Tampilkan postingan dengan label Manchester United. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manchester United. Tampilkan semua postingan

Catatan kecil pecinta MU

Rabu, Februari 19




3 bulan belakangan ini, say benar-benar tidak habis pikir dengan performance atau kinerja klub kesayangan Manchester United. Proses peralihan manager dari Sir Alex Fergosen (SAF) yang fenomenal ke David Moyes berlangsung mulus, namun tidak dengan kinerja klub. Bayangkan saja, saat ini MU hanya bertengger di papan tengah (posisi 7), dimana posisi ini selama SAF menjadi manager tidak pernah terjadi. Namun ditangan Moyes, MU kini tidak lagi klub yang selalu menang, bukan lagi klub yang disegani lawan-lawan dari the big four, namun juga  kalah dari klub-klub yang selama ini tidak pernah menang melawan MU. Pertanyaan besar saya adalah apa yang terjadi dengan MU? Apakah terjadi perubahan terhadap budaya atau iklim organisasi di MU seiring pergantian manager? Apakah ada perubahan pola latihan yang diterapkan oleh Moyes sebagai manajer?  Apakah staff manager Moyes memberikan kontribusi bagi MU? Lalu …… bagaimana cara meningkatkan kinerja MU..?? 

Deretan pertanyaan tersebut mengusik saya untuk sekedar mengurai apa yang terjadi di MU.  
Kita mulai dari performance MU. Performance atau kinerja MU saat ini sangat mengecewakan. Jangankan menjadi juara liga Inggris, masuk 4 besar guna lolos ke liga champion saja terasa sulit. Dengan tujuh kekalahan dimana 4 kekalahan di Old Trafford sangat menyesakkan. Dari sudut pandangan ilmu manajemen, konsep kinerja pada dasarnya dapat dilihat dari dua segi, yaitu kinerja pemain dan kinerja organisasi. Kinerja pemain adalah hasil kerja perseorangan dalam suatu organisasi. Sedangkan kinerja organisasi adalah totalitas hasil kerja yang dicapai suatu organisasi. Kinerja pemain dan kinerja organisasi memiliki keterkaitan yang sangat erat. Tercapainya tujuan organisasi tidak bisa dilepaskan dari sumber daya yang dimiliki oleh organisasi yang digerakkan atau dijalankan pemain yang bermain bagus sebagai pelaku dalam upaya mencapai tujuan organisasi tersebut. Sebagai salah klub terbesar di dunia, tentunya tujuan MU adalah memenangkan gelar sebanyak-banyak yang didukung para pemain yang bermain bagus, namun tidak kali ini. Dan itu disaat David Moyes menjadi manager menggantikan SAF. 

Tentunya saya harus obyektif dalam mensikapi kinerja MU. Menurunnya kinerja MU tentu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Lalu, apakah ada? Dari kacamata saya ada…… !!!!

Bersambung

Selanjutnya.."Catatan kecil pecinta MU"

JUARA ADALAH JUARA

Senin, Mei 12



Akhirnya, Manchester United kembali merengkuh jawara Liga Primer Inggris yang ke-17 kalinya,selisih 1 dengan Liverpool. Namun Mu lebih hebat, karena telah merengkuh 10 kali juara Liga Primer di era sepakbola modern.

Dibalik kegembiraanku, masih terasa sedih, ….. tidak bisa menyaksikan langsung melalui televisi yang gratisan karena hak siar Liga Inggris mejadi hak mutlak Astro. Sementara itu, Lativi yang kini berubah menjadi TV-One hanya menyiarkan kesebelasan ”ecek-ecek” dan itupun lebih banyak siaran tunda. Hm.., ironis memang, hampir separuh lelaki di Indonesia (walau belum pernah di survei, karena lembaga survei kita hanya melakukan survei terkait politik..., rating pemimpin kita dll etc..etc). adalah penggemar bola dan sebagian besar hanya menonton tv secara gratisan. Artinya..., untuk menyalurkan hobi menonton saja harus bayar..., itulah sisi kelam era globalisasi (atau bisa juga dianggap sebagai era kapitalis). Sementara jawara kapitalis sekarang ini sedang meradang karena krisis ekonomi yang disebabkan oleh kredit macet sektor perumahan. Hmmmm,...

Konsistensi dan Kejujuran

Untuk menjadi juara yang benar-benar juara, selayaknya kita mengacungkan 2 jempol kepada Manchester United. Kenapa? Banyak faktor kenapa MU begitu perkasa dan di –idol- khan oleh jutaan fans di seluruh dunia.

Pertama, adalah konsistensinya menggarap pemain muda bertalenta untuk diolah dan digarap menjadi pemain-pemain yang berkarakter juara. Sebut saja Ronaldo, Rooney yang saat ini telah menjadi ”Super Soulmate” ataupun jika melongok ke belakang, kita bisa berdecak kagum pada bintang MU yang saat ini mulai uzur namun tetap hebat seperti Paul Scholes, Ryan Giggs, atau Gary Neville. Kompilasi yang diramu oleh Sir Aleks, menjadikan MU sebuah kekuatan dashyat dan menggetarkan lawan. Dari sini kita bisa belajar dari Sir Aleks bahwa menjadi juara harus melalui perjuangan dan bukan secara instant dengan cara membeli pemain yahud tapi tidak mempunyai karakter. Sehebat apapun pelatih itu.

Kedua, adalah kejujuran. Yah..., memainkan sepak bola diranah Inggris berbeda dengan negara lain. Khususnya Indonesia. Para pengurus FA telah menjadikan sepakbola sebuah industri yang dilandasi dengan kejujuran karena dengan kejujuran maka penonton berlomba-lomba memadati stadion. Sementara di Indonesia, para pengurusnya sibuk sowan kepada ketua yang ogah mengundurkan diri dari jabatannya walaupun FIFA dan AFC sudah mendesaknya. Ck ck ck...

Sekali lagi, selamat kepada MU.

Selanjutnya.."JUARA ADALAH JUARA"
Image hosted by servimg.com

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP