PALU, I’m in LOVE
Selasa, Desember 16
Sebagai kota teluk, Palu menyajikan sisi romantis di sepanjang garis pantai. Bila sore menjelang, nongkrong di pantai ditemani minuman saraba (minuman khas Palu/ seperti skoteng kalau di Jawa namun saraba dicampur telor dan cenderung sedikit pedas) plus pisang gepe sembari menikmati hembusan sepoi-sepoi angin teluk, membuat segar raga ini. Bola mata menerawang jauh ke ufuk barat, lalu dengan sedikit mendongakkan kepala, menunggu saat-saat matahari bersembunyi di balik gunung Gawalise. Semburat warna jingga berbaur dengan warna kebiruan perlahan lalu menghilang berganti menjadi kelam sebagai pertanda malam kan menjelang.
Di kejauhan, jembatan Palu berdiri dengan pongahnya, menyatukan dua sisi kota yang terbelah sungai Palu, yang mengalir sepanjang tahun sambil membawa jutaan butiran lumpur dari ujung gunung akibat penebangan liar. Warna air teluk yang coklat tidak mengurangi keindahan pantai Palu, malah menambah mozaik warna di air laut. Ah Palu ...Palu
Bercerita tentang PaGI .....
Pagi itu seperti pagi-pagi lainnya, beberapa kedai kopi di Palu seperti di Jalan Patimura, jl. Setiabudi, Jl. H. Hayun, Jl. Ki Maja, Jl. Wahidin terasa sempit menampung penikmat kopi yang berasal dari berbagai kalangan. PNS, TNI-Polri, Swasta, Jurnalis, dan pengangguran, berbagi cerita nggosip baik dari kejadian lokal hingga nasional. Akibat keseringan kongkow sambil ngopi, saya bisa tahu tipe-tipe penikmat kopi.
Tersebutlah sebagai aliran politikus. Penikmat kopi ini selalu menyanjung-nyanjung lawan bicara (istilah orang Palu adalah batende/ ataw surga telinga) dan berbicara bak poitikus kawakan, padahalnya dengan tujuannya ingin dibayarin. Sedangkan aliran lainnya adalah aliran ekonom. Aliran ini adalah mereka yang selalu ngutang pada kedai kopi. Sebetulnya aliran politikus dan ekonom sama saja. Tergantung lawan bicara. Bila lawan bicaranya juga politikus, mereka akhirnya sama-sama menjadi aliran ekonom. Dan 2 tipe aliran tersebut cukup banyak, terlebih lagi saat ini yang berdekatan dengan pemilu 2009. Mereka sengaja menyanjung-nyanjung caleg yang kongkow di kedai kopi, dan para caleg inilah yang kemudian menjadi donatur sementara per-kongkowan di kedai kopi.
Hmmmm...siapa bilang budaya ngopi tidak sehat. Yang tidak sehat adalah sambil nggosip plus ngutang. Dan sebagai jurnalis, nongkrong di kedai kopi sangat membantu untuk mendapatkan berita awal. Selain mendapatkan bahan berita (walau cuma berita ecek-ecek) juga dapat traktiran kopi plus nasi kuning. Bercerita sORe
Bercengkerama dengan waktu, paling afdol adalah di tepi pantai. Sambil bersandar pada kursi kayu hitam ditemani kopi panas, memandang lautan membiru hingga ke batas cakrawala. Suasana romantis itu dapat ditemui di pantai Tanjung Karang, Donggala. 38 km arah utara Palu, kira-kira setengah jam perjalanan normal menggunakan roda empat.
Sore itu saya sengaja membuka kaca kendaraan lebar-lebar supaya bisa membaui air laut yang segar, sesuatu yang tidak bisa dilakukan di Jakarta. Jalanan yang mulus membuat waktu tempuh semakin pendek, namun tak mengurangi kekaguman atas pemadangan alur pantai sepanjang jalan. Pantas..., bule2 suka dengan pantai karena begitu indahnya suasana pantai. Cuaca sangat cerah. Pelarian diri dari cuaca panas Palu dan memanjakan tubuh menikmati terpaan angin pantai Tanjung Karang adalah caranya yang paling pas saat itu. Tak perlu penunjuk jalan , toh saya sudah hapal mati jalan menuju kesana.
Tiba dibibir pantai, riak-riak gelombang mengalun perlahan...menjilati jemari kaki, menyisakan butiran pasir putih disela-selanya. Kuhisap rokok kesayanganku dalam-dalam, berlomba dengan angin pantai tuk menghabiskan bara api menyisakan debu. Abu rokok kujentikkan dari ujungnya.., tak sempat menerpa pasir telah larut dalam terpaan angin.
Hmmmm....rasanya enggan beranjak dari bibir pantai. Kutatapi mentari yang mulai sayu menyinari bumi, seakan tahu diri bahwa rembulan mulai mengambil jatahnya menemani malam sendirian.
Medio Desember 2008.
Palu Undercover - Imajinasi Liar dan Nakal
Senin, Desember 15
Sebelumnya.............:
Sesaat saya berhenti di depan pintu masuk SB... Lalu si H clingak-clinguk. Si aparat berpakain safari gelap menghampiri H ..., dan H membisikkan sesuatu kepada bapak petugas itu. H kemudian berbalik dan mengangukkan kepalanya pertanda semua beres. Bapak petugas kini balik menatap saya hormat dan memberikan jalan sambil mengambil sikap sempurna. Saya menduga telah terjadi aksi penipuan yang dilakukan oleh H. Dan dugaan itu tidak meleset. Saat saya tanyakan ke H apa yang dibisikkan tadi, dia menjawab bahwa saya adalah petugas dari Mabes Polri. Dasar kampret. Pantesan petugas tadi hormat banget. Padahal …...setau saya mabes polri tuh ‘mangga besar pol kekiri’. Ha ha ha.Memasuki ruangan yang lampunya kerlap-kerlip diwarnai dentuman musik hingar bingar membuat saya harus menyesuaikan diri. Saya lalu mengajak H kesudut ruangan untuk mengamati suasana yang kala itu cukup ramai, kira-kira 700an oranglah. Maklumlah, selain acara ladies night, di SB juga ada home band dan ladies dancer asal Bandung. Sungguh seronok. Ladies Dancer yang berbodi aduhai dan berpakaian minim berlenggok gemulai di atas panggung. Goyangan pinggul diselingi gerakan-gerakan nakal sangat membangkitkan imaginasi liar dan nakal bagi mata pria yang melihatnya. Tak terkecuali saya. He he he. Sungguh elok gerakan liar di tempat tertutup itu.
Begitulah seharusnya. Gerakan erotis dan nakal seharusnya ditempat tertutup, bukan masuk dalam ruang publik seperti tv yang bisa dilihat oleh lelaki non-dewasa dan membuat jengah pemirsa wanita. Seperti yang dikehendaki bagi mereka yang pro UU APP. Tapi ambil positifnya sajalah. Siapa tahu gerakan erotis dan nakal bisa ditiru untuk membuat para suami betah dirumah. Katanya sih, gerakan erotis dan nakal tidak perlu belajar dari orang lain karena akan muncul dengan sendirinya. Itu naluri perempuan dewasa. Tinggal bagaimana mengasah kemampuan dan belajar dari pengalaman sendiri untuk lebih hot dan hot lagi. He he he.
Kulirik jam di tangan kiri.., ah..masih jam 01.00. masih sorelah. Masih bisa sepukul dua pukul memanjakan mata melihat keindahan ragawi ciptaan Illahi. Saat tubuh bergoyang kecil-kecil mengikuti hentakan musik..., H berbisik.., sssttt, pulang ga? Dah jam 2 nih. Besok masih banyak acara bro. ’Oh..my God...’ ..rupanya saya salah kira. Waktu di Palu adalah WITA yang lebih tua 1 jam dari Jakarta.
Akhirnya kita beriringan menuju pintu keluar. Beberapa pasang mata gadis muda menatap nanar mengikuti pergerakan kami. Sebagian lagi memberikan senyuman nakal dan sangat menggoda. Hmmm.., saya hanya bisa berbalas menatap dan memberikan senyum. Hanya sebatas itu. Tidak lebih dan tidak kurang. Sekali lagi saya pulang dengan tangan kosong, seperti waktu-waktu sebelumnya. Sebuah kesia-siaan?..tentu tidak. Saya harap ini bentuk kesetiaan. Walau mata tetap tidak bisa setia. Maklum..mata lelaki. Ngak ngak ngak.
Catatan: Nama dan tempat kejadian sedikit disamarkan untuk keamanan diri.
Palu Undercover - Aksi Penipuan
Sabtu, Desember 13
Malam itu, penat mulai mencubiti raga. Denyut-denyut nadi di pelipis kiri dan kanan seolah memberikan pertanda kepada jiwa agar segera berhenti kerja. Lalu mulailah tangan kiri menggapai ponsel dan mencari nama seseorang yang dapat membantu menghilangkan double migren-ku. Sementara telapak tangan kanan kukepalkan tuk memukuli jidat perlahan...., ”duh Gusti...nyari sesuap nasi aja kok sampai jauh ke seberang pulau”.
Kucari nama yang biasa menemaniku jalan2 di Palu. Ah ..ketemu sudah. Namanya H..... Kutelpon dia. Dan seperti biasa, saya membutuhkan bantuannya buat menemani mengencerkan kebuntuan otak, menguatkan kelesuan raga, dan meramaikan kesepian jiwa. Ah..., hari-hari yang melelahkan selalu saja diakhiri dengan kesia-siaan. Selalu saja begitu.
Si H ini memang mengenal betul kota Palu dan segala bentuk kegiatannya. Mulai dari yang sajadah hinggga haram jadah. Hampir semua pejabat sipil hingga militer dia kenal. Maklum, sebagai pewarta lokal memang harusnya begitu. Dan salutnya lagi, ..... dia tidak mau menerima amplop dari nara sumber. Suatu hal yang perlu dikagumi dari seorang H.
Tak lama..., si H telah datang di hotel tempatku biasa menginap. Dengan senyum yang khas, H mengatakan ...”gimana bos, so siap kita jalan” ..., jawabku sih klise aja. ”Siaplah....”. Seperti biasa khan bos? tanyanya lagi. Aku jawab sekenanya. Ya iyalah..., ’mang ada tempat yang bagus selain itu, saya balik bertanya.
Lalu, dengan menggunakan kendaraan birunya, kami berdua menyusuri jalan kota Palu yang sedikit basah terkena guyuran gerimis tipis. Jalanan kala itu gelap gulita, maklum saja kota Palu krisis listrik. Padahal Pemkot Palu telah membangun PLTU, namun tetap saja krisis listrik. Alasannya klise, PLTU kekurangan batubara atau batubara masih dalam perjalanan dari Balikpapan. Sementara itu, PLN sebagai perusahaan negara masih berkutat dengan mesin genset tua yang rentan rusak. Suatu ketika, pegiat LSM dan mahasiswa sempat mengancam PLN untuk melakukan class action, namun hingga saat ini belum terdengar kelanjutannya. Katanya sih ...., sudah cincai sama PLN. Bah ..........
Dalam hitungan menit, kita tiba ditempat tujuan. Dentuman musik mulai terdengar dari pelaratan parkir. Memasuki pintu masuk, beberapa centeng dari institusi keamanan menyorotkan mata tajamnya ke arah kita berdua. Nampaknya mereka orang baru, karena wajahnya belum aku kenal. (belum lagi 2 bulan Palu kutinggalkan, dah ada perubahan hi hi hi). Wah...cilaka..., orang-orang baru dan pangkat rendahan lebih galak dari komandannya (aku nge-batin).
Sesaat saya berhenti di depan pintu masuk SB... Lalu si H clingak-clinguk. Si aparat berpakaian safari gelap menghampiri H ..., dan H membisikkan sesuatu kepada bapak petugas itu. H kemudian berbalik dan mengangukkan kepalanya pertanda semua beres. Bapak petugas kini balik menatap saya hormat dan memberikan jalan sambil mengambil sikap sempurna. Saya menduga telah terjadi aksi penipuan yang dilakukan oleh H. Dan dugaan itu tidak meleset. Saat saya tanyakan ke H apa yang dibisikkan tadi, dia menjawab bahwa saya adalah petugas dari Mabes Polri. Dasar kampret. Pantesan petugas tadi hormat banget. Padahal …...setau saya mabes polri tuh ‘mangga besar pol kekiri’. Ha ha ha. ------------bersambung ---------
Catatan:
Nama dan tempat kejadian sengaja disamarkan demi keamanan diri.
RAMADHAN MILIK SEMUA ORANG
Rabu, September 17
Baru kali ini saya ber-ramadhan ria di Kota Palu. Tidak berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia, semuanya menyambut bulan suci dengan suka cita. Walau banyak para ibu sedikit ”ngedumel” akan meroketnya harga kebutuhan pokok toh bulan suci harus tetap dilalui.Selain di sepanjang jalan utama, ada lagi lokasi yang menarik untuk diceritakan. Tepatnya di samping Kantor Walikota Palu. Di situ pihak Pemkot Palu memfasilitasi para pedagang untuk berkumpu ria dalam satu tempat sehingga para pembeli mudah untuk mendapatkan jajanan yang diperlukan. Tempat itu sudah biasa disebut Pasar Ramadhan. Kenapa menarik untuk diceritakan?..
Menurutku sih menarik. Dari ratusan penjual makanan yang menghidangkan berbagai sajian makanan siap saji itu, saya bisa menghitung ada belasan penjual makanan yang beragama Kristen. Maklum, saya kenal beberapa diantaranya. He he he. Artinya..., Ramadhan membawa berkah bagi siapa saja. Ramadhan membawa damai bagi yang tulus merayakan dan melaksanakannya. Dan saya merasakan bahwa ramadhan di Palu ternyata indah.
Seandainya ”nuansa” ramadhan yang damai dan membawa berkah berlaku sepanjang tahun, tentunya semakin indah Indonesia kita.
DEMOKRASI MILIK SEMUA ORANG
Jumat, September 12
Pesta Demokrasi kita telah dimulai. Diawali dengan banyaknya partai yang berjuang memperoleh simpati rakyat. Bagi partai lama dan memiliki jutaan kader tidak terlalu sulit untuk tetap memelihara loyalitas partai. Bagi partai baru? Cukup pelik juga sih…, tapi sepertinya untuk saat sekarang ini modus operandi mempromosikan partai guna memikat rakyat nyaris sama.. Ya karena partai baru didirikan oleh orang lama. Yang kecewa atas kinerja partai lama atau sebagai partai order.Di Parigi Moutong Sulteng, Demokrasi Berjalan Mulus
Kamis, Agustus 21
Di era reformasi yang melahirkan demokrasi, entah berapa kali negeri ini diguncang aksi anarkis. Aksi kekerasan itu berawal dari ketidak puasan sekelompok terhadap kelompok lain. Salah satu contoh adalah terkait pelaksanaan dan hasil pilkada. Pihak yang kalah memobilisasi massa untuk melakukan unjuk rasa menuntut pilkada dilakukan ulang. Buntutnya, terjadi perusakan fasilitas.
Tapi aksi serupa tidak terjadi di Kab. Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Awalnya, banyak mengkhawatirkan terhadap situasi yang berkembang menjadi "chaos" karena pada masa kampanye terjadi tindakan anarki berupa pemukulan dan perang kata-kata. Bahklan sempat tercetus dari salah satu kandidat bahwa pihaknya akan mengusir para pendatang. Bukan main.
Perkiraan pihak aparat keamanan sedikit meleset. Pelaksananaan pilkada di Kab. Parigi Moutong pada 19 Agustus 2008 berlangsung tertib dan aman. Masyarakat berbondong-bondong mendatangi TPS setempat untuk memilih kandidat akan menjadi pemimpin selama 5 tahun ke depan. Memilih yang terbaik diantara yang jelek. Kenapa?? karena semuanya orang lama dan visi misinya nyaris sama. Gratis pendidikan, gratis berobat, pelayanan terbaik bla bla bla..
Lepas dari itu semua, perlu acungan jempol bagi pihak yang kalah karena telah mengakui kekalahannya walau pengumuman secara resmi dari KPUD setempat belum dilansir, toh dengan legowo mau mengakuinya. Sikap ksatria ini sebetulnya merupakan karakter asli masyarakat Parigi. Sejarah mencatat bahwa di wilayah Parigi Moutong dihuni oleh mayarakat yang taat dan loyal terhadap pemimpinnya. Dan pemimpinnya berjiwa besar. Satu hal yang tidak dipunyai kebanyakan pemimpin kita.
Terkait perkiraan aparat keamanan yang meleset, sebetulnya jika didalami lebih lanjut berhubungan erat dengan pengamanan pilkada. Jika perkiraan bahwa pilkada akan anarkis tentunya pihak keamanan bersiaga dan itu butuh dana. Semakin "serem" perkiraannya akan berbanding lurus dengan dana pengamanan. Namanya juga obyekan pilkada. Semua pihak yang terlibat mendapatkan keuntungan dan dananya berasal dari APBD. Artinya uang rakyat juga yang dipakai. Uang rakyat juga yang dihambur-hamburkan. Kasihan rakyat........
Cerita Lain Tentang Poso
Kamis, Juli 10
Dari seabrek cerita tentang konflik Poso, ada sedikit cerita yang hingga saat ini masih membuatku ter-melet2. Cerita yang bernuansa romansa atas kehadiran dari TNI maupun Polisi saat mengamankan Poso. Cerita ini berdasarkan penuturan para sahabat saya dari aktivis peduli perempuan Poso dan Palu. Mereka sangat care atas peristiwa yang menimpa para perempuan Poso. Cerita kepiluan perempuan itu kemudian berkembang menjadi anekdot tentang kesatuan para soldadu berasal.
Begini ceritanya……
Cerita Tentang KORAMIL
Gadis Poso terkenal dengan kecantikan dan senyum yang menawan. Selain itu juga mereka sangat ramah. Atas dasar kecantikan dan ramah itulah makanya banyak serdadu terpikat. Dan para serdadu yang bertugas temporer dalam rangka mengamankan Poso banyak yang berpacaran dengan gadis poso, bahkan terkadang hubungan mereka telah melangkah lebih jauh. Usai bertugas para serdadu kembali ke asalnya. Sang gadis termangu terdiam dan terpuruk karena kehormatan telah terenggut walaupun direnggut atas dasar suka sama suka. Dan para gadis ini banyak disebut gadis KORAMIL. Korban Rayuan Militer.
Cerita Tentang POLMAS
Untuk yang ini sama saja. Banyak polisi muda yang bertugas di desa-desa. Polisi muda ini minim pengalaman padahal tugas mereka sangat besar. Yakni menjadi pion terdepan dalam pengkondisian wilayah yang pernah konflik. Nah....., banyak juga para polmas ini yang bergaul dengan para gadis dan mereka kadang lupa akan tugas pokonya. Mereka yang lupa akan tugas pokoknya disebut Polisi Maniso (maniso artinya pandai merayu), bukan polisi masyarakat. Halah......
Cerita Tentang SAMAPTA
Kalau yang ini sih..., sebutan bagi mereka yang selalu mengamankan para pendemo. Saat ini Samapta sering diplessetin Sampai Mati Pegang Tameng. Wakakakakak...
Cerita Tentang SSB
Jika Koramil diplesiten korban rayuan militer, maka SSB merupakan kependekan dari Sisa Sisa Brimob. Walah...., dan ini menurut data aktivis perempuan kasus SSB sangat banyak melibihi Koramil.
3 C (Coklat, Cengkeh, dan Copral)
Selain terkenal dengan budaya dan gadis cantiknya, Poso juga terkenal sebagai penghasil coklat dan cengkeh. Saat dibelahan daerah Indonesia lainya terpuruk dengan kesulitan ekonomi, para saudagar coklat dan cengkeh sangat menikmati limpahan kekayaan karena harga coklat dan cengkeh cukup tinggi di pasaran internasiol. Nah…, para gadis ini selain suka sama juragan Coklat dan Cengkeh.., mereka juga suka sama Copral (maksute Kopral.., salah satu kepangkatan di TNI). Makanya, di Poso terkenal dengan istilah Coklat, Cengkeh dan Copral.
BANGGAI KEPULAUAN (2)
Kamis, Juni 26
Setelah permasalahan Poso sedikit demi sedikit terselesaikan seiring penangkapan dan pembinaan para tersangka yang berperilaku teroris, kini di sudut Propinsi Sulawesi Tengah tepatnya di Kab. Banggai Kepulauan mengalami eskalasi politik yang berujung pada upaya cerai paksa wilayah Kec. Banggai dan sekitarnya terkait putusan MK yang menolak gugatan judical review pasal 10 UU No.51 tahun 1999 dan memilih bergabung ke Maluku Utara.
Tak ayal.., putusan MK tersebut membuat massa yang tergabung dalam Forum Mondopulian Banggai Bersatu (FMBB) marah. Wujud kemarahan dinyatakan dengan aksi penyitaan aset pemda Bangkep agar tidak dipindahkan ke Salakan, penghapusan papan nama Bangkep, serta pencopotan plat nomor DN (plat nomor wilayah Polda Sulteng). Serangkaian aksi itu diakhiri dengan penyerahan KTP Sulteng dan pengusiran sejumlah anggota DPRD Banggai Kepulauan yang berada di Banggai.
Berbagai aksi tersebut merupakan buntut dari perebutan ibukota Bangkep antara Banggai dengan Salakan. Sesuai pasal 10 UU No.51 tahun 1999 menyatakan bahwa Banggai ditetapkan sebagai ibukota sementara sedangkan pada pasal 11 dalam UU yang sama menyatakan Salakan sebagai ibukota. Adanya pasal 10 dan 11 tersebut menimbulkan multi interpretasi bagi masing-masing pihak. Pihak Banggai menganggap bahwa banggai sebagai ibukota. Begitu juga sebaliknya.
Menengok jauh kebelakang sebelum penetapan pasal 10 dan 11 dalam UU No.51 tahun 1999, ada seletingan di kalangan aktivis LSM dan elit politik lokal bahwa pihak Banggai sangat pelit menggelontorkan rupiah kepada anggota DPR-RI guna penepatan ibukota Bangkep, sehingga munculah pasal itu. Katanya..., pasal 11 adalah pasal siluman yang berasal dari uang siluman.
Fakta atau hanya cerita, tetap saja menjadi harus menjadi pedoman hukum. Dan itu sudah ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi, lembaga hukum paling tinggi di negara kita. Bila FMBB kecewa dan marah serta menolak putusan MK, lalu mau dibawa kemana negara kita.
Padahal FMBB merupakan kumpulan orang yang berasal dari PRD dan Partai Hanura. Mereka tentunya “melek hukum”, hingga tidak mungkin rasanya mereka menjadi pelopor kegiatan rusuh di Banggai. Tapi faktanya demikian. Dalam berbagai kesempatan, para petinggi FMBB menyuarakan bila Banggai tidak menjadi ibukota maka mereka akan memisahkan diri dari Sulteng dan akan memerdekakan diri dengan membentuk Republik Sosialis Banggai. Bukan main mereka. Hari gini mau makar???
Setelah aspirasi untuk makar tidak mendapat sambutan luas (mungkin tahu kalau resiko makar adalah ditumpas habis ...he he he) mereka mengalihkannya dengan bergabung dengan Maluku Utara. FMBB segera membentuk Panitia Kerja untuk percepatan bergabungnya Banggai dengan Maluku Utara sekaligus mewakili masyarakat Banggai untuk menghadap ke Kesultanan Ternate.
Seandainya....Maluku Utara bersedia menampung Kec. Banggai dan sekitarnya menjadi bagian dari mereka dan hanya menjadikan sebagai wilayah kecamatan baru.., apakah FMBB (Banggai) mau?? Kalau menjadi kab baru..apakah Malulu Utara mau membiayai kabupaten baru itu. Mau bergabung tapi minta daerah menjadi otonom..walah.... Itulah manusia Indonesia.
Menjadikan Banggai sebagai kabupaten baru sebenarnya sudah direkomendasikan oleh pemda Sulteng dan hal itu sesuai dengan kesepakatan 5 Maret 2007 yang antara lain menyatakan percepatan pemekaran Banggai Laut sebagai upaya penyelesaian konflik perebutan ibukota Banggai Kepulauan.
Hayo..., pilih mana? Bercerai dari Sulteng tapi tetap menjadi kecamatan atau tetap menjadi bagian dari Sulteng namun menjadi daerah otonom baru.
Au ha lap.
Selanjutnya.."BANGGAI KEPULAUAN (2)"
BANGGAI KEPULAUAN (1)
Kamis, Juni 12
Perjalanannku 3 hari ini hanya melulu untuk berkunjung ke posnya Jaka Barnes. Saya tidak membawa laptop, meliburkan diri menuangkan uneg-uneh yang kadang malah bikin eneg. Saya hanya membawa kamera digital, itupun kamera poket…, tapi lebih dari lumayanlah. Toh kalaupun ada sesuatu yang perlu segera dituangkan dalam berita... saya bisa pinjam sama Jaka Barnes.....beres.
Menjelang pendaratan kapal.....,walah,,,,,kapal yang kami tumpangi sudah dihadang oleh puluhan perahu sampan. Bukan karena hendak di demo atau adanya pemblokiran pelabuhan. Tapi karena mereka adalah pengemis bersampan. He he he he.
Mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek semuanya bersampan sambil membuka tangan meminta lemparan uang. Mereka mengharapkan belas kasihan para penumpang. Hmmmm..........jadi inget program BLT nih.....
CANTIK POSO
Senin, April 28
Dalam benak kita…, mendengar kata POSO selalu mengindentikan dengan kekerasan, rusuh, bom dan penembakan misterius serta perilaku terorisme.
Nun jauh diujung gunung, menyusuri sungai Poso ke arah hulu, kita akan menemukan daerah yang sejuk dan damai.
Ya...., diujung hulu sungai Poso, terhampar riak-riak air yang mengalun tenang... gemulai dan anggun. Itulah danau Poso yang terkenal.
Danau Poso yang cantik...., Poso yang cantik, dan isinya yang cantik-cantik.
Danau Poso dan sekitarnya yang cantikkkk, teramat sangat sulit untuk dirangkai dengan kata-kata. Alamnya yang liar dihuni para perawan gemulai, sungguh membelalakkan mata.
Palu, akhir April 2008.
DAMAI POSO
Jumat, April 25

Kabupaten Poso sebelumnya merupakan kota yang cukup maju dan kehidupan masyarakat seta memegang teguh adat istiadat. Lahannya yang subur dan hasil hutan yang melimpah, menjadikan warga masyarakatnya bertumpu pada ekonomi pertanian dapat hidup dengan tenang, tentram aman dan damai. Namun semuanya itu sirna akibat konflik yang berujung pada tindak kekerasan yang berkepanjangan.
Konflik komunal yang terjadi di Poso dilihat perkembangannya cukuk dan pelik. Konflik yang diawali dengan perkelahian pemuda kemudian di seret ke masalah agama dan terakhir menjadi aksi kekerasan yang dapat digolongkan menjadi aksi terorisme.
Cerita tentang Poso dapat dibaca dalam buku : "Tangan Dingin Jendral, Poso Damai".., yang merupakan sebuah catatan jurnalistik ELKANA LENGKONG, yang menceritakan kerja sang jendral dalam meredam Poso terbitan Pustaka Sinar Harapan.