Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan

Plis Deh ......

Sabtu, November 8



Selanjutnya.."Plis Deh ......"

Ada Apa Dengan Bulan Nopember

Jumat, Oktober 31


Bagi sebagian besar warga bangsa sudah tidak asing lagi dengan bulan ini. Pada bulan itu, masyarakat merayarakan 10 Nopember sebagai hari pahlawan. Namun agenda nasional tersebut nampaknya akan bertambah satu lagi. Itupun bila pemerintah jadi mengeksekusi Amrozi cs, pelaku bom Balu I pada November ini.

Seperti diketahui, Amrozi cs setelah melakukan persidangan yang panjang dan melelahkan akhirnya divonis mati. Selesai? Belumlah. Pengacara terpidana mati melakukan daya upaya sekuat tenaga memenanggkan kliennya. Entah PK, atau apalah namanya.

Manuver lainnya adalah uji materiil atas hukuman mati tersebut yang dianggap tidak manusiawi, melanggar HAM bla bla bla. Alasannya bila rentetan tembakan para sniper ke sasaran utama (jantung) tidak menewaskan terpidana maka komandan sniper menembakkan pistolnya ke kepala. Melanggar HAM kah itu?? Tidak manusiawi kah itu. Bandingkan saja kelakuan terpidana mati itu. Melanggar HAM kah melakukan peledakan bom? Manusiawikah meledakkan bom itu? Berapa ratus para istri, suami, anak dan handai tolan yang kehilngan para istri, suami, orangtua dan keluarga. Belum lagi efek domino dari teror bom itu telah meluluh lantakkan industri pariwisata Bali.

Tim pengacara sepertinya berupaya memperpanjang kemerdekaan terpidana mati dengan bermanuver mewacanakan hukuman pancung. Padahal sudah jelas tidak ada dalam aturan hukum.

Terkait situasi dan kondisi bangsa, berbagai negara sempat mengeluarkan Travel Warning agar warga negaranya tidak bepergian ke Indonesia. Dengan strategi bebas visa pula, toh masih saja susah mendatangkan wisatawan asing. Beginilah kalau negara sendiri dijadikan medan jihad dan bukan medan kedamaian dan keharmonisan. Lebih baik melakukan jihad di irak dan Afganistan. Sudah jelas musuhnya...Amerika. Bukan di negara sendiri.

Selanjutnya.."Ada Apa Dengan Bulan Nopember"

PAHLAWAN DAN PECUNDANG

Senin, Juni 9

Saat sekarang ini…, saya menghindarkan diri untuk melihat TV pada pagi hingga malam hari. Kenapa???, karena tayangan yang itu-itu saja. Mulai dari varety show, sinetron hingga berita. Semuanya serba sama. Tidak ada yang berbeda. Semuanya berlomba mencari rating dengan materi yang nyaris sama. Bedanya adalah stasion tv mana yang lebih dulu menyiarkan. Hmmmmm.


Yang paling saya hindari dari tayangan selama satu minggu terakhir adalah berita. Kenapa????, ya karena beritanya membuat saya tak habis pikir. Semua menayangkan aksi balas membalas, keras dibalas keras. Apel ormas dibalas dengan apel ormas. Bukan day per day lagi melainkan hour to hour. Seolah negara ini akan menghadapi kerusuhan sosial. Memang sih..., masyarakat harus diberi wawasan terkini seputar permasalahan nasional yang dihadapi bangsa ini. Cuma..., kemasan yang dibuat oleh stasion sedikit banyak telah membingungkan masyarakat.


Tapi ..., dengan tayangan berita itu minimal saya menjadi tahu siapa FPI itu. Saya juga menjadi tahu siapa saja yang mendukung FPI, walau itu juga masih kulitnya doang. Nggak ada tayangan berita mengulas secara mendalam siapa dibalik FPI, yang menggerakkan FPI, yang mendanai FPI. Selain bergerak dalam bidang dakwah anti kemaksiatan, apakah juga FPI mempunyai bidang usaha lain.


Pernah saya cari di google dengan mengisikan kata FPI. Walahhhh, informasi yang saya peroleh adalah aksi kekerasan dan kekerasan. Kalaupun bukan aksi kekerasan berupa informasi tentang dakwah yang intinya memperbolehkan tindakan anarki terhadap ”obyek” jika pemerintah lamban menyikapi tuntutan mereka.


Banyak kalangan yang menganggap penanganan terhadap FPI adalah diskriminasi dengan tidak melakukan hal yang sama dengan AKKBB. Padahalnya yang disikapi oleh pemerintah adalah aksi kekerasannya, terlepas ada provoktaronya. Jika memang tuduhan ada provokator, seorang tokoh LSM mengatakan salahnya sendiri mau terprovokasi hingga melakukan aksi kekerasan. Anehnya lagi, kekerasan itu dipimpin oleh salah satu pejuang hukum yang kini ”ngacrit” entah kemana?, main petak umpet.


Ada yang bilang bahwa Munarman ”dihabisi” untuk memutuskan jaringan informasi. Karena semua mungkin tahu kalau untuk ”mengorek” sang habib sangat susah bahkan nyaris mustahil. Beda kalau Munarman ikut diciduk, mungkin sedikit lebih mudah mendapatkan keterangan. Entah siapa yang berada di belakang Munarman. Kita juga tidak tahu.., kenapa yang bersangkutan dipecat dari YLBHI dan bergabung ke FPI. Padahal ”domain” YLBHI adalah hukum untuk semua yang teraniaya secara sosial, ekonomi, politik, hukum dan keamanan. Kenapa dalam sekejap bisa melupakan domain itu. Saya jadi ingat permainan waktu masih kecil dulu. Permainan jalangkung ......”Datang tak diundang...., pulang tak diantar”. Jadi komen dikit neh. Sang habib bisa saja jadi pahlawan. Kalau yang itu .......??? Tak lebih jadi pecundang.

Selanjutnya.."PAHLAWAN DAN PECUNDANG"

1 JUNI 2008

Senin, Juni 2

Hari minggu, 1 Juni 2008, saya sengaja tidak kemana-kemana. Melulu buat nongkrongin TV. Selain karena penyakit malas sedang melanda. Dengan tidak kemana-kemana, saya bisa lebih memanjakan diri, berleha-leha. Maklumlah, di kota Palu untuk urusan bersantai cuma ada 2 pilihan, ke pantai atau minum kopi bareng-bareng di kedai kopi, membicarakan isu politik lokal. Mungkin suatu saat saya akan menuliskan budaya minum kopi di Palu. Kembali ke masalah memalaskan diri, bukan berarti ikut anjuran pemerintah agar rakyat menjadi malas karena sudah diberi makan seperti tudingan Mbak Mega. He he he

Terkait dengan masalah TV. Saya paling usil dalam urusan remote TV. Nggak pernah berlama-lama di satu salauran. Pindah sana pindah sini. Pernah saya mengejar tanyangan infotainment tentang Sandra Dewi. Mulai dari RCTI hingga TV One semuannya memberitakan, dengan materi yang itu-itu aja.

Nah.., pas hari minggu 1 Juni 2008 kemarin, saya terkaget-kaget. Semua TV swasta nasional menayangkan adegan smackdown ala FPI terhadap Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), cuma yang kemarin itu lebih komplit. Komplitnya dengan menggunakan tongkat, kayu plus pengeras suara. Jika smackdown hanya adegan bo’ongan, yang dilakukan oleh massa yang ber-atribut FPI benar-benar ”LIVE” dan tanpa skenario. Bukan main serunya.

Serunya adalah…, saya bisa menyaksikan tayangan smackdown itu dari berbagai stasiun swasta dengan berbagai sudut pengambilan gambar. Lebih makin seru lagi karena 1 orang dari AKUKBB di-smackdown puluhan orang dari …… Jika itu adalah benar-benar skenario maka tayangannya tidak akan lolos sensor dan akan mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia karena menayangkan adegan kekerasan. Lha kalau yang melakukan kekerasan, siapa yang negur? Emang selama ini ada yang negur mereka?...,

JANJI AKAN

Saya jadi senyum simpul saat membaca di media on line kesayangan saya, kompas.com dan korantempo.com dimana Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira menegaskan bahwa Polri akan menindak tegas siapa pun yang melakukan kekerasan. Lha.., aparat kok hanya berjanji “akan” menindak tegas. Sudah saatnya polisi menjadikan TV sebagai alat bukti, jangan tunggu laporan dari yang merasa dirugikan. Dibayar buat mengamankan kok malah berjanji “akan”.

Imbas dari tayangan itu ditanggapi beragam oleh sejumlah pihak dan umumnya mengutuk aksi kekarasan yang dilakukan, seperti datang dari Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Malik Haramain yang mengatakan jika pemerintah tidak bertindak tegas dengan memproses hukum para pelaku kekerasan, Ansor bersama elemen lain seperti Garda Bangsa akan membubarkan FPI. Gawat nehhh.

JIKA TIDAK SIAP PERANG, JANGAN MENANTANG

Sementara itu, Komandan Komando Laskar Islam, Munarman nampaknya mengamini saja penyerangan dengan kekerasan terhadap massa Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dilakukan sejumlah ormas Islam karena AKKBB dianggap mendukung Ahmadiyah. Katanya, "Kenapa mereka mengadakan aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB juga memasang iklan di koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang," .

Alasannya lagi, Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) telah memutuskan Ahmadiyah sebagai organisasi yang sesat dan menyesatkan maka organisasi itu layak disebut organisasi kriminal. Padalah SKB menteri terkait Ahmadiyah belum juga dikeluarkan oleh pemerintah. Saya jadi mikir nehhh. Belum ada SKB saja sudah menyerang massa yang dianggap membela Ahmadiyah. Bagaimana nanti bila SKB itu betul dikeluarkan, maka bisa saja SKB merupakan justifikasi untuk melakukan pembantaian sesama manusia oleh sesama. Itu sama saja negara melakukan peluang terjadinya pembantaian. Bener ga argumen saya..?

Harapan saya sih…, Ahmadiyah bubar dengan alami saja. Bina pengikut mereka, ajak dan rangkul ke dalam akidah yang benar dengan rasa sayang sesama Umat Islam. Kebebasan beragam dan berkeyakinan toh tidak harus merusak akidah. Semoga......

Selanjutnya.."1 JUNI 2008"
Image hosted by servimg.com

  © Blogger Template News Kidding On The Blog by Bagus Pras 2010

Back to TOP