Ada Apa Dengan Bulan Nopember
Jumat, Oktober 31

Bagi sebagian besar warga bangsa sudah tidak asing lagi dengan bulan ini. Pada bulan itu, masyarakat merayarakan 10 Nopember sebagai hari pahlawan. Namun agenda nasional tersebut nampaknya akan bertambah satu lagi. Itupun bila pemerintah jadi mengeksekusi Amrozi cs, pelaku bom Balu I pada November ini.
Seperti diketahui, Amrozi cs setelah melakukan persidangan yang panjang dan melelahkan akhirnya divonis mati. Selesai? Belumlah. Pengacara terpidana mati melakukan daya upaya sekuat tenaga memenanggkan kliennya. Entah PK, atau apalah namanya.
Manuver lainnya adalah uji materiil atas hukuman mati tersebut yang dianggap tidak manusiawi, melanggar HAM bla bla bla. Alasannya bila rentetan tembakan para sniper ke sasaran utama (jantung) tidak menewaskan terpidana maka komandan sniper menembakkan pistolnya ke kepala. Melanggar HAM kah itu?? Tidak manusiawi kah itu. Bandingkan saja kelakuan terpidana mati itu. Melanggar HAM kah melakukan peledakan bom? Manusiawikah meledakkan bom itu? Berapa ratus para istri, suami, anak dan handai tolan yang kehilngan para istri, suami, orangtua dan keluarga. Belum lagi efek domino dari teror bom itu telah meluluh lantakkan industri pariwisata Bali.
Tim pengacara sepertinya berupaya memperpanjang kemerdekaan terpidana mati dengan bermanuver mewacanakan hukuman pancung. Padahal sudah jelas tidak ada dalam aturan hukum.
Terkait situasi dan kondisi bangsa, berbagai negara sempat mengeluarkan Travel Warning agar warga negaranya tidak bepergian ke Indonesia. Dengan strategi bebas visa pula, toh masih saja susah mendatangkan wisatawan asing. Beginilah kalau negara sendiri dijadikan medan jihad dan bukan medan kedamaian dan keharmonisan. Lebih baik melakukan jihad di irak dan Afganistan. Sudah jelas musuhnya...Amerika. Bukan di negara sendiri.
PAHLAWAN DAN PECUNDANG
Senin, Juni 9
Saat sekarang ini…, saya menghindarkan diri untuk melihat TV pada pagi hingga malam hari. Kenapa???, karena tayangan yang itu-itu saja. Mulai dari varety show, sinetron hingga berita. Semuanya serba sama. Tidak ada yang berbeda. Semuanya berlomba mencari rating dengan materi yang nyaris sama. Bedanya adalah stasion tv mana yang lebih dulu menyiarkan. Hmmmmm.
Yang paling saya hindari dari tayangan selama satu minggu terakhir adalah berita. Kenapa????, ya karena beritanya membuat saya tak habis pikir. Semua menayangkan aksi balas membalas, keras dibalas keras. Apel ormas dibalas dengan apel ormas. Bukan day per day lagi melainkan hour to hour. Seolah negara ini akan menghadapi kerusuhan sosial. Memang sih..., masyarakat harus diberi wawasan terkini seputar permasalahan nasional yang dihadapi bangsa ini. Cuma..., kemasan yang dibuat oleh stasion sedikit banyak telah membingungkan masyarakat.
1 JUNI 2008
Senin, Juni 2
Hari minggu, 1 Juni 2008, saya sengaja tidak kemana-kemana. Melulu buat nongkrongin TV. Selain karena penyakit malas sedang melanda. Dengan tidak kemana-kemana, saya bisa lebih memanjakan diri, berleha-leha. Maklumlah, di Terkait dengan masalah TV. Saya paling usil dalam urusan remote TV. Nggak pernah berlama-lama di satu salauran. Pindah
Nah.., pas hari minggu 1 Juni 2008 kemarin, saya terkaget-kaget. Semua TV swasta nasional menayangkan adegan smackdown ala FPI terhadap Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), cuma yang kemarin itu lebih komplit. Komplitnya dengan menggunakan tongkat, kayu plus pengeras suara. Jika smackdown hanya adegan bo’ongan, yang dilakukan oleh
Serunya adalah…, saya bisa menyaksikan tayangan smackdown itu dari berbagai stasiun swasta dengan berbagai sudut pengambilan gambar. Lebih makin seru lagi karena 1 orang dari AKUKBB di-smackdown puluhan orang dari …… Jika itu adalah benar-benar skenario maka tayangannya tidak akan lolos sensor dan akan mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia karena menayangkan adegan kekerasan. Lha kalau yang melakukan kekerasan, siapa yang negur? Emang selama ini ada yang negur mereka?...,
JANJI AKAN
Saya jadi senyum simpul saat membaca di media on line kesayangan saya, kompas.com dan korantempo.com dimana Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira menegaskan bahwa Polri akan menindak tegas siapa pun yang melakukan kekerasan. Lha.., aparat kok hanya berjanji “akan” menindak tegas. Sudah saatnya polisi menjadikan TV sebagai alat bukti, jangan tunggu laporan dari yang merasa dirugikan. Dibayar buat mengamankan kok malah berjanji “akan”.
Imbas dari tayangan itu ditanggapi beragam oleh sejumlah pihak dan umumnya mengutuk aksi kekarasan yang dilakukan, seperti datang dari Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Malik Haramain yang mengatakan jika pemerintah tidak bertindak tegas dengan memproses hukum para pelaku kekerasan, Ansor bersama elemen lain seperti Garda Bangsa akan membubarkan FPI. Gawat nehhh.
JIKA TIDAK SIAP PERANG, JANGAN MENANTANG
Sementara itu, Komandan Komando Laskar Islam, Munarman nampaknya mengamini saja penyerangan dengan kekerasan terhadap
Alasannya lagi, Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) telah memutuskan Ahmadiyah sebagai organisasi yang sesat dan menyesatkan maka organisasi itu layak disebut organisasi kriminal. Padalah SKB menteri terkait Ahmadiyah belum juga dikeluarkan oleh pemerintah. Saya jadi mikir nehhh. Belum ada SKB saja sudah menyerang
Harapan saya sih…, Ahmadiyah bubar dengan alami saja. Bina pengikut mereka, ajak dan rangkul ke dalam akidah yang benar dengan rasa sayang sesama Umat Islam. Kebebasan beragam dan berkeyakinan toh tidak harus merusak akidah. Semoga......
