Tampilkan postingan dengan label photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label photography. Tampilkan semua postingan

Photoshop on Samsung Note

Selasa, Juni 18

Janji adalah hutang, dan harus ditepati. Saya pernah berjanji akan meng-upload foto hasil editan photoshop, sebuah software pengolah digital paling banyak dipakai oleh para penggila fotografi. Cuma kali ini, photoshop yang saya pergunakan merupakan software bawaan Samsung Note. Awalnya, saya sedikit kaku menggunakan jari untuk mengolah digital dibandingkan dengan menggunakan mouse. Namun lama kelamaan, justru saya dibuat kagum. Kenapa? Dengan bantuan pensil digital, editan menjadi lebih presisi, dan nyaris sempurna. Namun, foto yang saya upload kali ini hanya editan sederhana, berupa memainkan fitur saturasi dan kontras karena saat saya memotret, cuaca sedang tidak bersahabat alias mendung.

Selanjutnya.."Photoshop on Samsung Note"

RUMOR ................

Kamis, September 23

Dalam kurun waktu seminggu terakhir, kita dihadapkan kepada rumor menarik seputar terorisme, kapolri baru, dan DSLR pengganti Nikon D90 yang legendaris. Kita mulai dari rumor terorisme.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Abu Bakar Baasyir (ABB) telah menjadi momok bagi aparat penegak hukum khususnya Den 88 Antiteror. Bagaimana tidak, ABB telah dibidik bertahun-tahun dan baru kali ini dapat disentuh dengan aksi terorisme. Beberapa tahun lalu, ABB meringkuk dipenjara karena tuduhan memalsukan dokumen dan bukan karena pasal terorisme. Belum tuntas pujian dialamatkan kepada Polri terkait membongkar jaringan terorisme Aceh dengan menyeret ABB, pujian kembali datang dengan tertangkapnya pelaku perampokan Bank Niaga-CIMB. Namun, disaat bunga pujian belum merekah, tanpa diduga Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumut diserang oleh 10 orang bersenjata secara membabi buta dan menewaskan 3 personil polri. Hmmm…. Untungnya kejadian penyerangan Mapolsek itu tidak dikaitkan dengan arogansi Den 88 di Bandara Udara Polonia Medan.

Rumor berikutnya adalah rumor jabatan Kapolri yang baru. Kalangan DPR sudah mengendus bau tak sedap terkait nama Imam Sujarwo yang dirumorkan adalah besan Aulia Pohan yang juga besan presiden SBY. Entah siapa yang mengembuskan, pihak istana tidak menanggapi rumor ecek-ecek tersebut. Kalaupun benar Imam Sujarwo adalah besan Aulia Pohan, berarti Imam Sujarwo adalah polisi professional karena membiarkan besannya masuk bui…, klop dengan sikap SBY. Halah…..

Dan… saatnya yang ditunggu-tunggu. Nikon sudah merilis D7000 sebagai pengganti Nikon D90 yang legendaris. Saya sudah menengok situs resmi Nikon Amerika Serikat, nama Nikon D7000 sudah ada di deretan produk mereka, lengkap dengan label NEW berwarna kuning melintang di atas gambar kamera DSLR ini. Dari data spesifikasinya, tak mungkin kalau seseorang penggemar berat Nikon tak tergoda pada kamera yang satu ini. Kenapa? …

Pertama, sensornya yang berukuran 23,6 x 15,6mm mampu menangkap objek dengan kualitas 16,2 megapixel. Selain itu, D7000 ini juga mengusung fitur sistem autofocus 39-points dan menggunakan viewfinder yang memiliki cakupan 100%. Fitur itu tak berhenti di sana karena masih ada kamera ini juga mampu merekam video dengan kualitas 1080/24p dan 720/30p yang akan disimpan dalam kartu memori SD lewat slot yang disediakan. Tak hanya satu, Nikon memasang dua slot langsung sehingga pengguna tak perlu khawatir kehabisan ruang simpan meski menyimpan gambar dalam kualitas tinggi.

Secara fisik, Nikon D7000 ini tak berbeda jauh dengan kebanyakan kamera DSLR. Bentuk standar ini pula yang memberikan jaminan kalau Nikon D7000 ini bakal nyaman dioperasikan. Selain itu, beberapa bagian dari bodi kamera ini dibuat dari magnesium alloy untuk memastikan daya tahan kamera ini. Kalau dibandingkan dengan D90 yang sudah saya miliki, Nikon D7000 ini memang terasa sebagai upgrade besar-besaran namun tentu saja ada harga yang harus dibayar. Kabarnya Nikon memasang label harga sebesar US$1.200 atau sekitar Rp10,8 jutaan. Tertarik? .. Saya sih mo nabung dulu…….

Selanjutnya.."RUMOR ................"

Membuat Foto

Jumat, Mei 14

Akhir-akhir ini saya melanjutkan hobi saya yang sudah lama tertunda, hobi motret sembarang kejadian. Awalnya saya menggunakan kamera jadul Nikon F80 dengan lensa 28-80mm. Sebuah hobi yang mahal karena harus membeli film dan kemudian mencetaknya. Syukur-syukur kalau hasilnya bagus, bisa dipamerkan sesama rekan penghobi, namun jika hasilnya nge-blur, nge-shake… ataw terlalu terang maupun terlalu gelap… itulah adalah aib yang harus ditanggung.

Setalah era kamera digital, hobi itu kembali tersalurkan. Saya membeli kamera Nikon D90 dengan lensa kit 18-105mm-nya. Kenapa saya harus memilih Nikon? Karena kamera adalah Nikon, bukan yang lain. Banyak juga merek lain seperti Canon yang banyak penggunanya. Namun kembali ke awal tadi, kamera adalah Nikon dan Nikon adalah kamera. Tidak perlu diperdebatkan kenapa harus memilih merek tertentu.

Dengan kamera Nikon D90 saya bisa mengasah kembali sentuhan-sentuhan menekan shutter agar kamera tidak goyang (shake), mempelajari lagi tentang speed, ISO, dan lain-lain. Sungguh menyenangkan. Nikon D90 angat memuaskan. Entah nanti kalau sudah mahir, rasa tidak puas sebagai manusia tentu akan muncul dan akan up grade kamera ke level professional macam D700 ataupun sekalian ke D3S.

Saat inipun saya sudah melengkapi kamera dengan lensa tambahan yakni Nikkor AFS 70-200mm 2.8 dan AF 50mm 1.4D, serta beberapa filter dari Hoya yakni filter UV, ND dan CPL. Sebuah hobi yang cukup mahal memang. Kenapa saya harus melengkapinya dengan lensa tambahan dan filter, itu karena kebutuhan dan kecelakaan. Dibilang kebutuhan karena saya menyukai foto candid yang memerlukan lensa zoom dengan bukaan besar (f2.8). Sedangkan disebut kecelakaan karena pada saat saya ikut acara hunting bersama, muncul rasa iri melihat teman2 sesama penghobi motret membaca peralatan seabreg. Terpaksa merogoh kocek dalam-dalam membeli 70-200mm 2.8 VR dan 50mm 1.4D itu. Makanya saya paling males mengikuti acara hunting bersama karena terkesan pamer peralatan dan obyek fotopun nyaris sama, walaupun sisi positifnya ada. Yakni saling bertukar pengalaman dan berbagi ilmu fotografi.

Perkembangan era digital memang sangat luar biasa. Hasil foto yang awalnya biasa aja kini bisa dimanipulasi dengan berbagai software, dan yang paling banyak digunakan untuk olah digital adalah Photoshop. Munculnya software olahdigital menjadi pro dan kontra namun hal itu kita kembalikan kepada fotografer itu sendiri. Saya sih suka yang natural saja, photoshop hanya saya gunakan bila memang dibutuhkan.

Hasil diskusi dengan para fotografer hebat saat acara workshop atau pameran foto telah membuat saya harus lebih giat lagi menambah jam terbang. Hanya dengan membidik dan membidik obyek foto maka seseorang akan menemukan gaya sendiri dan menjadi mahir. Menemukan gaya sendiri memang susah sama halnya membuat foto. Ya… membuat foto sangat susah. Bagi saya yang fotografer jalanan, masalah moment adalah masalah utama. Bagaimana foto dibuat lalu bisa bercerita dan kalau lebih bagus mengandung pesan-pesan moral didalamnya. Istilahnya foto yang berkonsep, kecuali pas lagi jalan ketemu moment menarik …..

Yukkk…. Ikutan belajar motret….


Selanjutnya.."Membuat Foto"
Image hosted by servimg.com

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP