Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Terimakasih Indonesia….

Jumat, Januari 16

Beberapa pekan terakhir kita disajikan berita tentang penyerangan brutal Israel atas anak-anak dan perempuan Palestina. Entah karena sudah jengkel atas tindakan Hamas yang sering mengirim pesan dengan roket-roketnya yang mendarat manis di tanah terjanji dan memerahkan muka para pemimpin zionis itu, lalu mereka membabi buta mencari sumber-sumber peluncuran roket pejuang Hamas. Entah karena sudah buta hati, sehingga mereka secara rela hati menembakkan segala macam peledak dan amunisi ke pelbagai sudut tanah Palestina.

Konflik berkepanjangan itu ternyata disahuti oleh masyarakat Indonesia yang peduli akan keadilan dan kedamaian. Awalnya..saya merasakan miris dan was-was atas konflik itu. Kenapa…, aksi bengis Israel itu dilampiaskan dengan berbagai aksi unjuk rasa dengan membawa nama Islam bahkan membawa bendera partai segala. Seolah perjuangan Palestina adalah perjuangan Islam melawan Yahudi.

Padahal…, sejak awal konflik di Palestina berawal dari pertikaian politik dan keadilan namun dalam perkembangannya direduksi menjadi konflik agama. Hal tersebut ditegaskan oleh Farisz Al Mehdavi (Duta Besar Palestina untuk Indonesia) pada 14 Januari 2009 dalam diskusi “DERITA PALESTINA, AIR MATA KITA” di Universitas Paramadina. Dalam diskusi itu, sang Dubes menyatakan pula bahwa bangsa Palestina tidak mempermasalahkan latar belakang agama seseorang karena Islam, Kristen dan Yahudi di Palestina sudah hidup berdampingan dengan damai ribuan tahun lalu. Ditekankan pula oleh Mr. Farisz Al Mehdavi bahwa titik penyelesaian konflik Palestina adalah secara politis dan agama bisa berperan sebagai katalisator namun dengan tetap pada keputusan politik. Secara khusus, dubes meminta dukungan kepada bangsa Indonesia untuk perdamaian di Palestina berdasarkan keadilan.

Apa yang dinyatakan oleh dubes sungguh tepat dan menjadi landasan kita untuk bersikap bahwa konflik di Jalur Gaza bukan konflik agama melainkan konflik politik. Untunglah…, kita sebagai bangsa yang majemuk segera tanggap dan memahami sebenarnya. Konflik di Gaza adalah murni tragedi kemanusian, murni tragedi kebengisan yang dilakukan oleh negara Israel atas bangsa Palestina.

Terima kasih Indonesia. Sikap dan langkah yang arif telah menyelamatkan bangsa ini dari pelebaran dan peluasan konflik di Timur Tengah.

Sebagai bahan perenungan:
Kasus yang nyaris serupa, bangsa Kurdipun diceraiberaikan oleh bangsa Turki dan Irak (jamannya om Saddam Husein).

Selanjutnya.."Terimakasih Indonesia…."

BERPIKIR ANARKIS

Selasa, November 25

Saat membaca situs berita kesayangan saya yakni kompasdotcom, saya terperanjat atas beritanya. Adam Malik ternyata agen CIA. Entah berita bohong atau sensasi belaka namun fakta berita mengatakan demikian. Saya memang belum membaca buku karangan Tim Weiner (jurnalis New York Times) yang terjemahan dalam bahasa Indonesianya ”Membongkar Kegagalan CIA”. Sama terperanjatnya dengan saya adalah Jusuf Kalla yang langsung mengomentari bahwa tidak mungkin Adam Malik menjadi agen asing. Namun komentar sebaliknya dilontarkan oleh Muladi (Gubernur Lemhanas) yang menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan pejabat negara menjadi agen asing terlebih jika oknum warga negara itu memiliki nasionalisme rendah dan tergiur dengan uang.

Atas dilansirnya fakta berita tentang Adam Malik, kita sebagai warga negara menjadi bingung. Pahlawankah Adam Malik jika memang terbukti ??. Bisa jadi gelar pahlawannya segera diralat bahkan dicabut, buku-buku sejarah akan mengalami revisi. Belum lagi, akan ditaruh dimana harga diri dan kehormatan keluarga Adam Malik. Menarik untuk ditunggu kinerja aparat intelijen, kepolisian, sejarahwan dalam membuktikan fakta berita menjadi fakta sesungguhnya.

Bersukurlah PKS yang telah menghentikan tayangan iklan politik tentang pahlawan dan guru bangsa dimana salah satu tokohnya adalah Suharto. Dalam kasus perseteruan Komunis vs Nasionalis (TNI) pada era 60-an yang diakhiri dengan tragedi G 30 S – PKI, menyebutkan nama Suharto sebagai didikan CIA. Sejarah menyatakan bahwa saat itu perseteruan KGB vs CIA terjadi di seluruh dunia termasuk di kawasan Asia Tenggara. Tuduhan Suharto sebagai didikan CIA boleh jadi benar bila dikaitkan dengan aksi tutup mata Amerika atas proses intergrasi Timor Leste ke Indonesia. Proses pembiaran itu berlarut-larut hingga kepentingan Amerika di Indonesia tak lagi menjadi prioritas utama. Dan lahirlah orde reformasi.

Kembali ke masalah buku. Bisa jadi setelah munculnya buku itu, pemerintah dan DPR akan segera mengesahkan UU Rahasia Negara dan UU Intelijen. Ada unsur kebetulan dalam hal ini. Tapi..., sepertinya kok ya pas. Ada berita pahlawan yang menjadi agen asing eh..., pemerintah dan DPR akan kembali menggodok UU itu. Sebetulnya UU tentang Rahasia Negara dan UU Intelijen ditentang oleh berbagai kalangan. Seperti LSM lokal, LSM yang memperoleh dana dari luar negeri, kalangan pers, kalangan politisi dan kalangan lainnya. Salah satunya adalah Munir. Tentunya mereka yang menentang UU rahasia negara bukan merupakan agen asing. Repot dong kalau dinyatakan begitu.

Memang, UU rahasia negara sangat riskan bagi pelaku pers seperti saya. Bagaimana tidak, sesuatu yang dianggap rahasia bisa berlaku karet. Dan hukumannya setimpal. Seperti halnya pasal karet di UU APP dimana klasifikasi berpornoaksi dan berpornografi tergatung cara pandang dan cara berpikir masing-masing pemilik mata dan pikiran.

Di belahan dunia sana, tepatnya di Iran, pemerintahannya sangat serius mengatur warga negaranya untuk tidak menjadi agen asing. Hukumannya sangat jelas. Yakni hukuman gantung. Itu terjadi beberapa hari lalu saat ada warga negara menjadi mata dan telinga Israel. Lalu bagaimana dengan negara kita. Beranikah negara ini melakukan hal yang sama dengan Iran. Tanpa kompromi membasmi penjual rahasia negara. Untuk yang satu ini saya setuju bila ada penghianat bangsa dihukum mati. Ini buah pikiran saya yang anarkis, yang mencintai negara ini apa adanya.

Selanjutnya.."BERPIKIR ANARKIS"

Congratulations Barry !!!!

Kamis, November 6


Kemenangan Obama bukan saja kemenangan pemilih muda dan politikus muda Amerika Serikat saja melainkan kemenangan bagi siapa saja yang merindukan perubahan. Kemenangan Obama kini menginspirasi siapa saja dan dimana saja. Lalu apa saja yang dilakukan oleh Barack Obama seusai memenangkan pemilihan presiden AS. Mr. President itu langsung disibukkan dengan sejumlah persiapan penyusunan pemerintah baru serta berurusan dengan sejumlah masalah besar yang akan diwarisinya saat resmi bertugas sebagai orang nomor 1 di AS dalam waktu 10 pekan mendatang. Sebagai presiden terpilih, Obama mendapatkan pengarahan dari sejumlah pejabat intelijen.

Menarik memang langkah yang dilakukan oleh Obama tersebut. Langsung bekerja tanpa menunggu pembentukan kabinet. Karena memang menang melalui 1 partai. Bukan kemenangan koalisi partai. Jika di negara kita, sang presiden belum bisa langsung bekerja karena harus menyusun kabinet yang didukung oleh partai politik anu, itu, ini dan ono. Susah yah presiden kita. Atau aturan yang menyusahkan kita memilih presiden??? ..


Selanjutnya.."Congratulations Barry !!!!"

Sumpah-mu mana-Pemuda

Selasa, Oktober 28

Sebelum terlambat, saya ucapkan kepada yang merasa pemuda dan pemudi Indonesia. Selamat Sumpah Pemuda. Hanya saja dengan penekanan seperti judul di atas. Sumpah-mu mana-Pemuda. Satu Nusa Satu Bangsa dan Satu Nusa Satu Bahasa tak lagi menjadi unsur perekat bangsa yang kini nyaris tercabik-cabik. Bangsa kita pernah menjadi macan asia kini menjadi macan ompong. Tak bergigi dan bernyali. Mendengar meongan negara tetangga saja sudah resah. Kenapa bangsa ini begitu rapuh. Begitu mudah diadu domba.

Betapa mudahnya bangsa ini mencari kambing hitam atas persoalanan yang terjadi. Karena salah kebijakanlah, salah urus negaralah, salah memilih pemimpinlah. Semuanya dipolitisasi. Maklum..., tahun depan ada pilpres. Mari ..lupakan sejenak masalah perbedaan politik. Mari ..lupakan perbedaan agama, suku, etnis maupun golongan.

Seperti sumpah pemuda dulu, menyatukan beribu perbedaan menjadi satu tautan kesamaan, membangun negeri ini dengan caranya masing-masing. Membangun negeri ini menjadi tempat yang harmonis dan damai. Negeri yang aman dan tentram.

Sumpah-mu Pemuda, semoga berlanjut.

Selanjutnya.."Sumpah-mu mana-Pemuda"

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Senin, September 29

Selanjutnya.."Mohon Maaf Lahir dan Batin"

MERDEKA

Kamis, Agustus 14


Suka atau tidak, kata MERDEKA kini menjadi hal biasa disebutkan bagi setiap orang atau kelompok dalam menyatakan kebebasannya. Atau kata MERDEKA dinyatakan oleh orang terhadap orang lain atas perbedaan pendapat atau bersikap.

Saya merasa MERDEKA, karena dalam blog ini bisa menyatakan ke-"MERDEKA"an ku tentang apa saja. namanya juga hidup di alam MERDEKA.

Bagi para artis yang kini berpaling menjadi birokrat adalah hak mereka, toh itulah wujud ke-MERDEKA-annya. Saya tidak mau ngomong kalau menjadi birokrat bagi sebagian artis adalah cara gampang mencari duit. namanya juga MERDEKA. Tapi kalau ada artis kembali tersandung kasus narkoba, bukan karena MERDEKA lalu berbuat semaunya.

Politikus yang tidak dicalonkan kembali oleh partainya, membuat mereka menjadi MERDEKA untuk berpaling ke lain partai. Sebut saja bang Yuddi dari Golkar yang sempat sewot karena peringkat ke-caleg-annya diturunkan oleh DPP Partai Golkar. Sewotnya sih cuma sebentar, karena PDI-P, Hanura dan Gerindra dengan MERDEKA melamar sang vokalis dari Golkar itu untuk menyebrang haluan. Khan sudah MERDEKA dari Golkar.

Dalam waktu dekat juga, Amrozi cs akan MERDEKA dengan meninggalkan hal duniawi yang direnggut ke-MERDEKA-an duniawinya oleh sang sniper. Jadi inget kata penyemangat Bung Tomo yang me-MERDEKA-kan Surabaya dari londo. MERDEKA atau mati.

MERDEKA pantas dipekikkan bagi narapidana yang akan mendapat remisi dari pemerintah dalam rangka keMERDEKAan bangsa ke-63. Sayang, muncul wacana narapidana kasus korupsi dan narkoba tidak akan mendapatkan remisi itu. Hmmm, memang sudah sepantasnyalah jika koruptor dan bandar narkoba direnggut ke-MERDEKA-annya.

Pekik MERDEKA semakin digelorakan oleh para politikus muda maupun tua. Mereka berlomba dan berpacu dengan waktu merebut simpati rakyat bahwa partai merekalah yang paling bisa memahami kesengsaraan rakyat. Padahal politikus muda mapun tua sama saja. Mereka dibentuk oleh patron "jika ingin kaya, jadilah politikus".

Di ujung perayaan ke-MERDEKA-an.., saya hanya bisa mengucap MERDEKA. Karena dengan mengucapkan MERDEKA saya bisa merasa MERDEKA, apalagi ada yang mau komentarin posting MERDEKA.

MERDEKA atau tidak MERDEKA...., mari merayakan ke-MERDEKA-an bangsa. MERDEKA.

Selanjutnya.."MERDEKA"

WAJAH KITA ...........

Selasa, Juni 17

Ini berita paling menarik. Pihak imigrasi Jakarta Barat “berhasil” menahan warga Taiwan yang menyalahi peraturan keimigrasian. Katanya lagi, selidik punya selidik, ada indikasi warga Taiwan itu seoramg intel yang berhasil menyusup. Wah..., kalau memang benar Hsieh Chuan Yuan itu intel dari Taiwan gaswat juga ya.


Jadi mikir neeeeh, Hsieh Chuan Yuan itu sudah berapa lama di Indonesia, kenapa bisa punya paspor Indonesia dan paspor Batam. Trus informasi apa saja yang berhasil dia dapatkan. Lalu apakah dia bekerja sendirian atau dalam unit kecil tapi efektif untuk mematai kehidupan negara kita. Lalu apakah dia seorang agen lapangan ataukah sebagai operatornya. Apakah dia juga berhasil membentuk jaringan informasi dari orang-orang Indonesia sendiri, bahasa kasarnya sih kaki tangan.


Dari beberapa penggal pertanyaan diatas, bila kita rangkai dalam jalinan cerita..., betapa rentannya bangsa kita disusupi agen asing. Jika menilik Hsieh Chuan Yuan itu warga Taiwan, tentunya yang dicari bukan masalah intelijen tempur karena memang kita tidak bermusuhan dengan Taiwan. Dunia sudah mengetahui bahwa kemampuan tempur kita saat ini kecil dan memilukan. Banyangkan saja, jika insiden Ambalat menjadi konflik terbuka dalam artian perang antara Indonesia dengan Malaysia, kita pasti akan kalah. Kenapa? Secara kualitas, persenjataan kita kalah jauh. Secara kuantitas..apalagi. Jika perang terbuka dijadikan semcam lomba menembakkan amunisi secara terus-menerus, Indonesia hanya mampu 16 jam saja, sementara Malaysia mampu menembakkanya selama 60 hari. Walah............ Itu baru dengan Malaysia lho.


Kembali kemasalah Hsieh Chuan Yuan, bila dia benar seorang intel, pasti informasi non-tempur yang dicari. Bisa masalah sosial, budaya, ideologi atau ekonomi. Menguasai negara lain dengan kekuatan tempur itu adalah tindakan ekstrim. Jika memang secara ekonomi dlsb tidak bisa maka militer menjadi alternatif terakhir walaupunujung-ujungnya ekonomi juga. Lihat saja Irak, begitu Sekutu menguasai secara militer, investor minyak berlomba menyedot minyak dari perut Irak. Kepentingan ekonomi juga khan.


Memang, dalam sejarah dunia, bangsa yang besar akan menjadi lebih besar bila mempunyai musuh bersama bagi segenap rakyatnya. Bila Amerika dan belahan dunia barat lainnya menganggap terorisme dan mandegnya pertumbuhan ekonomi menjadi musuh bersama maka solusinyanya ya menaklukkan musuh itu.


Kalau negara kita? Katanya sih musuh kita adalah kebodohan dan kemiskinan. Nyatanya angka kemiskinan malah semakin bertambah. Kebodohan semakin nampak. Banyangkan, berapa puluh ribu siswa SMA kita yang tidak lulus UN. Itu namanya bodoh. Entah argumen apa yang mau dikemukakan, yang namanya tidak lulus ya bodoh. Padahal UN alah program nasional...jadi??????


Masalah menangkal infiltrant yang berencana masuk ke wilayah kita sangat susat. Bayangkan saja berapa panjang pantai kita, belum lagi infiltrant dari perbatasan darat. Contoh kecil adalah di Kepulauan Riau. Berata ratus pelabuhan rakyta yang harus diawasi aparat kita, belum lagi jika aparat kita melakukan proses pembiaran karena alasan ekonomi. Walah....


Malayasia yang selalu mengedepankan spirit ASEAN dan negara serumpun bila berbenturan dengan Indonesia paling getol melakukan penyusupan dan pembentukan kaki tangan di perbasatasan. Maklum sajalah, dalam dunia militer orang-orang di perbatasan sangat baik untuk dijadikan mata telinga. Ga perlu tehnologi satelit guna mendeteksi pergerakan lawan, cukup dengan telepon satelit..., beres.


Yang paling gress adalah proses pembiaran pihak Deplu terhadap pembanguan helipad yang jaraknya Cuma 7 meter dari perbatasan. Dan parahnya lagi..., helipad itu katanya digunakan untuk survey bersama. Aneh ya..., masa Dephankam ga tau sih.... Gila bener, trus kalau rapat kabinet para mentri ngapain aja???? Mikirin masa depan bangsa ga sih? Atau cuma mikirin masa kini. Jangan-jangan orang Deplu yang bertugas di LN telah diperilhara dan digalang untuk menjadi kaki tangannya bila sudah menjadi pejabat Deplu. Eh...., Menlu kita pernah tugas di Kuala Lumpur nggak ya????


Saya jadi teringat pernyataan mantan ketua KPK, untuk memperbaiki kondisi bangsa harus secara ekstrim dan dipegang oleh pemimpin yang tegas dan mungkin saja diktator, karena di negara Indonesia sudah bad people with bad system. Walah.............. walah.............

Selanjutnya.."WAJAH KITA ..........."

TOLERANSI…..

Rabu, Juni 11

Saat ini istilah TOLERANSI menjadi sangat bermakna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia yang didiami oleh lebih 200 juta jiwa dari berbagai suku, etnis, agama, budaya, dan golongan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang diuji kesabarannya guna menghadapi permasalahan yang sepertinya tidak pernah ber-ujung penyelesaian.

Setelah SKB Tiga Menteri terkait Ahmadiyah terbit, semua diajak TOLERANSI. Pihak FPI dan yang lainnya diminta untuk TOLERANSI dengan tidak melakukan kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah. Mereka yang menuntut pembubaran Ahmadiyah nampaknya kurang puas dengan kebijakan pemerintah yang hanya menerbitkan SKB. Tuntutannya sih pembubaran Ahmadiyah dan itu harga mati. Mereka sedikit bersabar sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ahmadiyah terkait SKB itu karena menganggap bahwa SKB adalah embrio terbitnya Keppres pembubaran Ahmadiyah. Yah..., penistaan terhadap agama memang tidak bisa di TOLERIR..., hanya caranya jangan disikapi dengan kekerasan. Lebih elegan kalau menggunakan jalur hukum. Jadikan hukum sebagai panglima. Bukan mentang-mentang jago hukum lalu beralih menjadi panglima. Walah......

TOLERANSI juga harus datang dari penganut Ahmadiyah. Jika memang menganggap sabagai penganut Islam tetapi percaya adanya nabi lain selain Muhammad SAW..., jelas itu membuat geram umat Islam. TOLERAN-nya dengan melakukan redam diri, menghindari provokasi guna menghindari perpecahan bangsa.., karena mungkin saja mereka yang bersimpati terhadap Ahmadiyah karena teraniaya menjadi sasaran berikutnya.

Pihak yang bersimpati yang tergabung dalam AKKBB juga harus TOLERANSI terhadap mereka yang menghendaki bubarnya Ahmadiyah. Walau dengan jelas disuratkan dalam UUD’45 bahwa negara menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ga perlu mengail di air yang sudah keruh...., takutnya nanti malah air keruh semakin ter-obok-obok, tumpah berantakan. Memang sih..., kita hidup dalam komunitas antar bangsa. Persinggungan kepentingan menjadi arena diplomasi guna menguasi bangsa lain. Entah kepentingan ekonomi, keamanan, politik dan ideologis. Semua itu harus ada TOLERANSI-nya. Jika memang tidak sesuai dengan karakter bangsa dan budaya bangsa, kita semua perlu segera menolaknya. Ga bisa di-TOLERIR lagi.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seharusnya dapat memberikan citra Islam yang sejati. Bukan meng-import budaya negara lain yang mayoritas penduduknya juga muslim. Ga perlu tunduk sama OPEC karena kita sudah net imported, ga perlu tunduk sama OKI karena kita negara Pancasila, ga perlu nurut sama Liga Arab karena kita bukan bangsa Arab. Islam kita adalah Islamnya Indonesia. Dan itu TOLERANSI kita terhadap dunia. Jangan-jangan setelah Ahmadiya tuntas..., giliran aliran SYAH yang jadi bidikan. Walah..., jangan mau menerima order dari asing deh. Ntar ormasnya bisa dibubarin lho.

Sekarang ini..., teman saya memberikan TOLERANSI besar terhadap hobi murah meriah. Yakni menonton siarang langsung sepakbola piala Eropa. Teman dengan sangat TOLERAN, memberikan kesempatan kepada saya untuk berteriak kegirangan saat Van Nisteelroy membelokkan arah bola dan GOLLLLL. Bahkan gol ke-2 dan ke-3 belanda yang akhirnya melumat italia juga saya teriakkan. GOLLLLL. Ale ale ale......setelah 30 tahun, Belanda tidak men-TOLERIR lagi penghinaan atas kekalahan demi kekalahan yang diderita dari Italia.


Selanjutnya.."TOLERANSI….."

SKB TIGA MENTERI .......

Senin, Juni 9

Entah karena desakan massa yang menuntut pembubaran atau karena pemerintah telah meyakini bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat , akhirnya terbit juga Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait keberadaan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI). SKB tersebut dikeluarkan berdasarkan keputusan Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. Namun ternyata isinya bukanlah membubarkan, melainkan hanya memberikan peringatan dan perintah kepada Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya. Baik dalam bentuk menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum dan melakukan penafsiran tentang suatu agama.


SKB menyebutkan 6 butir keputusan. Antara lain, "Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia, atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu, yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam.


Selain itu, penganut, anggota dan/atau anggota pengurus JAI juga diingatkan, sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam. Penyimpangan tersebut berupa penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW. Bagi penganut Ahmadiyah yang tidak mengindahkan dua butir peringatan di atas dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.


Dan yang harus digaris bawahi adalah memberikan peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketentraman kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota dan/atau anggota pengurus JAI.


Jelas bahwa pemerintah telah berlaku arif dan bijaksana terkait dengan Ahmadiyah. Pembekuan kegiatan itu harus dan perlu guna meredam gejolak yang semakin meluas seiring dengan penangkapan anggota FPI. Bak api dalam sekam, para penuntut pembubaran Ahmadiyah seolah memperoleh ruang baru atas kasus Monas untuk melakukan penekanan terhadap penguasa untuk segera menerbitkan SKB. Tekanan secara diplomatik juga dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi yang meminta agar pemerintah melarang pengikut Ahmadiyah melaksanakan ibadah haji.

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan peringatan bagi siapa saja yang menganggap bahwa SKB itu merupakan justiifikasi untuk melakukan pembubaran secara paksa dan keras terhadap aliran Ahmadiyah.



Selanjutnya.."SKB TIGA MENTERI ......."

LOGO BARU

Senin, Juni 2

Setelah mencoba dengan berbagai tampilan logo, saya baru sreg yang sekarang ini. Logo itu bergambar Mulut Menggigit Peluru. Saya rasa, logo itu pas dengan kondisi bangsa kita dimana para pemimpinnya saling “lempar kata melalui mulut bak menembakkan peluru”. Padahal kata temen kongkow saya di Palu yang ahli tentang peluru, mengatakan kalau peluru tidak pernah pilih sasaran makanya ada istilah kena peluru nyasar. Dah apesnya…, peluru mulut para pemimpin kita nyasar mengenai rakyatnya sendiri. Walah…….

Selanjutnya.."LOGO BARU"

KEBANGKITAN DAN KENAIKKAN

Selasa, Mei 20

Dua puluh Mei tahun ini, berarti Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) genap berusia seratus tahun. Lama sudah semangat kebangkitan itu menyatu dengan perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia. Mulai dari penjajahan Belanda, Jepang hingga kemerdekaan. Semuanya bersatu padu, menggelorakan semangat nasionalisme untuk menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa lain. Dan...akhirnya bangsa kita ......merdeka.

Lalu....apa yang dilakukan oleh bangsa kita dalam mengisi kemerdekaan. Sejak kita merdeka, beberapa periode pemerintahan telah dilalui. Dari mulai presiden seumur hidup (Sukarno), presiden yang diangkat berulang-ulang (Suharto), presiden pengganti (Habibie dan Megawati), presiden seumur jagung (Abdurahman Wahid) hingga presideng pilihan rakyat (SBY).

Pergantian periode pemerintahan kita baru 1 kali berjalan mulus, yakni saat pemilu 2004 dimana presiden kita dipilih oleh rakyat. Bukan oleh yang mewakili rakyat yang mengatasnamakan rakyat, menggunakan uang rakyat hingga rakyat melarat. Selebihnya adalah pergantian periode yang berdarah-darah dan meluluh lantakkan semua aspek kehidupan yang saat ini masih kita rasakan.

Hingga seratus tahun kebangkitan nasional, kita masih juga digiring ke dalam sekat-sekat ideologis kebangsaan. Nasionalisme atau Islam. Jika pilihan kita adalah nasionalisme, maka semuanya merasakan bahwa kita berada dalam satu rumah besar yakni rumah Indonesia. Rumah besar yang berisi kumpulan berbagai komunitas masyarakat yang merasa nyaman tinggal di Indonesia dan bersama-sama memperindah rumah Indonesia. Rumah besar yang terdiri dari banyak kamar berstatus otonomi..., yang setiap kamar boleh digunakan secara bebas namun tetap bertanggung jawab kepada rumah induk.

Lalu..kalau pilihan yang satunya ...??????

Di era kebangkitan ini, kita miris dengan banyaknya modal asing yang masuk ke segala lini kehidupan. Banyak BUMN kita sudah dilego oleh pemerintah dan masih akan ada lagi. Kata pejabat kita..., ”apa bedanya modal itu milik Aseng atau Asing”..., kalau menguntungkan..why not. Bukan main.

Menurut kabar burung.., saat pemerintahan Gus Dur, banyak LSM yang mendapatkan dana asing untuk mematai-matai negerinya sendiri. Jika pemodal asing sudah mendapatkan restu istana, maka LSM ”bergerak”. Tidak heran jika saat itu kalangan LSM mendapat tempat di istana.

Kalau jaman Megawati dan SBY, banyak LSM tidak mendapatkan dana asing karena banyak pejabat yang mendapat dana asing. Kasus paling menarik adalah NAMRU. Untuk menghentikan status kekebalan diplomatik kepada staf NAMRU saja kita harus berlama-lama. Saya jadi ingat..., pada awal 70-an, Suharto pernah mencanangkan swasembada beras (pangan), dan itu hampir tercapai. Anehnya..., tidak lama kemudian terjadi wabah hama wereng melanda di semua sentra pangan kita. Trusss, saya jadi berfikir..., NAMRU ngapain aja ya. Menolong atau merongrong.

Sayangnya, momentum kebangkitan nasional kita akan diberi kado istimewa oleh SBY-JK, yakni rencana kenaikkan harga BBM. Jika kita mau berbicara jujur, sebetulnya pemerintah kita benar. BBM harus disesuaikan dengan harga pasar internasional walau kenaikan itu akan memberikan efek domino di segala aspek kehidupan. Semuanya akan menyesuaikan harga BBM. Yah..., kebangkitan kita disambut kenaikkan. Semuanya akan serba naik.

Selanjutnya.."KEBANGKITAN DAN KENAIKKAN"
Image hosted by servimg.com

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP