm…. Untungnya kejadian penyerangan Mapolsek itu tidak dikaitkan dengan arogansi Den 88 di Bandara Udara Polonia Medan.

Rumor berikutnya adalah rumor jabatan Kapolri yang baru. Kalangan DPR sudah mengendus bau tak sedap terkait nama Imam Sujarwo yang dirumorkan adalah besan Aulia Pohan yang juga besan presiden SBY. Entah siapa yang mengembuskan, pihak istana tidak menanggapi rumor ecek-ecek tersebut. Kalaupun benar Imam Sujarwo adalah besan Aulia Pohan, berarti Imam Sujarwo adalah polisi professional karena membiarkan besannya masuk bui…, klop dengan sikap SBY. Halah…..

Dan… saatnya yang ditunggu-tunggu. Nikon sudah merilis D7000 sebagai pengganti Nikon D90 yang legendaris. Saya sudah menengok situs resmi Nikon Amerika Serikat, nama Nikon D7000 sudah ada di deretan produk mereka, lengkap dengan label NEW berwarna kuning melintang di atas gambar kamera DSLR ini. Dari data spesifikasinya, tak mungkin kalau seseorang penggemar berat Nikon tak tergoda pada kamera yang satu ini. Kenapa? …

Pertama, sensornya yang berukuran 23,6 x 15,6mm mampu menangkap objek dengan kualitas 16,2 megapixel. Selain itu, D7000 ini juga mengusung fitur sistem autofocus 39-points dan menggunakan viewfinder yang memiliki cakupan 100%. Fitur itu tak berhenti di sana karena masih ada kamera ini juga mampu merekam video dengan kualitas 1080/24p dan 720/30p yang akan disimpan dalam kartu memori SD lewat slot yang disediakan. Tak hanya satu, Nikon memasang dua slot langsung sehingga pengguna tak perlu khawatir kehabisan ruang simpan meski menyimpan gambar dalam kualitas tinggi.

Secara fisik, Nikon D7000 ini tak berbeda jauh dengan kebanyakan kamera DSLR. Bentuk standar ini pula yang memberikan jaminan kalau Nikon D7000 ini bakal nyaman dioperasikan. Selain itu, beberapa bagian dari bodi kamera ini dibuat dari magnesium alloy untuk memastikan daya tahan kamera ini. Kalau dibandingkan dengan D90 yang sudah saya miliki, Nikon D7000 ini memang terasa sebagai upgrade besar-besaran namun tentu saja ada harga yang harus dibayar. Kabarnya Nikon memasang label harga sebesar US$1.200 atau sekitar Rp10,8 jutaan. Tertarik? .. Saya sih mo nabung dulu…….

Selanjutnya.."RUMOR ................"

Amandemen

Kamis, Agustus 19

Ditengah hiruk pikuk memperingati HUT RI ke 65, Ruhut Poltak Sitompul kembali memanaskan lawan politiknya. Pernyataan tentang wacana untuk melakukan amandemen UUD 1945 tentang masa jabatan presiden yang bisa menjabat ketiga kali atau bahkan ke empat kali. Sontak saja, pernyataan yang dianggap kampungan dan mendiskreditkan Partai Demokrat mendapat reaksi, dan kebanyakan mengecam bahkan oleh kalangan internal Partai Demokrat.

Bagi saya, pernyataan Ruhut ini cukup menarik dan mengundang senyum kecut. Bayangkan, bila pasal 7 UUD 1945 hasil amandemen sebelumnya yang berbunyi Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan, diganti menjadi Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Asikk khan, bisa jadi presiden seumur hidup. Kasian juga si ibu itu, pasti kalah lagi kalah lagi. Kasian partai-partai itu, ngemis jatah mentri lagi… huhhhh

Lalu…??? Ya perlu dibatasilah, soalnya jika masa jabatan presiden tidak dibatasi maka seseorang akan otoriter, Abuse of Power (menyalahgunakan kekuasaan), Regenerasi kepemimpinan nasional macet, Seseorang bisa menjadi dictator, Timbulnya kultus individu.

Kalau melihat Ruhut yang ngemeng, saya sih menjadi faham dan membetulkan bahwa akan memunculkan kultus individu. Simak aja kalau Ruhut muncul, maka dia akan menjadi penjilat sejati. Kalimat-kalimat Ruhut biasanya selalu menyanjung-nyanjung SBY. Katanya, amandemen sah-sah saja dilakukan sejauh mana rakyat memang masih mendukung. “Sampai sejauh ini, belum ada figur yang seperti SBY, berprestasi dan mampu menjamin kesejahteraan rakyat dan rakyat itu masih membutuhkan SBY. Seperti jaman Orde Baru dulu, semua memuja Soeharto dan semua meminta petunjuk dan intruksi Soeharto. Cukup dimaklumilah, Ruhut khan dulunya kader Golkar. Ya begitu itu kader Golkar, dimanapun mereka berada. Waspadalah ….. waspadalah.

Uppssss…

Selanjutnya.."Amandemen"

Rombak !!!!

Selasa, Mei 11


Akhirnya saya bisa merombak total tampilan blog ini. Selain karena ingin mencari suasana baru juga karena lagi latah seperti pak SBY yang sedang ingin merombak kabinet pasca mundurnya SMI dari Menkeu. Ukuran template saya perkecil karena yang besar sangat merepotkan seperti koalisi SBY-Boed yang besar itu. Entah ada atau tidak ada aspek psikologisnya dengan kalahnya PD di Pansus Century, saya mengganti warna dominan biru menjadi dominan putih. Selain karena putih dianggap warna netral juga supaya keliatan bersih. Anggap saja saya non-partisanlah.

Di beberapa bagian saya tetap menampilkan widget, seperti Shout Mix yang saya anggap perlu karena itu untuk saling menyapa dengan cepat tanpa harus membaca dan memberikan komentar pada salah satu postingan walau harapannya sih agar para blogger sudi untuk membaca dan memberikan komentar. He he he…Selain Shout Mix, juga ada tampilan recent post, link banner, link para sahabat dan tentunya follower. Kira-kira beginilah tampilan blog saya. Bisa dibilang merubah bahkan bisa saja disebut merombak total.

Perubahan dan perombakan ini saya lakukan dengan cepat tanpa ragu-ragu karena saya bukan tipe ragu-ragu seperti pemimpin kita itu. Kalau memang ingin mensejahterakan rakyat kenapa ragu-ragu dalam mengambil keputusan?? Bahkan mengorbankan SMI yang jelas-jelas putri terbaik bangsa dan bekerja sesuai aturan main. Yang secara tegas menolak berkompromi soal Lapindo dan Pajak.

Selamat Jalan, SMI. Saya menunggumu untuk 2014-2019.

Selanjutnya.."Rombak !!!!"

ASBAK HITAMKU

Senin, Mei 10

Terbata-bata aku membaca kalimat demi kalimat yang mengalir begitu indah. Tak terasa belasan batang rokok menumpuki mulut asbak mungilku. Yah… asbak mungil itu yang selama ini menemaniku dalam keseharian, yang selalu setia tanpa bicara bahkan tanpa pamrih apa-apa. Asbakku itu sudah berusia 10 tahun, terbuat dari kayu hitam, kayu khas dari Poso, Sulawesi Tengah. Terkadang, aku mematikan rokok dengan menekan-nekan ujung bara api tatkala muncul kecemasan di dada atau aku menemunkan ide cemerlang yang segera dituangkan dalam bentuk tulisan. Ah… sungguh senang bila memiliki teman tanpa banyak bicara namun setia walau selalu ditekan-tekan, dikotori pula.
Yah… kesetiaan merupakan mahal harganya. Sebagai contoh ekstrim, kesetiaan terhadap koalisi menjadi acuan untuk merombak kabinet SBY-Boediono. Isunya, PKS dan PPP menjadi sasaran untuk dihapuskan dalam daftar koalisi pasca dilepasnya Sri Mulyani dari Menkeu. Kedua partai ini dianggap duri dalam daging, menohok kawan seiring, mengunting dalam lipatan dan makan tulang teman. Sungguh terlalu.

Hanya saja, kenapa Ical yang menjadi pemimpin koalisi dan sepertinya berperan sebagai Perdana Menteri dengan mengesampingkan Boediono. Seperti pernyataan Priyo Budi Santoso yang mengatakan bahwa bulan madu sedang bersemi, seolah memberikan gambaran utuh bahwa SMI memang didepak dari jabatan Menkeu karena menjadi momok bagi kelompok usaha Bakrie. Priyo juga menegaskan bahwa bisa saja dosa politik SMI diputihkan sekaligus mempeti es khan kasus Century. Enak aja lu….

Ah… mending merokok lagi dan bercengkerama dengan asbak yang selalu setia menemaniku hampir 10 tahun lamanya…. Asbak kayu hitamku dan bibir hitamku semoga tidak sama dengan perilaku politisi hitam.

Selanjutnya.."ASBAK HITAMKU"

Cerita Usang Kembali Datang.....

Selasa, April 7

Saya kemarin menghabiskan waktu dengan masuk ke milis. Entah sudah berapa bulan saya tidak menyapa kawan sejawat. Beberapa kawan pernah mendiskusikan pentingnya pendidikan politik bagi anak-anak. Dan saya dapati cerita menarik bagaimana orang tua menjelaskan pemahaman politik. Begini ceritanya....

Suatu ketika, anak yang baru kelas 2 SD melihat tayangan televisi dari sudut sofa merah kesayanganya. Dan dia begitu sebel melihat film kartun kesukaan sering terhenti karena munculnya iklan politik dari partai anu dan inu. Lalu, sang anak bertanya dengan polosnya: “Ayah, politik itu apa sih?” Ayahnya lalu menjawab dengan teori pengandaian. “Tentu akan ayah terangkan nak. Untuk mudahnya, akan ayah jelaskan dengan mengambil contoh keluarga kita sendiri”


1. Ayah pulang dari kerja membawa uang, maka ayah bisa dicontohkan sebagai Kapitalis.

2. Ibumu yang mengelola dan membelanjakan uang, maka kita sebut ibumu itu Pemerintah.

3. Ayah dan Ibu mengurus kamu dan kakakmu, maka ibaratkan kalian adalah rakyatnya.

4. Sementara itu, bi Inah pembantu rumah tangga kita, kita sebut saja sebagai Buruhnya.

5. Sedangkan satpam yang menjaga kita di depan sana setiap malam adalah ibarat aparat keamanan.

6. Dan adikmu yang masih pakai pampers itu, boleh disebut sebagai generasi muda masa depan.

Sudah paham..anakku sayang?" tanya sang ayah. Tentu saja, anak baru kelas 2 SD belum paham benar dengan teori pengandaian, lalu tertidur dengan sejumlah pertanyaan besar.

Menjelang tengah malam, dia terbangun karena adiknya menangis lalu dengan inisiatifnya, mengetuk pintu kamar orang tuanya. Namun anak kecil itu tak mendapati orang tuanya dikamarnya. Lalu dia pergi ke kamar tidur bi Inah, pembantunya, betapa kecewanya ternyata bapaknya sedang tidur bersama pembantu. Dengan rasa jengkel yang mendalam, anak kecil lalu melapor ke pos jaga satpam di halaman rumah, namun diurungkan karena mendapati ibunya sedang “bermain” dengan satpamnya. Anak kecil itu kemudian tidur lagi.

Esok harinya, ayahnya balik bertanya pada anaknya, apakah kiranya bisa diterangkan arti politik dalam bahasa kamu sendiri?

Anak kecil itu menjawab: "Ya ayah, sekarang saya bias mengerti. Ternyata Kapitalis ngerjain buruhnya. Sementara pemerintah berkolusi dengan aparat keamannya. Rakyat benar-benar dibodohi, dan generasi muda semakin hancur."

Selanjutnya.."Cerita Usang Kembali Datang....."

Di Sudut Coffe Shop

Jumat, April 3

Suatu ketika di sebuah coffe shop berlangsung perbincangan kondisi terkini masalah bangsa. Di seberang meja tempat saya sering membunuh waktu, sebuah komunitas eksekutif muda dengan dandanan metropolis, berdasi dan bergincu tebal serta menggenggam blackberry keluaran terbaru menggosipkan tentang pemilu. Salah satu bertanya “apa susahnya sih menjadi pemilih dalam pileg nanti? Bukankah itu kegiatan yang hanya dilakukan beberapa menit saja?

Saya tersenyum sendirian. Ah..., mungkin saja ada yang mengatakan bahwa itu adalah pertanyaan bodoh. Tapi jika disikapi sedikit serius, pertanyaaan sederhana itu lebih pada kebimbangan untuk mengikuti pemilu, apatisme dan masa depan kelam usai pemilu.

Temannya yang ayu kemudian mulai mengeluarkan uneg-uneg bahwa pemilu kali ini bikin bete. Semua caleg dan parpol menunjukkan muka dan sikap yang sama. Menjadi orang yang rajin menyambangi rumah ibadah, rajin mengikuti pengajian, rajin menyapa warga sekitar. Dan...sekaligus pula seperti malaikat yang turun dari langit, memberikan janji-janji surga, melakukan wisata bencana di lokasi bencana. Bah.......

Lelaki disebelahnya yang sering memainkan batang rokoknya namun cukup gemulai malah lebih ekstrim. Menolak pemilu dengan menyatakan dirinya golput. Katanya “pemilu kali ini gak ngefek”.

Saya sih lalu berkata pada diri saya sendiri. Mencoba mendapatkan pembelajaran atas pengupingan. Bagi yang menginginkan golput, adalah keliru jika sikap itu bisa membawa perubahan. Golput tidak akan merubah apapun, hanya sebagai aksi politik penolakan terhadap pemilu padahal politiklah yang mempengaruhi segenap kehidupan kita.

Lalu?

Ah posting gak penting.....

Selanjutnya.."Di Sudut Coffe Shop"

Ketika Berbicara Tentang Perempuan.....

Jumat, Maret 27

Suatu ketika saya bertemu dengan nara sumber dari LSM yang peduli terhadap perjuangan perempuan Indonesia. Dalam perbicangan kami, sumber berita menceritakan kepedihan dan kepiluan perempuan yang teraniaya dan tercampakkan oleh kekolotan dan ketololan jaman. Katanya, “perempuan kita tidak berdaya karena memang tidak memiliki kemampuan untk melawannya”. Dia lalu mencontohkan betapa pilunya para TKW yang menjadi korban perkosaan dan kebrutalan sang majikan. Sistem yang dibangun pemerintah untuk menyelamatkan dan mengamankan harkat dan martabat perempuannya tidak lebih sebagai slogan belaka. Jika mengaitkan kondisi tersebut dengan nara sumber saya yang berasal dari deplu, sepertinya klop. Katanya, perusahaan pengerah tenaga kerja tidak melakukan pelatihan secara optimal kepada calon TKW. Akibatnya, banyak majikan jengkel karena TKW yang mereka pakai tidak bisa bekerja. Kasarnya gaptek. Sebuah pengalihan kesalahan yang sebetulnya bisa ditanggung renteng antara pemerintah dan perusahaan jasa.

Ketidakberdayaan perempuan juga ada di ranah politik. Keterwakilan perempuan sebesar 30% menjadi tak berarti tatkala Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. Perjuangan para perempuan yang ingin merubah nasib para perempuan Indonesia melalui parlemen semakin berat. Disisi lain, sikap perempuan hingga saat ini sepertinya masih mendua. Ingin perempuan di Indonesia bisa mengelola negara ini tetapi tidak mendukung perempuan itu sendiri.

Upaya untuk memasukkan isu perempuan menjelang pemilu semakin menarik dicermati. Sebuah LSM belum lama ini berjanji akan mengeluarkan daftar para lelaki yang berpoligami. Para lelaki yang berpoligami mungkin saja kelabakan. Parpol yang memiliki kader berpoligami-pun bisa jadi kebakaran jenggot. Entah ini sebuah gerakan perempuan untuk perempuan atau sebagai upaya kampanye hitam? Disebut kampanye hitam bisa jadi bukan bila itu sebuah fakta yang harus diketahui masyarakat. Lalu...?

Selanjutnya.."Ketika Berbicara Tentang Perempuan....."

BLOG BARU ya BLOG LAMA JUGA

Sabtu, Maret 21

Entah kenapa, hari ini saya muak dengan politik. Kemuakan saya muncul setelah adannya rencana koalisi permanen PDIP-GOLKAR-PPP. Beberapa pengamat mengatakan bahwa koalisi mereka disebut Golden Triangle, dan semakin mengerucut setelah menyetujui lima kesepakatan ketiga partai itu. Ah..ternyata kekuatan ORDE BARU kini berkumpul kembali. PDIP, Golkar dan PPP adalah partai yang pernah mengisi lembaran kelam jaman kejam orde baru dan berencana kembali mengisi lembaran baru dengan koalisi yang lebih permanen dan lebih merata sharing powernya. Dan ketiga partai warisan orde baru tersebut telah menyepakati 5 kesepakatan.

Yang paling menarik untuk dicermati dari 5 kesepakatan antara Golkar dengan PDIP adalah butir 2 yakni “memperkuat sistem pemerintahan presidensial sesuai dengan amanat UUD 1945, yang memiliki basis dukungan yang kokoh di DPR”. Spirit yang bisa ditangkap dari kesepakatan tersebut adalah merebut eksekutif sekaligus legislatif. Jika ini tercapai maka bisa merusak sistem check and balance antara presiden dan parlemen (DPR).

Au ah lap.

Selanjutnya.."BLOG BARU ya BLOG LAMA JUGA"

BLOG TO BLOG

Jumat, Maret 20

Judul ini terinspirasi dari caleg yang melakukan silaturahmi politik dengan cara door to door. Entah kenapa, putaran pertama kampanye pihak KPU membolehkan peserta pemilu melakukan kampanye terbuka, para caleg malah dilakukan dengan cara seperti itu. Beberapa temuan dan pernyataan dari caleg yang menggunakan pola door to door mengatakan bahwa cara itu lebih efektif karena langsung bisa mengukur seberapa jauh target massa bisa direngkuh. Alasan lainnya adalah karena jika harus melakukan kampanye terbuka dilapangan akan membutuhkan dana besar, dan tingkat persaingan sesama caleg dari partai yang sama akan mencuat. Ujung-ujungnya timbul friksi di dalam partai. Hmm..alasan yang boleh diterima. Lalu kenapa dengan blog to blog ?

Postingan kali ini untuk menjawab beberapa per-er yang tertunda dan sebagai ucapan terima kasih saya kepada sesama blogger yang telah memberikan award. Sebagai buah hasil blog to blog. Award apapun bentuknya dan ikutannya (dengan embel-embel kerjaan PR) merupakan apresiasi sahabat maya dengan segala pernak-perniknya. Dan blog to blog adalah menurut saya merupakan silaturahmi maya dengan sesama bloger. Menyapa sahabat di chat box atau shout mix atau sejenisnya, atau bahkan memberikan komentar terkait postingan dari blog yang kita sambangi.

Mungkin saja pola blog to blog belum dilirik oleh para caleg karena model pemilu kali ini menggunakan pola daerah pemilih sehingga cukup membatasi para caleg membidik sasaran. Beda misalnya jika pileg pada 9 April 2009 usai, bisa saja tim sukses capres dan cawapres mengunakan silaturahmi maya (blog to blog), selain efektif pun sekaligus murah. Cukup duduk manis lalu kasih komen bla bla bla dan ajakan untuk contreng anu ani ano ane dan ana. Nah bersiap-siaplah para blogger sering disambangi tim sukses capres-cawapres anu ani ano ane dan ana.

Mungkin clometan saya diatas ada korelasinya dengan pernyataan Jusuf Kalla kepada insan blogger, katanya : “Blogger boleh kritik saya tapi jangan hina saya”. Rupanya JK, sang saudagar itu sudah bisa berhitung bahwa melawan blogger pasti banyak ruginya. Pernyataan itu bisa mengandung ajakan untuk memberikan kenyamanan berdunia maya atau bahkan sebagai ancaman terselubung sekaligus ujicoba kemampuan UU No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang intinya mengatur kejahatan di dunia maya. Menghina di dunia maya bisa jadi merupakan kejahatan. Mau tau?.

Ini misalnya. Di BAB VII tentang PERBUATAN YANG DILARANG, pasal 28 (2) melarang ”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)”. Atau pasal 29 yang melarang “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.

Kembali atas niatan membuat tulisan ini, pertama saya ucapkan terima kasih sama Latsmi Yovani, yang memberikan award dengan embel-embel saya harus unjuk muka. Ah..., ini yang susah. Muka jelek dan sangar kok dipamerin. Yang kedua untuk Mbak Tika. Mbak Tika ini sering saya longok, maklum sesama pencuri waktu kerja. He he he. Dan embel-embelnya saya harus menjawab pe-ernya. Mbak-mbak...ngeblog di waktu kerja kok dikerjain suruh jawab ini itu. Tapi nggak papa, karena itu resiko perbuatan melakukan silaturahmi maya. Semoga saja jawaban maya saya berkenan dan memuaskan pemberi pe-er. Kalau nggak puas..mari kita puaskan di dunia nyata..Halah........................

Tapi jawaban menyusul ye....

Selanjutnya.."BLOG TO BLOG"

Fakta Tentang Jusuf Habibie dan Jusuf Kalla

Kamis, Februari 19

Membaca sejarah perjalanan bangsa adalah salah satu kegemaran saya. Selain karena untuk menambah wasasan sekaligus untuk memperkaya tulisan, juga karena sejarah sepertinya mengalami pengulangan dengan caranya sendiri. Seperti berakhirnya masa tugas Bung Karno dan Soeharto, diawali dengan keterpurukan ekonomi yang diselingi dengan antri beras lalu diakhiri dengan demonstrasi mahasiswa. Kemudian....., saat ini saya sedang tersenyum simpul dengan sejarah perjalanan hidup Habibie dan Kalla. Sepertinya ada persamaan diantara mereka. Sementara itu, adakah perbedaan diantara keduanya?

Persamaan Habibie dan Kalla:

Habibie dan Kalla sama-sama mengandung nama Jusuf.

Habibie dan Kalla sama-sama berasal dari wilayah Indonesia Timur.

Habibie dan Kalla sama-sama mempunyai istri dari seberang. Bila Habibie mendapatkan jodoh orang Jawa, maka Kalla mendapatkan jodoh orang Minang. Kata orang, perpaduan mereka sungguh kuat auranya. Habibie yang bila berbicara meledak-ledak diselingi kata-kata asing mendapat jodoh orang Jawa yang gemulai dan lemah lembut. Gaya bahasa Habibie itu mungkin menjadi inspirasi Cinta Laura yang suka tukang ojek karena suka becek. Sementara Kalla, lebih-lebih lagi auranya. Kalla yang bermental saudagar bertemu dengan Ny.Kalla yang bermental pedagang. Klop dah aura rejekinya.

Habibie dan Kalla sama-sama meniti karir sebagai menteri.

Habibie dan Kalla dalam berkarir sama-sama berlandaskan partai Golkar.

Habibie dan Kalla sama-sama menjadi petinggi Golkar.

Habibie dan Kalla sama-sama menjadi Wakil Presiden.

Habibie dan Kalla sama-sama diparodikan.


Lalu perbedaannya??

Habibie mengakhiri karirnya sebagai presiden pengganti Soeharto. Sementara Kalla masih enggan melepas jabatan wapresnya.

Habibie dianggap orang yang paling bertanggung jawab atas lepasnya Timor Timur. Hal ini tidak terlepas atas kebijakaanya mengadakan pertemuan Tripartit yang berujung pada pelaksaaan refendum Timor Timur. Sementara Kalla, bisa jadi pertemuan Helsinki berdampak pada lepasnya Aceh. Hmm, jangan sampai deh.

Habibie sudah mencukur kumisnya untuk menyamakan diri bahwa menjadi presiden RI harus tidak berkumis. Sementara kumis Kalla masih bertengger dengan indahnya.

Habibie diparodikan oleh Butet, sementara Kalla diparodikan oleh Jarwo Kuat dan Ucup Kelik.

Selanjutnya.."Fakta Tentang Jusuf Habibie dan Jusuf Kalla"

Presiden Kita Selanjutnya Berkumis????

Selasa, Februari 17

Entah kebetulan atau memang sejarah menghendaki, mulai dari presiden pertama kita Bung Karno hingga SBY semuanya tidak memiliki kumis. Lalu ada pertanyaan menggelitik, presiden kita selanjutnya berkumis tidak??? Dari para kandidat capres yang ada sekarang ini juga tidak memiliki kumis. Sebut saja Prabowo, Wiranto, Sri Sultan dll.

Lalu kira-kira siapa capres berkumis yang paling kuat peluangnya menjadi presiden kita




Catatan:
Gambar ini didapat dari Panwaslu Sulteng. Konon, merupakan imbas perseteruan Golkar VS Demokrat.


Selanjutnya.."Presiden Kita Selanjutnya Berkumis????"

Mulut

Jumat, Februari 13


Akhirnya tuntas sudah rasa sakit itu. Gigi yang telah lama menghuni ruang mulutku, membantu proses pertumbuhan raga tercerabut oleh hentakan lunak dari dokter gigi. Sedikit nyeri seperti digigit semut saat geraham terangkat dari singasananya, namun rasa nyeri itu terbayarkan dengan senyuman manis dokter berparas cantik. Dalam hatiku, “pantas....banyak pasien yang datang ke klinik ini. Dokternya cantik sih”. Mungkin saja ada lelaki yang ngefans berat sama dokternya lalu mau saja datang dan datang lagi walau gigi demi gigi tercerabut”. Saya juga ngebatin kalau tempat ini bukan klinik tapi puskesmas....(pusat kesenangan mas-mas). He he he.

Begitulah kira-kira. Demi kenyamanan mungkin saja sesuatu harus dicabut dari tempatnya. Walau ketidaknyamanan berasal dari diri mulut sendiri. Sama seperti Golkar yang tidak nyaman atas pernyataan yang keluar dari mulut petinggi Demokrat yang dianggap mengecilkan Golkar. Sama dengan tidak nyamannya sehingga SBY buru-buru klarifikasi dari mulutnya sendiri atas kejadian tersebut. Toh klarifikasi yang cenderung seperti permintaan maaf tak merubah keadaan. Banyak petinggi Golkar mengeluarkan serapahnya dan mengancam akan mencabut diri dari rencana koalisi permanen dengan Demokrat, dan bisa jadi tidak akan mengusung SBY-JK lagi.

Saya ingat pepatah tua yang mengatakan bahwa lidah (mulut) setajam pedang atau pepatah China yang mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Semuanya berawal dari kata hati yang kemudian terlontar melalui mulut. Namun pepatah ini tidak berlaku bagi dokter gigi karena “mulutmu adalah rejekiku”. Halah.......

Selanjutnya.."Mulut"

GUNDAH …..

Kamis, Desember 4

Berkutat dengan pekerjaan yang melulu itu-itu terus bisa membuat kejenuhan yang teramat sangat. Tapi bagaimanapun juga, itulah mata pencaharian satu-satunya yang menjanjikan. Mungkin untuk saat ini. Namun demikian, perlu was-was juga karena badai resesi ekonomi global sudah melanda negara tercinta. Siap tidak siap, harus menghadapinya.

Dalam beberapa pekan terakhir, berita dunia memberitakan gelombang PHK besar-besaran di sejumlah negara. Semua negara mulai menata diri menghadapi kebangkrutan global dengan rontoknya nilai saham perusahaan besar. Dan motor penggerak kebangkrutan itu adalah Amerika, yang selama ini dianggap sebagai dewa ekonomi dengan paham liberalisme dan kapitalismenya

Belum lepas dari himpitan resesi dunia, penyerangan manusia pengecut (teroris) di Mumbai, India mengalihkan perhatian dunia. Dua negara bertetangga yang memang tak pernah akur saling tuding dan bantah atas aksi teror tersebut. Namun patut diacungi jempol buat petinggi intelijen India yang mengakui bahwa pihaknya telah kecolongan. Sikap yang nyaris sama mulai dijumpai di negara kita. Kapolri berani menindak 6 jendral sekaligus dalam kasus beking judi di Riau. Suatu upaya yang perlu diapresiasi sebagai langkah besar dan berani setelah sebelumnya aksi tangkap preman jalanan mendapat tanggapan berbagai kalangan. Upaya bos polisi itu nampaknya sebagai pukulan telak bagi mereka yang selama ini berpendapat minor terhadap kinerja polisi.

Selain menghadapi krisis ekonomi, krisis kepercayaanpun mulai melanda kita yang sebentar lagi melaksanakan pemilu. PKS yang mulai menjadi partai besar dan kaya, tak urung mengalami krisis kepercayaan itu. Tak tanggung-tanggung. Tidak percaya dengan kadernya sendiri. Olehnya, mereka mencoba menarik simpati massa pendukung lainnya. Setelah menayangkan iklan politik tentang pahlawan termasuk didalamnya adalah Soeharto, kini PKS berencana memberikan award dalam rangka memperingati hari Ibu. Langkah yang bagus namun cukup beresiko karena salah satu penerima award itu adalah Tutut, keturunan langsung Soeharto. Wah seperti blogger aja bagi-bagi award.

Memang, menjelang pemilu 2009 semua partai mulai bertempur. Semua parpol papan atas memilik nama besar atau ikon. Sebut saja Demokrat dengan ikonnya SBY, Golkar dengan JK atau Sultan, PDI-P dengan mbak Mega. Dan pengalaman membuktikan bahwa sosok menjadi faktor penentu bagi suksesnya parpol mendulang suara. Lalu PKS???. Sebagai partai kader sangat miskin tokoh nasional. Makanya, PKS menjaring 100 tokoh nasional yang dianggap berprestasi. Sepertinya PKS meniru pemda berduit yang membajak atlet berprestasi guna mendongkrak perolehan medali di ajang PON.

Selanjutnya.."GUNDAH ….."

Romantisme “Turun Ke Jalan”

Kamis, November 13


Jam 08.00 wita tanggal 13 Nopember 2008, saya ditelpon oleh redaktur harian MAL Palu. Intinya adalah mengharapkan kehadiran saya untuk mengikuti unjuk rasa dalam rangka solidaritas pers di Mapolda Sulteng. Tanpa ba bi bu lagi, saya nyatakan untuk ikut dan harus ikut. Kenapa.., selain karena sebagai ungkapan solidaritas sesama insan pers, saya juga kangen dengan romantisme “turun ke jalan”. Ya...kami dari berbagai aliran pers di Palu (AJI, PWI, Kontras Sulteng, Lembaga Pers Mahasiswa dan LMND) melakukan protes atas disangkakannya rekan kami Asmaradan (wartawan di Makassar) atas tuduhan pencemaran nama baik Kapolda Sulsel. Inti dari aksi kami adalah meminta Kapolri agar memeriksa kemungkinan adanya penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh Kapolda Sulselbar. Selain itu mengajak seluruh elemen pers maupun aparat penegak hukum agar tidak melakukan kriminalisasi pers dan jurnalis dan mengunakan UU Pers No.40 Tahun 1999 sebagai acuan.

Ah ....., romantisme beberapa tahun lalu saat meneriakkan yel-yel “Turunkan Soeharo” seolah menggelitik sukma. Saat itu, saya dengan beberapa kawan seperjuangan bergerilya dari kampus ke kampus di Jogja untuk menjatuhkan musuh bersama kami. Soeharto dan kroninya. Sungguh elok saat itu, kami bergerak secara diam-diam (kalau meminjam istilah acara di Metro TV, bergerak secara silent operation). Maklum saja, sebelum Soeharto jatuh, mata-matanya ada dimana-mana. Baik di lingkungan kampus hingga secara tertutup masuk di organisasi mahasiswa. Bergerak diem-diem takut diculik. Makanya sampai sekarang saya paling benci yang namanya intel. (mudah-mudahan tidak ada intel yang mampir di blog ini ....hiks...).

Setelah Soeharto oleh berbagai elemen bangsa diletakkan ke dalam sumur paling dalam, kini muncul wacana untuk menaikkan kembali Soeharto kedalam strata sosial paling tinggi di Indonesia. Yakni pemberian gelar pahlwan nasional. Dan itu dinyatakan secara terbuka oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Wiranto. Entah apa yang hendak diraih oleh PKS dengan memunculkan tayangan iklan tentang Soeharto. Mungkin saja PKS hendak mengajak seluruh elemen bangsa ini untuk rujuk nasinoal (rekonsiliasi) atas segala yang terjadi tempo hari. Menghapuskan dendam masa lalu demi kepentingan nasional yang lebih besar. PKS seolah memberikan contoh bagaimana menghormati tokoh yang berjasa untuk bangsa negara walaupun juga sebagai manusia pernah melakukan kesalahan kepada bangsa dan negara.

Nampaknya, PKS melakukan perjudian atas manuvernya itu. Jika memang tujuannya untuk rujuk nasional perlu diacungi jempol. Namun jika hanya ingin mendompleng nama Soeharto demi mendulang suara di Pemilu 2009, maka sangat disesalkan. Jangan-jangan trio bomber akan dijadikan ikon PKS pula juga demi mendulang suara. Sungguh PKS, saya memang sudah memaafkan Soeharto tapi tidak akan melupakan kesalahannya.


Selanjutnya.."Romantisme “Turun Ke Jalan”"

Akhirnya Sultan Nyapres

Kamis, Oktober 30

Raja Jawa yang masih tersisa dan karismatis akhirnya mencalonkan diri menjadi presiden periode 2009-2014. Momen bersejarah bagi perjalanan bangsa dia torehkan pada saat pisowanan agung tepat 28 Oktober 2008. Entah sudah disetting atau unsur kebetulan, tanggal itu pula yang setiap tahun kita peringati sebagai hari Sumpah Pemuda. Momen itu seolah mengulang kembali spirit Sumpah Pemuda dan lebih jauh lagi spirit Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya menyatukan nusantara yang tercerai berai.

Bagi sebagian besar masyarakat kita, sang Sultan ini cukup dikenal. Pada saat menjelang kejatuhan Soeharto, sang Sultan cukup dekat dengan para reformis. Entah mencari peluang atau memang sudah menginginkan perubahan yang fundamental. Dan kini peluang itu sudah ia ciptakan. Kesempatan menggapai angan bukan sekedar menjadi pemimpin lokal terbuka lebar. Lalu apa yang menjadi bekal sang Sultan bertarung dalam belantara politik nasional.

Sedikit me-review bahwa pesaing Sultang juga bukan tokoh sembarangan. Mulai dari Megawati, SBY, Wiranto dan Prabowo. Tokoh-tokoh inilah yang saban hari mendatangi ke rumah-rumah penduduk dalam tayangan iklan, kegiatan kenegaraan, kegiatan partai serta tebar pesona. Bahkan, dalam satu kesempatan SBY menggunakan derita keluarga besan (Aulia Pohan) sebagai ajang tebar pesona. Mencitrakan dirinya yang taat dan tunduk pada aturan hukum.Menunjukkan bahwa begitulah seharusnya warga negara yang baik.

Belum lagi bila maestro politik praktis Amin Rais turun gunung dan kembali menjajal peruntungannya. Tokoh yang sering mengatakan ”kalau boleh jujur” (berarti selama ini gak jujur ya..) mungkin saja akan bersaing dengan ketua PAN. Boleh jadi perpecahan di tubuh PAN akan semakin hebat. Belum lagi Partai Matahari Bangsa yang didirikan oleh generasi muda Muhammadiyah sudah mewacanakan dan mencalonkan Din Syamsuddin. Artinya, Muhammadiyah terkoyak-koyak atau memang sebuah grand strategi untuk memperoleh suara sebanyak-banyak dari kalangan manapun. Perolehan suara sebanyak-banyak diperlukan untuk memenuhi ketentuan dalam UU Pilpres. Yakni 20% kursi atau 25% perolehan suara. Pastinya banyak koalisi parpol dan calon presiden. Siapa yang nyapres dan siapa yang nyawapres.., akan ditentukan oleh perolehan suara.


Manifesto Politik Sultan


Dalam manifesto politiknya pada 28 Oktober 2008 di Alun-alun Utara Yogyakarta, Sultan menjanjikan perubahan yang fundamental. Salah satunya adalah strategi dalam bidang pertahanan. Pernyataan ini menarik untuk disimak lebih dalam. Kenapa??, para capres dari kalangan pensiunan TNI belum membeberkan visi misinya.., eh Sultan malah sudah melangkah lebih jauh. Katanya Sultan, negara kita adalah negara kepulauan maka strategi pertahahan kita bukanlah kontinental melainkan maritim. Hmm.., nyaris sama dengan Gajah Mada yang menyatukan nusantara dengan kekuatan maritim.

Selanjutnya.."Akhirnya Sultan Nyapres"

PARTAI KOK SONTOLOYO

Jumat, Juni 27


Ini komentar paling baru dari Kepala BIN yang geram sama tindakan salah satu menteri yang berkhianat. Menteri yang berasal dari salah satu parpol itu diceritakan oleh Syamsir Siregar mendukung pemerintah untuk menaikan BBM saat rapat kabinet. Namun perkembangan di kemudian hari menteri itu mengatakan penolakkannya atas kenaikan harga BBM. Di depan anggota DPR-RI pula. Ah...emang sontoloyo.

Katannya sih menteri itu adalah Anton Apriantono yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Padahal PKS adalah partai yang mendukung pencalonan SBY-JK menjadi pemimpin negara kita walaupun dukungan itu dinyatakan pada putaran kedua. Artinya..., PKS memang mendukung tapi mendukung ditikungan terakhir saat peluang SBY-JK sudah menang di depan mata.

PKS bukan kali ini saja berseberangan dengan pemeintah yang didukungnya. Berbagai kebijakan pemerintah hasil dari rapat kabinet ditentang anggota dewan dari PKS. Ini yang menjadi kegeraman Yusril Isra Mahendra (kala itu masih menjabat sebagai Mensesneg) dan Andi M (jubir kepresidenan). Memang, bung Yusril patut geram karena yang mencalonkan SBY-JK sejak awal adalah Partai Demokrat dan PBB (dipimpin oleh Bung Yusril).

Memang PKS piawai memainkan peran dimata masyarakat, selalu mencitrakan menjadi partai yang humanis dengan jargon-jargon yang populis seperti anti korupsi dan anti kemaksiatan. Dan itu memang menarik simpati banyak kalangan, bukan saja dari basis massa yang beragama Islam tetapi juga dari kalangan yang beragama lain. Sistem kaderisasi PKS memang luar biasa, mulai dari pengajian ibu-ibu hingga program posyandu. Bahkan kata posyandu ditambah menjadi posyandu sejahtera. Bukan main. Asal kata ”sejahtera” jangan diganti denga istilah dari Opung Syamsir.., ntar jadi SONTOLOYO. Wakakakakak...............

Dari sekian prestasi PKS yang bagus-bagus itu ternyata ada yang paling bagus lho. Para pemimpin PKS ternyata sebagian besar ber-poligami. Masa???? Coba tanyakan sama presiden PKS, Tifanul Sembiring. Berapa istrinya... dua atau tiga? Tanyakan juga sama pemimpin PKS yang lain.....Ga papa lah..., khan dibolehkan beristri lebih dari 1. Lebih dari 2. Lebih dari 3. Tapi 4 cukuplah. He he he he.

Bukan karena berpologami dalam arti sebenarnya lalu merembet kepada tingkah laku politiknya. Berpoligamilah dengan baik dan benar. Tidak setia sama satu istri tetapi setia sama istri yang lain ya bisa diterima. Tapi mbok ya jangan berpoligami politik-lah. Itu namanya perselingkuhan berpolitik. Walah.............

Kalau memang tidak setuju dengan pemerintah, mending keluar dari kabinet dan mendeklarasikan menjadi partai oposisi. Tapi sepertinya tanggung..., bentar lagi pemilu 2009. Mending bersikap mendua sambil cari dana pemilu, siapa tau bisa mencalonkan kadernya sendiri, yang bersih dan setia (sama istri pertamanya.., ha ha ha ha).

Selanjutnya.."PARTAI KOK SONTOLOYO"

BOLA LIAR ............

Minggu, Juni 1


Setelah Liga Champion yang dimenangi oleh Manchester United usai digelar, kini pegila bola mulai mengarahkan kegilaannya pada Piala Eropa. Banyak ulasan dan prakiraan jelang perhelatan sepakbola paling akbar di benua biru itu. Bila pengamat sedikit netral dengan ulasannya tentang negara mana yang akan maju ke babak selanjutnya bahkan mengira-ira siapa yang pantas menuju puncak. Tidak demikian dengan para pecandu bola yang menjagokan kesebelasannya. Ada yang bela habis-habisan kesebelasan Belanda, ada Jerman, Italia dan lain-lain. Pokoknya…yang dijagokan bakal jadi juara, ga peduli kata orang.



Kalau saya sih hanya sebagai penggembira saja karena kesebelasan Inggris yang saya “gadang-gadang” ternyata keok. Terpaksa saya harus mengalihkannya ke Belanda.., selain ada kedekatan historis, juga itung-itung balas budi karena Belanda telah mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang mudah mencari kambing hitam. Bangsa yang mudah menjatuhkan satu sama lain. Tidak mau bersatu menjadi satu kesatuan.
Katanya negara kesatuan, kok gak bersatu melawan kebodohan dan kemiskinan. Payah....!!!!


Bila di benua biru sedang memfokuskan pada bola sepak, di negara kita banyak orang sedang memainkan bola liar. Kenaikan BBM yang dilakukan oleh pemerintah bak bola liar yang seolah dilemparkan di tengah-tengah masyarakat yang terengah-engah mensiasati hidup serba sulit. Pengamat ekonomi dan politik mempertanyakan dampak negatif akibat kenaikkan tanpa mau tau dampak positifnya.

Kini, banyak yang sedang memainkan bola liar itu. Dari kalangan mahasiswa, LSM, tokoh politik hingga para pengamat. Pun tidak tanggung-tangung, mantan presiden Indonesia yang menjadi warga negara kehormatan Jerman juga turut memainkan bola liar. Bahkan dengan gaya berapi-api, Habibi mengajak rakyat untuk tidak memilih orang yang dianggapnya telah ingkar janji. Persis sama dengan tayangan iklan Wiranto, dengan format berita berjudul "Wiranto Masih Berharap SBY Penuhi Janji soal BBM".

Kampanye Hitam Atau Bukan???

Kontan saja, tayangan iklan itu memancing reaksi dari kubu Susilo karena secara lisan belum pernah berjanji tidak akan menaikkan BBM. Bantahan muncul dari Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa yang menyatakan iklan Wiranto sangat tendensius dan menyesatkan. Sementara itu, jubir presiden, Andi M menyatakan bahwa bantahan perlu dikeluarkan karena jika dibiarkan akan berlarut menjadi iklan baru "SBY Tidak Menepati Janji".

Saya setuju dengan argumen nya pakar komunikasi politik Effendi Ghazali yang menyatakan bahwa dalam komunikasi politik modern sebaiknya iklan semacam itu dibalas dengan iklan juga, jangan lantas marah-marah. Nah..., Andi Mallarangeng..., saya usul. Anda sebagai JUBIR presiden misalnya membuat iklan yang menyindir Wiranto dengan sebutan JABIR. JAGA BICARA, jika tidak ada fakta. Ha ha ha ha

Selanjutnya.."BOLA LIAR ............"

BLT ….OH…. BLT

Selasa, Mei 27

Berhari-hari kita disajikan berbagai kejadian seputar aksi penolakan kenaikan BBM. Mulai dari kalangan mahasiswa, LSM, tokoh politk, anggota dewan hingga para buruh. Kata mereka yang menolak kenaikan BBM, kenaikan itu sama saja menambah beban masyarakat karena kenaikan BBM akan diikuti pula komoditas lainnya.

Pemerintah tidak bergeming dengan aksi penolakan. Show Must Go On. Dan akhirnya....pukul 00.00 wita, tanggal 24 Mei 2008, dimulailah harga BBM baru yang naik hingga 28%. Serentak pula para sopir angkutan umum berteriak agar segera dilakukan penyesuaian tarif angkutan.

Saya tidak ambil pusing dengan kenaikan BBM. Justru saya berterima kasih sama pemerintah karena pada akhirnya saya harus............NGIRIIIIT. Di segala lini kehidupan. Meminimaliskan perilaku hidup yang selama ini sudah sedemikian ngirit untuk lebih ngirit, ngirit dan ngirit.

Hal ini berimbas pada kehidupan pekerjaan. Instruksi pimpinan katanya sih untuk penghematan di segala lini pekerjaan. Pengiritan menggunakan listrik, fasilitas internet, telepon hingga air pun dihemat. Yang tadinya dalam satu hari tim OB menyajikan kopi plus cemilan dalam 4 sesi, yakni pagi-siang-sore-malam, kini hanya pagi dan sore. Selebihnya usaha sendiri. Wah.....

Dampak lain dari instruksi itu..., ga bisa berlama-lama dikantor. Selama ini saya bisa full time (walau ga’ ada uang lembur) di kantor. Selain memang suka bekerja.., di kantor banyak fasilitasnya. Mulai dari ruangan yang adem, minuman adem dan panas hingga fasilitasi internet yang tanpa batas. Wah........

Sungguh Terlalu....

Dalam proses pengiritan yang mulai terbiasa itu..., saya kembali heran..., ternyata ada pimpinan daerah yang menolak program pemerintah untuk menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin. Katanya..., BLT tidak mendidik. Kenapa tidak dimanfaatkan sebagai penunjang pembangunan di daerah. Misalnya proyek padat karya sehingga terdapat 2 manfaat. Infra struktur tercapai, para pekerja mendapat upah.

Pendapat itu ada benarnya. Tapi menurutku salah, salah dan salah.

Bayangkan jika dana BLT itu dimanfaatkan sebagai proyek padat karya, lalu para orang tua lanjut usia yang telah lewat masa produktifnya harus bekerja untuk mendapatkan uang. Lalu para janda tua sebatang kara dan tertatih-tatih apakah juga harus bekerja???? Ah....sungguh terlalu pimpinan daerah itu. Sungguh terlalu.

Ada juga kepala desa yang menginginkan BLT dikelola oleh desa sebagai usaha simpan pinjam. Walah...., saya gak habis pikir dengan pola pikir kepala desa itu. Asumsi saya, BLT adalah uang tunai yang diberikan langsung kepada rakyat miskin tanpa embel2 untuk dikembalikan. Kalau kepala desa berpikiran semacam itu.., meminjamkan kepada rakyat miskin, berarti pola pikirnya adalah rentenir...Sungguh terlalu.

Selanjutnya.."BLT ….OH…. BLT"
Image hosted by servimg.com

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP